Kairo: Ekor Anjing tak Bisa Lurus

 Kairo: Ekor Anjing tak Bisa Lurus

Kairo, dari Benteng Salahuddin al Ayyubi (dok. pribadi)

Oleh Benny Arnas

Kairo memang berubah, tapi tidak dengan sukarela

Saya takjub bagaimana pemuda 20 tahun asal Sungai Tarab itu menjadi sangat Mesir ketika berbicara dalam bahasa Arab. Kepada orang-orang Kairo, kota yang ia pilih untuk meretas jalan sebagai azhary (sebutan untuk mereka yang belajar di Universitas Al Azhar), suaranya keras dan lantang. Mirip berteriak. Tapi, sebagaimana orang-orang setempat, pengucapannya keras, artikulasinya jelas, dan pemenggalan kata yang stakatokik memunculkan kesan marah-marah.

“Alif,” katanya. Bukan semata untuk memperkenalkan diri. Lebih dari itu, ia menggunakannya sebagai kata ganti orang pertama tunggal. “Orangtuaku bahkan tidak tahu apa arti nama lengkapku,” katanya ketika aku menyebut Hikmal Alif kedengaran cukup Arab. 

Di Kawasan Giza jelang Zuhur itu, ketika langit biru toska khidmat menaungi hamparan gurun, tempat kami—dan para pengunjung kompleks ziarah itu, Alif tak terima ketika, usai kami menunggang kuda dengan ketaknyamanan yang sukar dilukiskan begitu kami sadar, si pemandu hendak menuntut biaya tambahan di luar yang sudah kami bayarkan di muka. Meski laki-laki Mesir berkulit cokelat gelap itu berdalih bahwa itu digunakan untuk jasa pendampingan dan kutipan petugas di pintu masuk gurun, bagi kami tetaplah terdengar menyebalkan.

Mungkin karena pernah satu tahun tinggal di Yaman untuk mendalami bahasa Arab di Universitas Ar Rayyan sebelum  berdikari di lembah ilmu Bumi Kinanah, Alif mulai paham bagaimana kerasnya orang-orang Arab, baik watak maupun suaranya. Seperti lupa dengan label remaja baru saja ia tanggalkan, ia beradu argumen dengan orang-orang setempat dengan percaya diri.

“Harus gitu, Bang,” katanya ketika aku mengungkapkan perubahan karakternya dari manis ke sangar, dari tak banyak bicara ke ekspresif, dan santai ke tegang. “Mereka mungkin tidak marah, tapi itulah cara mereka agar tidak terlihat lemah,”  imbuhnya ketika kami membicarakan kesialan kami hari itu dalam perjalanan pulang dari Giza.

Saya diam. Berusaha mengingat-ingat, siapa saja kiranya anak-anak muda seperti Alif. Saya menyisir nama-nama fasilitator Benny Institute. Lalu nama-nama anak muda yang pernah terlibat dalam sejumlah proyek kreatif dengan saya. Lalu nama-nama acak yang saya keruk dari kepala. Dan gagal. Saya berhenti membongkar ingatan ketika menemukan apa yang seharusnya saya cari. Ya, saya mengutuk diri sendiri yang sibuk membanding-sandingkan orang-orang. Padahal, ketakjuban saya pada Alif adalah tentang kemampuannya untuk berubah. Dari seorang remaja Sungai Tarap yang tenang ke azhary yang secara situasional menjadi sangat Arab.

Kenapa kemampuan untuk berubah perlu di-highlights? Karena ia bukan hanya bentuk pertahanan diri yang menguntungkan. Saya tidak sedang membincangkan bagaimana Gigantopitechus alias primata raksasa yang biasa hidup di hutan harus mati berjemaah karena musim dingin yang panjang hanya memberi mereka sabana; Sultan Abdul Hamid II, yang teromantisasi oleh kemegahan Islam di masa lalu sehingga abai terhadap pendidikan bangsanya dan pertahanan yang jauh dari mumpuni, harus rela wilayah kekuasaannya dibagi-bagi Inggris setelah kekalahan Jerman, sekutunya, pada Perang Dunia I; atau Kodak yang, pada 1975 mengabaikan sistem kamera yang beroperasi secara digital oleh temuan insinyur mereka, Steve Sasson, kemudian bangkrut pada 2012 karena gagal bersaing dengan Canon dan Nikon yang lebih dulu berinovasi.

Bukan. Esai ini bukan hanya membicarakan tentang kekuatan “kemampuan berubah”. Namun, juga menyasar yang lebih dalam: siapa-yang-memiliki-apa-kah yang bisa melakukan perubahan itu?

Penelitian membuktikan bahwa sebenarnya Gigantopitehus juga memakan rerumputan. Namun, kegagalan nalarnya menyesuaikan memorinya tentang hutan lebat yang hangat membuat bangsa kera itu itu harus menyerah. Pun dengan Abdul Hamid II, yang abai pada permainan Yahudi dan Inggris, membuat Turki Usmani bergabung dengan Jerman tidak dengan kekuatan yang adaptif, tapi dengan balatentara yang masih didera dengung kekalahan terakhir mereka dari Liga Suci Eropa sehingga Hungaria, Persemakmuran Polandia-Lituania, dan sebagian Balkan Barat harus lepas dari peta kekuasaan. Dan Kodak yang membunuh ide orang dalam yang melampaui zamannya menjadi kabar buruk bagi perusahaan asal Jepang itu kurang dari tiga dekade kemudian.

Mereka yang gagal mengolah memori untuk menjadi kekuatan baru adalah orang-orang yang menafikan keajaiban intelejensia. Sebab, intelenjensia itu sendiri, dengan sederhana dan menukik, diartikan Albert Einstein, sebagai kemampuan untuk berubah. Karena perubahan adalah keniscayaan, kemampuan isi kepala manusialah yang membuat waktunya (seharusnya) bisa diatur. Cepat atau lambat. Sekarang juga atau nanti-nanti. Bagi yang visioner, untuk menghadapi dunia yang dinamis, menyegerakan perubahan adalah urusan yang tak pernah bisa ditawar, sebagaimana berlama-lama menikmati hasilnya adalah larangan yang paling kerap dilanggar oleh mereka yang terlena.

Inilah sepertinya yang diidap Kairo. Kota ini, dengan tembok-tembok besar yang memiliki tiga gerbang–Bab al-Futuh, Bab al-Nasr, dan Bab Zuwayl–yang melambangkan penaklukan, seperti berat sekali melangkah ke masa depan. Udara musim dingin yang masih berdebu dan keriuhan jalanan yang langsung mengingatkan saya pada New Delhi menjadikan kota ini situs nostalgia yang bersahabat karena segalanya bagai melambat. Namun, bagi yang ingin menjadi turis, nanti dulu. Aura Sebelum Masehi hingga kejayaan Dinasti Mamluk memang masih bisa Anda endus, namun simpan kartu kredit dan uang digital di ponsel Anda ketika berbelanja, sebab sebagian besar toko dan kedai, khususnya di pinggir jalan, hanya melayani transaksi tunai. Bagi turis yang tidak memiliki kemampuan bahasa Arab standar plus bertemu dengan pedagang yang tak peduli bahwa bahasa Inggris adalah jembatan komunikasi internasional, Anda sudah tahu apa yang akan terjadi, ‘bukan?

Kairo memang berubah, tapi waktu yang memaksanya.

Di Kairo, melankolisme, romantisme, dan sentimentalisme, dan kawan-kawannya, memerlukan Syarat dan Ketentuan. Ketika kekaguman dan cinta mengurapi, misalnya.

Taher Abu Fasha, penulis Mesir kelahiran 1908 yang tergila-gila kepada Rabi’a al-Adawiya  atau Raba’a al-Qaysiyah, seorang wanita tabi’u ttabi’in yang terkenal dengan kualitas ibadah, kezuhudan, dan ketakwaannya. Terhadap perempuan yang banyak dipuji oleh para imam pendahulu (termasuk Sufyan al-Thawri dan Ibn al-Jawzi, ahli fikih dan pengumpul hadis yang masyhur) itu, Taher menjadikan bait-bait puisi Rabi’a sebagai mata air bagi lirik-lirik lengkap  Aroftul Hawea, lagu cinta yang mengalun dari licinnya pita suara seorang Ummi Kultsum.

Ya, hanya empat dari bait-bait Araftul Hawa–dimulai dari عرفت الهوى sampai pada أحبك حبين–yang merupakan karya asli perempuan mulia kelahiran tahun 717 itu. Adapun sisanya adalah bait-bait yang disusun oleh sang penyair, dan itu terjadi saat Ummi Kultsum meminta Taher, karena ia ingin menyanyikan bait-bait karya Sayyidah Rabi’a al-Adawiya. Menyadari hanya ada empat bait–yang menurut hemat Taher bukanlah jumlah yang ideal untuk menjadi sebuah lagu, ia pun memutuskan membuat puisi terpadu darinya. Belakangan, kegeniusan Ummi Kultsum membuat orang-orang percaya (ya, harus percaya!) bahwa apabila Rabi’a al-Adawiya ingin menulis versi yang lebih panjang namun tak punya cukup waktu untuk melakukannya, ia tidak akan keberatan mempercayakan Taher untuk menyelesaikannya.

Ya, yang langka adalah kemampuan Taher Abu Fasha untuk menggabungkan bait-baitnya dengan bait-bait Rabi’a al-Adawiya sehingga lagu-puisi itu merupa karya syair solo, bukan dua orang lintas zaman “yang berkolaborasi”. Taher tak pernah menyangka, bahwa kunjungan Syekh Rizk ke toko buku ayahnya adalah pintu masuk baginya untuk menyelami cinta yang murni seperti yang perempuan itu tunjukkan sepanjang hidupnya. Tamu itu tak tahu (atau tak sadar?) bahwa ada seorang laki-laki meranjak remaja yang terpesona dengan kisah Rabi’a al-Adawiya yang tenggelam dalam cinta ilahi yang ia tuturkan. Sejak saat itu, Taher kecil tidak pernah meninggalkan buku biografi Rabi’a al-Adawiya tanpa membacanya sehingga, ketika “waktu itu tiba”, Araftul Hawa menjadi karya agung yang melampaui melankolisme, romantisme, dan sentimentalisme, dan kesan-kesan sejenis, yang ditimbulkan oleh keindahan lirik cinta pada umumnya.

Kasus lain, kita bisa melihat bagaimana Imam Syafii memilih Kairo sebagai tempat untuk merilis revisian atas hukum dan pendapatnya dalam bidang fikih atas apa yang telah ia tulis di Irak. Ya, ia adalah imam yang berani. Bayangkan, dengan terbuka ia meminta orang-orang ‘menghapuskan’ qaul qadim alias buah pikirannya terdahulu ketika ia merilis qaul jadid alias pemikiran-pemikiran terkininya di Kairo.

Laki-laki bernama Muhammad bin Idris itu tidak melihat Mesir sebagai negeri tempat ia menyerap aura Musa atau Idris yang dipilih kakeknya untuk menamai sang ayah. Ia menghabiskan waktu di Mesir untuk berkhalwat, merenungi hal-hal yang sudah ia lakukan (baca: fatwakan). Apakah semuanya sudah benar atau perlu peninjauan ulang. Benar saja, meskipun di Makkah, negeri yang sempat ia kunjungi satu tahun setelah meningalkan Bagdad, Imam Syafii menulis Kitab Ar-Risalah, namun ia memilih Kairo untuk menulis dan merampungkan pendapat-pendapat penyempurnaannya. Kutipan anonim, bahwa hanya ada dua cara untuk melakukan perubahan, “Right” dan “Again” adalah sesuatu yang terang-benderang Syafii amalkan. Baginya, Kairo, tanah yang mungkin tak pernah sang imam prediksi akan menjelma jadi kota yang ribut seperti hari ini, memberikan banyak pencerahan.

Bagaimanapun, meskipun belum ada kajian komprehensif tentang ini, pemenjaraannya oleh Pemerintahan Dinasti Abbasiyah ketika ia sedang berada di Yaman adalah sesuatu yang membangun (atau mengubah?) kepribadian sang imam. Setelah kakinya dirantai dan kerap mendapatkan cambukan rotan selama dihukum, sang imam akhirnya lolos dari hukuman mati dalam sebuah pengadilan dramatis yang dipimpin langsung oleh Khalifah Harun ar-Rasyid di Bagdad pada 806 Masehi.

Sang khalifah yang juga seorang ulama, entah bagaimana, setelah mengeksekusi para alawiyin alias keturunan Nabi Muhammad saw. jalur Imam Ali dan Sayyidah Fatimah, menguji kemampuan mufti muda itu dalam memahami al Quran, Ilmu Falak, dan Sejarah Arab. Takjub dengan kedalaman ilmu dan keluasan wawasan sang imam, Harun al Rasyid mencipta twist dalam kisah yang ia kendalikan: meminta Imam Syafii menasihatinya.

Di sinilah, babak ketujuh cerita (baca: ledakan dramatik!) itu menunjukkan pesonanya. Y, allih-alih memuji sang khalifah–sebagai upaya agar terbebas dari hukuman mati, Imam Syafii malah mengkritik pemerintahannya dengan gaya Abu Abrirrahman Thawus bin Kaisan al-Yamani, pembesar tabiin yang hidup di masa Sahabat Rasulullah (Thawus dikenal sebagai pemberi nasihat yang tak pernah berbasa-basi). Imam Syafii menyampaikan kebobrokan perangai para gubernur, termasuk menyesali betapa mudahnya sang khalifah termakan fitnah sehingga ia harus menjalani hukuman atas sesuatu yang tidak ia lakukan.

Alih-alih emosi, Harun al Rasyid malah menangis sesesunggukan, sebuah respons yang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Imam Syafii yang kerap pingsan karena hatinya begitu lembut dan rapuh oleh nasihat. Harun al Rasyid akhirnya bukan hanya membebaskan sang imam, tapi juga menghadiahinya lima puluh ribu dirham yang kemudian Imam Syafii bagikan kepada para pegawai istana.

Setelahnya, Imam Syafii memang masih berkiprah di Bagdad. Bahkan, ia membangun mahzabnya di sana, termasuk perjalanan intens bolak-balik Bagdad-Makkah-nya di tengah kerapnya perang saudara terjadi di masa Dinasti Abbasiyah. Keadaan itu, ternyata bagi sang imam, tidak ideal untuk menuliskan ilmu, hukum, atau fatwanya, terutama terkait ilmu fikih. Pada 814 (ada yang menyebutnya sebelum itu), setelah menolak tawaran Harun al Rasyid untuk menjadi hakim, sang imam memilih Kairo untuk berdikari. Di sana, ia mengajar di Fustat, di masjid yang hari ini dikenal sebagai Masjid Amr bin Ash, menuliskan mutiara-mutiara fikih dalam Al-Umm, sebelum mengembuskan nafas terakhirnya di Kairo.

Di pagi yang meninggi itu, saya dan Alif bertolak dari Darosah. Lari pagi kami kali ini, mengingat tujuannya, menjelma jadi rihlah yang religius. Setiba di Qadariah, kiri-kanan kami bagai memutar lanskap ratusan tahun silam: rumah-rumah, kompleks pemakaman, dan masjid-masjid kompak menyelimuti diri dengan debu sehingga segalanya berwarna tanah. Dua ratus meter menjelang kubah Bani Abdul Hakam, kami melihat gerobak bunga mawar tanpa penjual. “Apakah orang-orang yang berziarah ke makam sang imam selalu membawa mawar?” tanya saya ketika Alif memutuskan berjalan kaki saja karena, selain tujuan sudah dekat, jalanan tanah yang kami lewati mengambur berdebu.

Alif tidak menjawab. Ia malah menunjuk sebuah kompleks masjid di kejauhan. “Kita sudah sampai, Bang.”

Saya tersenyum, hampir dan sudah ternyata digunakan untuk fungsi yang sama ketika tujuan sudah dekat dari jangkauan langkah dan pandangan. Saya urung mengkritisi diksi yang pemuda berkulit sawo matang itu gunakan sebab perasaan gembira karena menyongsong peristirahatan terakhir imam besar itu meledak-ledak dalam dada.

Kompleks itu, ternyata tak seperti bayangan saya, tidak terlalu luas. Kalau saya bandingkan dengan Masjid Al Hidayah di Perumdam, kompleks perumahan saya di Lubuklinggau, luasnya kurang lebih sama. Yang kentara sekali adalah, bagian belakang masjid yang merupakan tempat makam sang imam berada, berdiri sebuah bangunan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari masjid–sebuah kubah dengan ornamen perahu di atasnya. Tiba-tiba saya teringat kata-kata Andri, alumnus al Azhar yang membersamai perjalanan saya ke Kairo kali ini. “Imam Syafii itu ibarat samudera. Oleh karena itu, di atas kubahnya tidak akan Abang lihat bulan, bintang atau perpaduan keduanya, melainkan sebuah perahu yang seakan-akan siap mengarungi lautan maha luas.”

Ternyata kami tiba satu jam lebih awal. Dari juru kunci yang Alif temui, seorang laki-laki tambun yang tinggal sepuluh meter di seberang gerbang masjid, kami beroleh inforasi bahwa makam sang imam baru akan dibuka pukul sembilan pagi setiap harinya. “Meski CCTV masjid ini rusak, Allah Maha Melihat,” katanya ketika Alif menanyakan kemungkinan kami bisa masuk lebih awal. Apakah dalam percakapan itu Alif membawa-bawa status hari ini sebagai hari terakhir tamu jauh dari Indonesia ini di Kairo yang mungkin bisa diberi privilege, saya lupa menanyakannya. Yang jelas, jawaban sang juru kunci membuat saya gembira karena masjid dan makam sang imam dijaga oleh ‘orang yang benar’.

***

Di Kairo, melankolisme, romantisme, dan sentimentalisme, dan kawan-kawannya, adalah urusan manusia dengan ingatan. Infrastruktur dan manusia-manusia di luar semesta kenangan  tidak mau ambil bagian. Oleh karena itu kalau manusianya adalah orang-orang Mesir, hal itu akan sulit terjadi di jalanan. Selain Syarat dan Ketentuan yang belum tentu orang nonMesir pahami, mereka juga fokus pada apa yang diyakini.

“Mereka tidak di-drive untuk menjadi baik. Mereka ada untuk menjadi benar.” Mulanya saya agak bingung mencerna kata-kata Andri sebelum kemudian  sebagian besar didi (taksi ala Kairo) dan tremco (bus ala Kairo) yang saya naiki memutar murotal. Kalaupun tidak, selalu ada Quran di atas dasbor. Tentu kurang kerjaan sekali sang sopir kalau menjadikan kitab itu sebagai pemanis pemandangan semata.

Kenyataan itu bagai maklumat bahwa Kairo berurusan dengan hal yang terang dan diyakini: firman Allah dan orang-orang yang mendengar-amalkannya. Di luar itu, apalagi kenangan dan keseruan, sungguh mereka tak mau ambil bagian. Paling tidak itu yang dapat saya sarikan ketika dua anak muda Mesir secara tak sengaja jadi teman ngobrol sebentar saya di depan gerbang Wisma Nusantara suatu pagi. “Speak english?” sapa saya ke pemuda dua puluh tahunan yang tampaknya sedang menunggu didi.

Dia tersenyum lalu melancarkan tebakan retoris tentang kewarganegaraan saya. “Orang-orang Indonesia suka tersenyum,” katanya.

“Sebab senyum adalah sedekah,” kata saya sok bijak.

Entah karena terpengaruh kata-kata saya barusan atau yang lain, pemuda yang mengaku bernama Muhammad itu tersenyum. “Kami tidak semudah kalian tersenyum.”

Tentu saja saya penasaran.

“Sama seperti mengapa orang-orang yang menggelar dagangan di Makkah malah memilih salat di tempat, bukan bergegas menjemput ribuan kali lipat ganjaran kalau mereka melakukannya  di Masjidil Haram sebagaimana jemaah dari luar Makkah lakukan,” katanya dengan nada kesal. “Saya baru pulang umrah dua tahun lalu. Menyedihkan sekali,” imbuhnya. “Hari ini, kamu baru saja menegur saya tentang hadis yang dirawikan Tirmizi itu. Kalian tahu bagaimana orang-orang Indonesia sangat kami sukai karena alasan tadi?” Air mukanya tampak lebih bercahaya.

“Ayolah,” kali ini saya merasa suasana mulai cair. “Saya ke sini untuk mendengar Kairo langsung dari orang Kairo. Bagian kamu mendengar cerita Indonesia dari saya, kita bereskan nanti-nanti.” Lalu saya tertawa.

Tapi Muhammad tidak. Dia menggedikkan bahu. “Kamu bisa membaca kebesaran masa lalu kami di mana saja. Tapi, sebagaimana kenyataannya, kamu tidak akan mendengar kehangatan dan keramahan di sela-sela epik apa pun tentang Mesir.” Dia menghela napas seperti merutuki kata-katanya sendiri.

Sayang sekali saya tak bisa mengonfirmasi lebih jauh karena didi pesanannya keburu datang. “Saya tinggal di belakang.” Ia menunjuk bangunan di samping kiri Wisma Nusantara. “Kita ngobrol lagi nanti.”

Saya tak pernah melihatnya lagi setelah itu. Padahal, sebagai morning person, karena tak membawa celana dan sepatu lari sebab mengira musim dingin Kairo lebih menggigil daripada Leiden–kota yang saya diami tiga bulan di musim semi tahun ini, saya pikir turun ke bawah dan menikmati pagi ‘yang dingin’ di depan gerbang adalah opsi yang menyenangkan sebab peluang bertemu kenalan sekaligus teman ngobrol baru lebih terbuka daripada hanya tinggal di kamar bersama Andri yang sibuk membereskan laporan perjalanan kami kepada sponsor yang menjadi tanggung jawabnya.

Tapi di pagi kedua, saya justru bertemu dengan Muhammad. Muhammad yang lain. “Apakah kalian tak punya pilihan lain selain nama itu?” Sayangnya saya segera menyadari bahwa mencuatkan pertanyaan itu bukan saja meremehkan pilihan mereka, tapi juga bertindak kualat kepada Junjungan yang Mulia. Astaghfirullah. Tiba-tiba saya teringat nama yang selalu Imam Syafii sebutkan ketika orang-orang memintanya memperkenalkan diri. Muhammad. Selalu Muhammad. Ia tak pernah menyebut nama lengkap, paling banter ia akan menyertakan nama sang ayah apabila diminta. Menggunakan nama populernya sebagai seorang imam? Apalagi ini, tak akan ia lakukan.

“Nama bagi kami,” kata Muhammad, yang saya tebak usianya sebaya dengan saya, yang berpapasan ketika kami sedang berjalan santai dengan tujuan yang sama: buah di belakang wisma, “bukan hanya doa. Lebih dari itu, ia adalah visi.”

Tentu saja saya diam. Lebih tepatnya memberinya ruang untuk bercerita lebih jauh.

“Visi tanpa amalan, tidak berguna. Sebagaimana amal tanpa visi, yaaa statusnya sama.”

Sebuah bohlam menyala dalam kepala, menghangatkan semangat saya. Bukan, bukan karena kata-katanya barusan, melainkan sketsa tas jinjing yang ia kaitkan di bahu: huruf kanji. “Kamu pernah ke Jepang?” tanya saya serta-merta.

Ia tertawa dan memuji kejelian saya. “Bulan lalu saya mengunjungi teman di Osaka,” katanya. “Couchsurfing,” terangnya.

Wah, pantas Muhammad ini ‘sangat terbuka’.

“Saya kuliah di Universitas Kairo. Semester akhir. Jadi, tidak terlalu banyak kuliah.”

Saya ingin bertanya jurusannya, sebelum ia seperti terdorong untuk menjelaskan. “Tentang nama tadi,” katanya, “justru saya dapatkan dari pepatah Jepang. Anonim. Saya tak pernah berpikir kalau itu ternyata menggambarkan prinsip kami dalam memilih nama.”

Visi tanpa aksi adalah mimpi di siang bolong. Sementara aksi tanpa visi adalah mimpi buruk!

***

Ya, di Kairo, melankolisme, romantisme, dan sentimentalisme, dan kawan-kawannya, adalah urusan manusia dengan ingatan. Selebihnya, urusannya akan dibereskan oleh percakapan khas Arab: keras dan tegas. Bagi pengembara, realitas itu adalah keseruan. tapi bagi turis tanpa pendamping yang mahir berbahasa setempat, itu bisa jadi mimpi buruk. Mungkin itu pula yang membuat Nagouib Mahfuz, nobelis dari Mesir, bilang bahwa penderitaan yang paling menyedihkan adalah memiliki hati yang sentimental dan pikiran yang skeptis. Penulis–yang meraih nobel 10 tahun setelah Anwar Sadat meraihnya untuk kategori Perdamaian–itu seperti hendak mengatakan bahwa, orang-orang Mesir bisa saja tidak perasa, tapi kami sungguh kami tak bisa diremehkan.

“Mahfouz tidak hidup di era di mana Kairo banyak dikunjungi turis,” kata Gracia, psikolog senior yang pernah tinggal di Kairo selama satu tahun. “Orang-orang Kairo senang melihat orang-orang dari penjuru dunia belajar di Al Azhar, namun mereka juga tak bisa, atau katakanlah ‘keberatan’, memandang para pendatang itu dengan setara. Lihat, di Khan Al-Khalili, misalnya.”

Saya mencoba mengingat-ingat. Namun, ingatan saya justru mampir ke Kafe Nagouib Mahfuz yang, sebagaimana Kafe Ummi Kultsum, tak sempat kami singgahi karena malam sudah terlalu larut.

“Di pasar serbaada itu, mereka menyapa untuk mengajak membeli, bukan untuk menunjukkan kehangatan sebagaimana yang orang-orang Indonesia lakukan,” katanya seperti ingin menegaskan.

“Lha kan sebelas-dua belas saja sama orang-orang Eropa? Orang Indonesia saja yang melakukan itu dengan alasan yang samar,” sambar saya sewot, “Antara memang ramah atau jiwa inlander!” Entah, saya tak tahu, kenapa saya emosional seperti itu, meskipun setelah kembali ke wisma dan merenunginya, saya menemukan jawaban. Sebenarnya saya sedang marah kepada diri sendiri sekaligus iri kepada orang-orang Kairo. Dalam hal apa?

Dalam hal menyembuhkan luka.

Sebagai sama-sama bangsa yang pernah dijajah oleh berbagai negara, seharusnya Indonesia bisa sama ‘pongahnya’ dengan Mesir dalam merespons orang-orang luar. Saya mulanya bingung, bagaimana luka sebagai bangsa jajahan justru meninggalkan jejak perangai yang berbeda, sebelum kemudian saya menemukan sebabnya. Penjajahan di Indonesia mengeruk sumber daya alam di seantero Nusantara yang habis pakai sehingga derita secara fisik begitu terasa dan menjejak, sementara penjajahan di Mesir merampok hak politis, misalnya Inggris mengklaim Terusan Suez sebagai syarat Mesir merdeka sebagaimana mereka mengamankan Mesir sebagai posisi tawar karena Ottoman–yang saat itu memegang kendali atas Mesir–bersama Jerman dan Austria dalam Perang Dunia I.

Alam yang diperkosa meninggalkan luka yang basah, trauma yang langsung menancap ke hamparan kehidupan orang-orang, tak terkecuali rakyat jelata. Terus menurun, hingga berabad-abad kemudian, hingga hari ini. Sementara keputusan politik membuat  penjajah berhadap-hadapan dengan petinggi negeri sahaja, tidak langsung menukik ke bangsa yang sebenarnya tak tahu apa-apa,  yang tidak pernah paham kenapa dan bagaimananya. Kondisi yang pertama membuat bangsa Indonesia, hingga generasi hari ini, berbenah dalam urusan pembangunan, namun tidak dengan mental. Sebaliknya, kondisi kedua membuat Mesir menjelma negeri yang lemot meraba arah literasi modern, namun kebanggaan sebagai bangsa yang, tak pernah secara langsung dizalimi, membuat mereka bangga berdiri di atas kedigdayaan Raja Narmer hingga Cleopatra!

Dalam situasi demikian, Kairo bukannya tidak berubah. Tapi memang tak ingin berubah. Memang merasa belum perlu berubah. Seolah mengimani seruan yang Paulo Coelho dalam Alchemist:

Arah lebih penting daripada kecepatan!

Ya, berubah adalah kondisi. Ia adalah luaran dari gerakan-gerakan yang terarah. Dengan kekuatan, orang bisa bergerak cepat. Tanpa kecerdasan, orang hilang arah. Andai saja ada pilihan atau bahkan diminta mencari titik tengahnya, Kairo akan mengikhlaskan pace daripada kebugaran, Kairo akan memilih sejarah daripada matematika, Kairo akan memilih kebenaran daripada kebaikan. “Orang-orang yang memperhatikan arah akan senantiasa melihat ke depan,” kata Gracia, seolah-olah hendak mengakhiri percakapan. “Mungkin itu juga yang membuat orang-orang Kairo membenci prediksi. Berandai-andai, sebagaimana statusnya dalam Islam, adalah pekerjaan setan,” terang mualaf itu. “Mereka seperti paham benar pada Hukum Murphy,” kata perempuan 40 tahun itu kemudian. “Semakin kau khawatir terhadap sesuatu, semakin besar kemungkinan sesuatu itu akan terjadi.”

“Dan sebaliknyakah?” konfirmasi saya. “Semakin kita meyakini sesuatu, semakin dekat ia menjadi kenyataan?”

Gracia tak menjawab.

“Atau Hukum Kidlin,” seru saya cepat. “Semakin terang dan spesifik kita menuliskan masalah, makin dekat kita dengan solusinya.”

“Bisa jadi,” kata Gracia, seperti terpaksa menyetujui.

Dari balik jendela wisma, saya memandang bangunan cokelat terang yang menjulang. Di malam yang larut itu, lampu rumah-rumah itu masih menyala. Apakah mereka sengaja memilih malam hari untuk memasak dan bercengkerama atau alasan lain, saya tak ingin mencari tahu. Namun, di hari terakhir di Kairo, ketika memilih menginap di kompleks kostan mahasiswa Indonesia di Darosah, sepertinya Kairo gemar memindahkan geliat jalanan di siang hari ke rumah-rumah ketika matahari sudah terlelap.

Meskipun begitu, jangan menganggap, seperti Eropa yang mulai hidup pada pukul 10, Kairo akan lebih malas menyambut hari. Tidak. Tidak begitu! Kairo sudah ribut sejak pukul 7! Semua alat transportasi, publik maupun privat, berebut tempat dan perhatian. Di tengah jalanan yang padat dan semrawut, orang-orang Kairo memiliki paket kemampuan yang presisi dan mengagumkan: ngebut, menikung, mengerem mendadak, berteriak, dan menekan klakson.

Semuanya seperti patogenik, kata saya ketika Alif meminta pendapat saya tentang kekacauan itu. Mereka seolah menganggap hari tidak akan baik-baik saja kalau tak melakukan hal-hal di atas ketika sedang berkendara.

Alif tak memberi tanggapan. Saya gemar menganggap diam sebagai bahasa tubuh untuk persetujuan.

Lantas, apakah terbitnya keriuhan yang berbanding lurus dengan waktu matahari mengintip di ufuk timur itu membuat Kairo menjadi kota genius sebagaimana Kolkata yang kacau melahirkan Rabindranath Tagore dan Jagadish Bose yang, karena kemampuan mereka menemukan jarum hikmah di hamparan jerami kebisingan, membuat mereka menjadi para polimatik era modern yang disegani?

Kairo tak berurusan dengan kegeniusan!

Sebagai kota tua dengan jejak yang panjang, Kairo adalah tanah tarbiah. Siapa pun yang ingin belajar memahami hidup, bagi Kairo, mereka takkan mungkin melakukannya di ruang kelas atau laboratorium semata. Mereka harus belajar bersabar dan beradaptasi situasi. Sebab tarbiah yang sebenarnya bukanlah ceramah kesalihan, melainkan tentang cara merespons segala dinamika kehidupan dengan matang. Kairo punya itu!

Ya, Kairo punya itu!

Di jalanan Darosah yang sempit, dua tuk-tuk dari arah berlawanan, hingga jarak satu meter di antara mereka, masih menarik gas, untuk kemudian membuat manuver sehingga arah belokan yang dipilih tidak sama. Orang-orang yang lalu-lalang, penjaja tabung gas dengan gerobaknya, atau bahkan anjing dan kucing yang asyik bermain, memiliki refleksitas organik untuk terhindar dari benturan. Intuisi komunal yang akurat semacam ini memberkati Kairo!

Jangan heran pula, apabila di tengah sengitnya adu mulut dua laki-laki di persimpangan Jalan al-Mu’izz, mereka bisa berpelukan ketika si pelerai meminta mereka berselawat; atau seorang wanita paruh baya, yang sedang marah kepada para remaja tanggung yang merusak dagangannya yang digelar seratus meter dari restoran terkenal Baba Abdo karena bola yang mereka tendang “salah arah”, memutuskan berhenti  berteriak ketika salah seorang remaja laki-laki berlari mendekat dan mencium kepala sang ibu sebagai bentuk permintaan maaf. 

Kairo punya kematangan itu! Kematangan yang menyerupai delima yang sempurna merahnya. “Memang enak, Bang?” tanya Alif ketika suatu malam, sepulang dari menghadiri acara yang ditaja FS AL MAKKI (Forum Silaturahmi Alumni Madrasah Aliyah

Keagamaan Kotobaru Indonesia-Mesir), kami mencari pencuci mulut di pasar buah Darosah. “Yakin mau mengganti stroberi dengan delima?” konfirmasinya.

“Bagaimana mungkin kamu tidak menikmati delima di Kairo?” tanya saya. “Delima-delima di Kairo,” saya mencoba menerangkan, “mengingatkan saya pada delima-delima di Islamabad. Merah dan pasti manis.”

Benar saja, ketika memecahkannya di meja makan usai menghabiskan nasi biryani pesanan kami, Alif menjelma anak kemarin sore yang baru melihat dunia: matanya berbinar mendapati karunia Tuhan yang sejatinya sangat bisa dengan mudah ia jangkau, malah ia abaikan selama ini. “Tidak seperti lemon, rasa delima tidak selalu sama. Tergantung di mana ia tumbuh. Di Indonesia,” kata saya, “delima selalu merana. Ukurannya mirip jeruk. Warnanya bahkan lebih pucat dari langsat. Isinya jangan ditanya. Lebih kelat dan bergetah dari manggis muda.”

Alif tertawa, sambil memasukkan segenggam biji delima ke mulutnya, lagi. “Kenapa anjing-anjing Darosah lebih kalem daripada anjing-anjing di jalanan Kairo, Lif?” tanya saya ketika menyaksikan anjing-anjing yang bertubuh besar hanya melongo di ketika kami melewati mereka.

Saya lupa apa jawaban pemuda berkacamata itu, tapi saya kemudian bisa membuka buhul kepenasaran itu. Anjing-anjing di Darosah sudah mengenal siapa saja yang lalu-lalang, sedangkan di jalanan Kairo yang menerima siapa saja untuk melintas, mereka selalu bertemu dengan kekacauan: orang-orang dan karakter bawaan yang silih berganti. “Kenapa anjing-anjing banyak berkeliaran di Kairo?” tanya saya lagi–dan saya ingat, Alif tidak menjawabnya. Sebenarnya, ketika mengutarakan pertanyaan itu, saya sedang teringat peribahasa Mesir. Ekor anjing takkan pernah bisa lurus, sekuat apa pun kamu melakukannya. Saya berusaha keras memahaminya, ketika sebuah artikel yang ditulis seorang azhary di Kompasiana, menyebutkan bahwa orang-orang Mesir sangat terbuka dan ramah. Ini sungguh berbeda dengan citra yang menyala dalam kepala saya: pongah dan keras kepala.

“Standar moral Mesir dan Indonesia itu berbeda, Bang,” kata-kata Andri terdengar seperti pembukaan pledoi. “Kebaikan bagi orang Indonesia adalah kesopanan, sementara bagi orang Mesir adalah keyakinan.”

Saya menerawang. Mencoba mencerna. Lalu saya tiba-tiba merasa bersalah karena mengukur Kairo dengan persepsi Barat: baik adalah sopan. Sementara itu, alangkah banyaknya para koruptor di negeri saya yang bertindak sopan dan bertutur kata santun (terlebih kalau kamera menyala!). Kesopanan, betik hati kecil saya, dalam banyak urusan ternyata kerap menjadi sinonim hipokrisme. Orang-orang Kairo memutar murotal karena mereka yakin ayat-ayat Al Quran adalah sebaik-baik bunyi yang senantiasa harus menghampiri telinga. Bahwa setelah salat dan membaca-dengarkan ayat suci, mereka akan bergelimang dengan hal-hal yang kontraproduktif, itu adalah urusan lain. Seperti yang menimpa kami dalam dalam perjalanan ke Giza menjelang Zuhur itu: seorang laki-laki jelang 40 tahun dengan ramah menghampiri Andri dan Alif yang sedang membahas rute perjalanan kami ke kompleks piramida itu. Ia dan putranya–yang kami taksir berusia 10 tahun–mengaku berasal dari Alexandria. Seolah perlu meyakinkan kami, laki-laki yang mengaku bernama Abdurrahman itu menunjukan fotonya yang sedang bersantai di kamar hotel dengan pemandangan laut Alexandria yang biru muda. Ketika naik taksi, ia juga mengajak kami bergabung. Penolakannya atas tawaran kami untuk membayari ongkos taksi karena ia tak ingin kebaikannya disalah-artikan, membuat kami takjub.

Dalam perjalanan menuju Giza, Abdurrahman bercerita banyak tentang pengalamannya, termasuk koneksinya dengan ‘orang dalam’ yang akan membawa kami ke pengalaman melihat langsung kompleks permakaman raksasa Mesir Kuno yang mengesankan. Ia ternyata tidak mengantar kami ke loket yang menjual tiket masuk ke Giza. Lebih dari itu, ia mengajak kami masuk ke sebuah bangunan yang menyerupai sebuah kantor. Kami merasa beruntung dan tersanjung sekali bertemu dengan orang setempat yang memperlakukan kami sespesial itu.

Namun, semuanya bagai kembang api. Menyala dan hangatnya sebentar saja. Tak lama kemudian, kami sudah berada di atas kuda-kuda milik seorang ‘pemain ulung’ bernama Ali. Setelah menerima bayaran, tanpa memberikan kami tutorial memadai berkuda, seakan-akan berkuda sama mudahnya dengan makan delima beserta bijinya, laki-laki sebaya Abdrurrahman itu melepas kami begitu saja. “Tenang saja,” katanya dengan bahasa Inggris yang bisa kami pahami, “kuda-kuda ini adalah kuda saya. Di bawah kendali saya, semuanya berjalan aman.”

Kami hanya menikmati keriangan di atas pelana kuda yang berjalan pelan selama 15 menit. Setelahnya, kuda melaju kencang. Saya kesulitan mengendalikan. Alif beruntung karena mendapat kuda yang patuh. Sementara Andri mengaku, kalau saja si Ali tidak mengambil alih kudanya, ia bisa saja terlempar dari atas kuda dengan kemungkinan meninggal dunia!

“Kairo tidak berubah,” kata Andri dalam perjalanan pulang. Tentu saja saya menyebutnya sebagai respons atas biaya tambahan yang Ali lakukan kutipkan kepada kami di akhir tur gurun yang menegangkan, ribetnya membeli tiket ke penjaga loket Giza yang jauh dari profesional, banyaknya scammer yang masih berkeliaran meskipun kami sudah berada di dalam kawasan Piramida itu, dan tentu saja pengalaman hampir melepas nyawa di atas kuda. Ugh!

“Amalan apa yang kita lupakan sampai-sampai sial begini, ya?”  Saya mencoba mencairkan suasana.

Namun Andri diam, sebelum berkata, “Aku sudah merasakan ketidakberesan ini sejak menginjakkan kaki di Wisma Nusantara di hari pertama di sini. Bangunan yang dulu jadi kebanggaan para azhari dari Indonesia itu persis cerminan Kairo hari ini. Alih-alih mempercantik diri, malah mengumumkan kepada siapa pun bahwa berjalan mundur itu candu.”

“Tapi kamu masih punya harapan, ‘kan?” konfirmasi saya.

“Aku pikir, aku tidak akan kembali lagi,” katanya, lirih, namun meyakinkan.

“Lif,” kata saya ketika didi kami mendekati Darosah.” Malam ini carikan Abang air Sungai Nil. Percaya atau tidak percaya pada tuahnya, Abang ingin kembali ke sini. Kalau kau tidak bersepakat dengan mitos itu, anggap saja Abang ingin merasakan air dari sungai terpanjang di dunia itu,” kata-kata itu, di tengah kekecewaan Andri pada Kairo, terdengar seperti konfrontasi ‘pendatang baru’. “Saya sudah berjalan ke 27 negara,” kata saya, sedikit keras. “Berada di Eropa yang teratur, Korea yang kaku, Pakistan yang ramai, dan India yang kacau, memberiku kekayaan pengalaman. Namun Kairo sepertinya berbeda,” terangku percaya diri.

“Berbeda di mananya, Bang?” Alif penasaran.

Mungkin karena di sini, aku bisa lari pagi demi menemui Nil yang selama ini hanya mengalir dalam mimpi dan imajinasi. Mungkin juga karena di sini aku bertemu anak muda dengan aura positif sepertimu.” Saya tahu, kata-kata saya terdengar turistik dan gombal, tapi saya pikir, hal-hal besar lahir dari hal-hal remeh yang menyala di kesempatan yang tepat. Saya tiba-tiba teringat Tenra, ketua Informatika, organisasi yang membawa saya ke Tanah Para Imam. “Dia cocok menjadi hakim,” kata Andri ketika kami mendiskusikan kenapa Alif lebih banyak menyita perhatian dan porsi percakapan kami. “Hakim tidak boleh mencolok dan menarik perhatian agar konsentrasinya untuk berlaku adil tidak terdistraksi?” konfirmasi saya. Andri hanya tertawa. Saya tahu ia tidak terlalu bersepakat dengan saya, namun sepertinya ia juga tidak sedang ingin menghabiskan energi setelah seharian dihajar drama di Giza.

“Ini!” Alif meletakkan seceret air di samping laptop saya yang menyala di atas meja belajar di kostannya. “Minumlah, Bang. Asli dari Nil.”

Saya menoleh, mengerutkan dahi, sebelum akhirnya saya tahu bahwa rumah-rumah di Kairo memiliki akses langsung–atau sengaja dialiri langsung dari dan ke–Sungai Nil. “Biasanya khusus untuk yang diminum, ada penyaringnya,” kata Alif. “Jadi kita memang minum air Sungai Nil mentah yang sudah disaring,” terangnya dengan lengkap, sembari menambahkan bahwa air-air minum di ceret stainlees di berbagai rumah makan di Kairo juga menghidangkan air Sungai Nil itu secara gratis.

Saya tersenyum. Pantesss, air yang saya minum di sebuah rumah makan pada malam kedatangan saya di Kairo terasa dingin dan ‘menyegarkan’. Sejurus kemudian, secangkir air Sungai Nil mentah-yang-sudah-disaring berselancar di tenggorokan saya. Benar saja, malam itu saya mimpi indah, mimpi yang jadi kenyataan keesokan paginya:

Berziarah ke Makam Imam Syafii.(*)

Draf 1: Dubai–Jakarta, 9–10 Desember 2024 & Draf 5: Lubuklinggau, 25-26 Februari 2025

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

1 Comment

  • Kairo dan pepatah Ekor Anjing yang Tak Bisa Lurus (transformasi dan adaptasi budaya)

    Kairo adalah kota yang terus bergerak, tempat peradaban lama dan baru bertemu dalam gelombang waktu yang tak pernah berhenti. Namun, di tengah perubahan, ada sesuatu yang tetap—seperti ekor anjing yang tak bisa diluruskan.

    Melalui kisah Taher Abu Fasha, seorang penyair yang larut dalam kerinduan spiritual, kita melihat bagaimana warisan Rabi’a al-Adawiya tetap hidup, meski zaman telah jauh berubah. Begitu pula dengan Imam Syafii, yang berani merevisi pemikirannya saat tiba di Kairo—menunjukkan bahwa kebenaran pun harus diuji oleh ruang dan waktu.

    Namun, apakah perubahan selalu berarti kehilangan? Tidak. Kairo mengajarkan bahwa ada hal-hal yang tak akan luruh dimakan zaman. Nilai, keyakinan, dan spiritualitas tetap berakar, meski kota ini terus bergerak mengikuti arus sejarah.

    Maka, Kairo bukan sekadar kota. Ia adalah cermin bagi siapa saja yang mencari keseimbangan antara menerima perubahan dan menjaga yang tak boleh hilang.

    Saya bener bener takjub bang ben, ketika baca tulisan bang ben , selalu berasa abang lagi mencelotehkan kisah itu seperti berbicaraa dg pembaca.

    Cara berceloteh abang itu yang berbeda terbata bata tapi renyah di dengarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *