Kairo: Kota yang Gemar Mengulang

 Kairo: Kota yang Gemar Mengulang

Di dalam tremco jelang salat Jumat, salah satu penumpang khidmat mengulang-ulang bacan Quran di ponselnya (dok. pribadi, 5-12-2025)

Sebab kita tidak bisa merasa dekat dengan sesuatu yang hanya kita sentuh sekali. 

Oleh Benny Arnas

Siang di Kairo bergerak dengan ritme yang padat. Pedagang ful melayani pelanggan dari balik gerobak. Mobil saling memotong jalur. Mahasiswa lintasnegara berjalan bersicepat sambil memeluk kitab. Dari arah masjid kecil dekat pasar, murotal mengalun dan menembus segala kebisingan. Suara itu tidak melawan hiruk pikuk, tetapi berenang di dalamnya. Seolah ingin mengatakan bahwa kesibukan bukan alasan untuk melupakan apa yang harus diingat.

Kota ini tidak menunggu waktu hening untuk belajar. Ayat yang diperdengarkan siang hari menjadi bagian dari lalu lintas. Orang berjalan sambil membawa pesan yang sama dari hari ke hari. Mereka mendengarnya lagi. Mereka mengingatnya lagi. Mereka menanamkannya kembali di dalam hati. Pengulangan bukan sekadar metode, tetapi cara mempertahankan kedalaman.

Banyak orang membayangkan hafalan sebagai kemampuan menyimpan kata secara permanen. Namun Kairo memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Yang bertahan bukan kata. Yang bertahan adalah proses mengulang. Suara murotal yang muncul dari toko roti, kedai jus, dan taksi-taksi tua memperlihatkan bahwa memori moral tidak dibangun sekali, tetapi sedikit demi sedikit.

Sebuah wawancara dalam program “لقاء مع الحافظات” memuat pernyataan yang sederhana tetapi kuat. Seorang hafizat mengatakan bahwa yang membuat hafalannya terjaga bukan kemampuan mengingat cepat. Ia menekankan rutinitas murojaah. Ia terbiasa mendengar dan mengulang ayat berkali-kali sampai terasa masuk ke hati. Ia kembali pada surah yang sama meski sudah hafal. Ia mengulang untuk memastikan makna tetap hidup.

Apa yang ia lakukan sejalan dengan temuan ilmu kognitif modern. Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Science pada 2011, Karpicke dan Blunt menunjukkan bahwa pengambilan kembali informasi secara aktif jauh lebih efektif untuk pembelajaran jangka panjang daripada teknik membaca berulang yang pasif. Pengulangan yang disertai upaya mengingat memperkuat jejak mental. Itulah yang dilakukan para penghafal Qur’an setiap hari. Mereka tidak hanya membaca ulang, tetapi memanggil ulang.

Studi lain dari Cepeda dan rekan-rekannya pada 2006 menunjukkan bahwa menyebar waktu belajar dalam beberapa sesi kecil lebih efektif daripada belajar panjang dalam satu waktu. Kairo menerapkan prinsip ini tanpa teori rumit. Murojaah dilakukan di pagi hari, siang hari, dan sebelum tidur. Beberapa sekolah tahfiz memberi porsi khusus untuk mengulang hafalan lama sebelum menambah ayat baru. Ritme ini membuat ayat tidak menjadi beban, tetapi teman perjalanan.

Di Al Azhar Institute of Qiraat Shobra di Kairo, sebuah studi lapangan pada 2019 menunjukkan pendekatan yang sama. Para peneliti menemukan bahwa para siswa dan siswi tidak mengejar hafalan sebagai prestasi yang cepat. Mereka memusatkan perhatian pada konsistensi murojaah. Mereka tidak ingin hafalan hilang setelah ujian. Mereka ingin nilai dalam ayat itu membentuk cara mereka hidup. Pengulangan menjadi jembatan antara teks dan perilaku.

Neurosains pun menguatkan gagasan ini. Michael Merzenich, peneliti neuroplastisitas, menjelaskan bahwa otak membangun jalur saraf yang kuat melalui aktivitas yang dilakukan berulang. Kebiasaan yang terus dipraktikkan akhirnya menjadi bagian dari identitas. Dalam konteks Kairo, pengulangan ayat tentang kejujuran, kesabaran, dan kebaikan bukan sekadar ritual. Ia membentuk respons spontan dalam kehidupan sehari-hari. Orang menjadi lebih sabar di jalanan. Lebih menahan diri saat marah. Lebih mudah mengingat bahwa kebaikan dimulai dari hal kecil.

Kairo bukan kota yang rapi. Lalu lintasnya terkenal semrawut. Orang berbicara keras. Ada banyak hal yang tidak teratur. Namun di balik kekacauan itu ada pola yang stabil. Suara murotal menjadi pengingat ritmis bahwa manusia tidak belajar sekali untuk selamanya. Mereka belajar dengan kembali ke hal yang sama secara berulang. Kehidupan membutuhkan penguatan terus menerus.

Di kedai teh dekat Saad Zaghloul, seorang bapak paruh baya pernah mengatakan bahwa ia tidak pernah menghitung berapa kali ia mendengar surah yang sama setiap hari. Ia mengatakan bahwa pengulangan membuatnya merasa ditemani. Ayat yang diulang tidak lagi seperti informasi. Ayat itu menjadi ruang untuk bernafas. Di tengah hiruk pikuk, ia merasa ada yang mengembalikan keseimbangannya.

Kebiasaan ini tidak unik bagi warga Mesir. Di Malaysia, para siswa tahfiz yang mengikuti program Al Azhar Shobra melaporkan hal yang sama. Mereka memandang murojaah sebagai cara merawat makna. Bagi mereka, menghafal tanpa mengulang membuat ayat cepat pudar. Namun ketika ayat diulang berkali-kali, makna spiritual terasa menyerap. Mereka menjadi lebih peka pada tindakan sendiri. Mereka lebih sadar pada hubungan antara ayat dan kenyataan.

Tradisi repetisi juga terlihat dalam budaya-budaya lain. Dalam komunitas Buddha di Himalaya, teks-teks tertentu diulang setiap hari selama puluhan tahun. Di Jepang, beberapa guru kaligrafi mengajarkan bahwa pengulangan bukan untuk menyempurnakan teknik, tetapi untuk membentuk mentalitas. Di komunitas Afrika Barat, penyair griot mengulang kisah yang sama selama generasi untuk menjaga identitas kolektif. Pola ini seolah mengatakan hal yang sama. Manusia butuh pengulangan untuk bertahan.

Pengulangan tidak identik dengan stagnasi. Ia adalah cara untuk memperdalam pemahaman. Kita tidak bisa merasa dekat dengan sesuatu yang hanya kita sentuh sekali. Kairo menunjukkan bahwa literasi spiritual adalah proses yang memerlukan kesabaran. Murojaah bukan hanya untuk para hafiz. Ia untuk siapa saja yang ingin menjaga pikiran tetap jernih dan hati tetap terarah.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika ayat diulang dalam ritme yang tetap. Seperti suara yang tidak lelah mengingatkan bahwa hidup adalah perjalanan yang panjang. Di tengah kebingungan, pengulangan memberi arah. Di tengah kelelahan, ia memberi struktur. Di tengah keraguan, ia memberi pondasi.

Pada akhirnya, kota ini mengajarkan bahwa pengulangan bukan bentuk kelemahan. Ia adalah bentuk keteguhan. Orang yang mengulang bukan orang yang tidak bisa mengingat. Orang yang mengulang adalah mereka yang ingin menjaga agar yang penting tidak hilang.

Kairo berdiri sebagai bukti bahwa manusia tidak berubah hanya karena satu momen besar. Mereka berubah karena sesuatu yang kecil. Sesuatu yang diulang terus menerus. Sesuatu yang membentuk diri sedikit demi sedikit.

Dan mungkin itulah kekuatan sebenarnya dari mengulang. Ia menjaga kita dari lupa. Ia mengikat makna pada kehidupan nyata. Ia membuat nilai menjadi lebih dari sekadar kata.

Kairo, dengan segala debu dan cahaya siangnya, terus mengajarkan hal itu setiap hari.(*)

Kairo, 6 Desember 2025

_______

Daftar Pustaka

Blunt, J.R. & Karpicke, J.D., 2011. Retrieval practice produces more learning than elaborative studying with concept mapping. Science, 331(6018), pp.772–775.

Cepeda, N.J., Pashler, H., Vul, E., Wixted, J.T. & Rohrer, D., 2006. Distributed practice in verbal recall tasks: A review and quantitative synthesis. Psychological Bulletin, 132(3), pp.354–380.

Dunlosky, J., Rawson, K.A., Marsh, E.J., Nathan, M.J. & Willingham, D.T., 2013. Improving students’ learning with effective learning techniques: Promising directions from cognitive and educational psychology. Psychological Science in the Public Interest, 14(1), pp.4–58.

Hassan, I., Malek, N.H. & Usman, A.H., 2019. Memorizing and understanding the Qur’an in Arabic language among Malaysian students of the Al-Azhar Institute of Qiraat Shobra, Egypt. Humanities & Social Sciences Reviews, 7(2), pp.265–271.

Merzenich, M., 2014. Growing evidence of brain plasticity. TED Talk. Available at: https://www.ted.com/talks.

YouTube, 2023. لقاء مع الحافظات. Program keagamaan. Available at: https://www.youtube.com.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *