Jangan Pernah Bekerja Sama dengan Mereka yang Malas Membaca
Sumber ilustrasi: serupa.id
Dan mereka yang malas membaca, cepat atau lambat, akan selalu ditinggal.
Oleh Benny Arnas
Sekitar seminggu lalu, tiga orang yang mengaku dari sebuah perusahaan sawit datang ke Benny Institute. Mereka mengatakan ingin bekerjasama untuk sebuah program pelatihan bahasa Inggris selama tiga bulan. Mereka menyebut angka yang menurut saya standar saja: tidak besar, tidak kecil. Mereka pun menjelaskan tujuan dan luaran yang mereka harapkan dari kelas itu nantinya. Meskipun beberapa poin harus saya koreksi, kami akhirnya satu pemahaman. Ketika saya hendak menjelaskan model kelas, suasana belajar, pendekatan pedagogis, dan silabus yang selama ini kami gunakan, perempuan tiga puluh tahunan--yang tampaknya paling percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggrisnya--berkata, “Jelaskan semua dalam bahasa Inggris bisa?”
Nadanya tidak terdengar meminta, tapi memverifikasi. Ia ingin menguji, memastikan mereka punya alasan untuk menilai, memberi tahu bahwa mereka berada “di atas”.
Saya terdiam sebentar. Bukan karena tak bisa, tapi karena saya heran: Apa mereka tidak membaca? Apa mereka benar-benar datang tanpa meneliti siapa kami?
Tetapi perempuan itu terus mendesak, halus tapi jelas.
Akhirnya saya mengalah. Oke, let’s play this game, sorak saya dalam hati. Saya pun menjelaskan semuanya tanpa jeda, tanpa aksen dibuat-buat, tanpa upaya meyakinkan, dalam bahasa Inggris.
Di ujung penjelasan, saya kembali ke bahasa Indonesia dan berkata, “Bagaimana?” Saya sengaja melakukannya agar dua rekannya—yang tampaknya tidak cukup fasih dalam berbahasa Inggris—mendengar sendiri penilaian rekan mereka.
Perempuan itu tampak puas. Kedua rekannya terlihat lega, seolah tugas mereka untuk “menguji” calon mitra berjalan sesuai harapan. Setelah itu, mereka meminta saya segera membuat proposal penawaran. Lengkap dengan CV mentor, termasuk latar pendidikan formal yang menurut mereka relevan. “Mentornya lulusan bahasa Inggris bonafid semua, ‘kan, Pak?”
Baru saja saya mau menjawab, mereka melanjutkan, “Paling telat besok ya. Kami tunggu.”
Saya jawab singkat: baik.
Besoknya mereka menghubungi saya lagi lewat WA, dan di sana saya mengetik kalimat sederhana: “Maaf, kami tidak bisa bekerja sama.”
Jawaban sebenarnya jauh lebih sederhana:
Kami tidak bisa bekerja sama dengan pihak yang tidak membaca.
***
Kita sering membayangkan kegagalan kerjasama disebabkan faktor teknis: angka, luaran, atau tenggat. Padahal ada banyak peristiwa menunjukkan bahwa yang sering merusak segalanya adalah sikap, terutama sikap superioritas yang membuat salah satu pihak bahkan tidak merasa perlu membaca siapa calon mitra mereka.
Salah satu contoh paling terkenal datang dari Inggris. Sebuah laporan Sifted mengisahkan sebuah perusahaan raksasa yang ingin menggandeng sebuah startup teknologi. Secara teori, kerjasama itu bisa menghasilkan jutaan pound. Tetapi sejak pertemuan pertama, pihak korporat datang dengan nada “kami di atas, kalian di bawah”. Mereka tidak membaca dokumen apa pun, termasuk pitch deck yang sudah dikirim sebelumnya. Mereka datang bukan untuk memahami, melainkan untuk menguji kemampuan para founder muda itu. Pertemuan dilewatkan, pertanyaan diulang, presentasi diminta berkali-kali hanya untuk menunjukkan dominasi.
Hasilnya: startup perusahaan rintisan itu memutuskan mundur sepenuhnya.
“Kami kehilangan kepercayaan,” kata mereka. “Dan juga harga diri.”
Deal jutaan pound itu batal hanya karena satu pihak tidak membaca dan datang dengan arogan.
Peristiwa lain terjadi di Asia Tenggara pada pengujung 2019, pada sebuah proses akuisisi yang sudah mencapai tahap akhir. Investor private equity sudah melakukan due diligence, valuasi sudah disepakati, dokumen hampir ditandatangani. Tetapi Ang dan Joe, pemilik sebuah merek lokal datang dengan sikap seolah ia lebih tinggi dari pihak investor. Ia memprotes hal-hal yang sudah ia setujui sebelumnya. Alih-alih terlihat karena ia tidak membaca dokumen yang dikirimkan. Ia mempertanyakan kompetensi tim investor, menuntut perubahan sepihak, dan menyebut perusahaannya “terlalu berharga untuk dinilai orang luar”.
Investor akhirnya menarik diri. Kesepakatan gagal total. Laporan menyimpulkan penyebabnya: ego yang menutup kemampuan membaca kenyataan.
Dua peristiwa itu terjadi jauh dari kantor Benny Institute. Tetapi pola dasarnya sama: mengabaikan membaca sebagai bagian penting dari sebuah proses, entah itu berkarya atau kerja sama, adalah sama dengan mempersiapkan kegagalan.
Dan ini masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar bisnis.
Sebab ketika seseorang datang tanpa membaca, ia mengirim pesan:
“Aku lebih tinggi darimu.”
“Aku berhak menilaimu sebelum mengenalmu.”
“Aku ingin memastikan apakah kamu pantas.”
Padahal semua proses kerjasama, dalam bentuk apa pun, hanya bisa berjalan jika kedua pihak ditempatkan setara. Setara sebagai pihak yang ingin bekerja bersama, bukan pihak yang menguji pihak lain. Setara sebagai manusia.
Membaca profil, rekam jejak, konteks, sejarah, adalah bentuk paling sederhana dari penghormatan itu.
Ketika sebuah perusahaan datang ke Benny Institute tanpa membaca, mereka memulai relasi dengan memilih cara yang salah. Cara yang meremehkan. Cara yang tidak sehat. Dan kalau sebuah relasi dimulai dari tempat seperti itu, ia hampir pasti berakhir buruk.
Pada akhirnya, dunia bisnis, dunia kreatif, dunia pendidikan, semuanya, hanya berjalan dengan baik jika tiap pihak datang sebagai manusia yang mau memahami, dan itu hanya bisa dilakukan bagi yang mau membaca.
Tetapi persoalan “tidak membaca” ini bukan sekadar soal etika kerja. Ia adalah tanda dari sesuatu yang lebih genting: budaya serba buru-buru. Banyak orang kini hidup dalam ritme yang membuat mereka merasa cukup hanya dengan serpihan informasi. Satu baris headline dianggap setara dengan laporan lengkap, potongan video dianggap mewakili seluruh peristiwa. Kita hidup di zaman ketika orang lebih cepat bereaksi daripada memahami.
Di ruang-ruang percakapan digital, hal itu terlihat jelas: orang menanggapi artikel tanpa membuka tautannya, memperdebatkan isu yang tidak pernah benar-benar mereka telusuri, bahkan memberi nasihat dari posisi yang sama sekali tidak dilandasi pengetahuan. Dan yang ironis: semua dilakukan dengan percaya diri yang berlebihan, seolah ketidaktahuan adalah bentuk keberanian baru.
Fenomena ini merembes ke pertemuan profesional. Banyak orang datang ke meja negosiasi tanpa persiapan, tanpa membaca profil lawan bicara, tanpa menelaah latar belakang program yang mereka bahas. Mereka ingin instan, tetapi tetap ingin dihormati. Mereka ingin hasil, tetapi enggan melalui proses. Padahal membaca, sekecil apa pun bentuknya, adalah pintu masuk untuk memahami. Dan memahami adalah dasar dari semua kerja sama.
Itulah sebabnya, seseorang yang mengabaikan kegiatan kecil bernama “membaca” sebenarnya sedang mengirim sinyal: ia tidak siap hadir sepenuhnya. Tidak siap mendengar. Tidak siap menghormati. Tidak siap bekerja dengan cara yang dewasa.
Dan mereka yang malas membaca, cepat atau lambat, akan selalu ditinggal.
Karena orang yang mampu membaca, baik teks maupun manusia, akan selalu punya pilihan untuk berkata: “Maaf, kami tidak bisa bekerja sama dengan Anda.”
Begitu.(*)
Lubuklinggau, 14 November 2025
________
Daftar Pustaka
Sifted. (2023). Why big corporates struggle to work with startups. Sifted.eu.
Business Sale Report. (2023). How ego and pride can ruin a good deal — and a company. Business Sale.
The Business Times. (2022). Red flags in Vietnam’s PE and VC dealmaking. The Business Times.
12 Comments
Dahsyat Ben. Tuna literasi membuat tuna otak dan perilaku
Makasih dah baca, Mai. Jan bosan yo. Hahaha.
Berani tegas dengan orang yg memosisikan diri kita lebih rendah (inferior) butuh keberanian. Mas Ben telah menunjukkannya. Keren!
Saya bayangkan pasti mereka kaget karena tiba2 mendapat kabar pembatalan! Tapi biasanya orang superior nggak akan berefleksi. Mereka mencari “mangsa” lain yg akan jadi “bawahannya”.
Nah, Billy. Makin mengerikan ya. Btw, makasih dah baca ya.
“Dan yang ironis: semua dilakukan dengan percaya diri yang berlebihan, seolah ketidaktahuan adalah bentuk keberanian baru.”
Kutipan ini sangat memesona (atau mempesona) saya.
Tentu saya pernah mengalami ini di lobi sebuah perusahaan film di awal era 90-an. Bukan hanya menganggap tidak setara, tidak membaca tentang calon mitra (saya) dan cenderung diskriminatif.
Tulisan yang bagus, Ben.
Wah, jelas, seniyer!
Makasih banyak sharing-nya.
Kelasssss,
Tidak lah baik jika membuang sampah pada tempatnya,
Berserakan
Hahahah siap!
Ya ampun haha, kalau aku kenal sama pihak yang disebutkan di tulisan ini, ingin rasanya kukirimkan link tulisan ini ke mereka.
Beberapa waktu lalu juga sempat rame di sosmed tentang perbincangan di proses wawancara kerja. Pihak pewawancara menanyakan hal-hal dasar yang sudah tertera di CV, sementara pihak yang diwawancara merasa kurang dihargai karena menurutnya pihak pewawancara tidak menanyakan lagi hal-hal dasar yang sudah ada di CV. Aku menyimak diskusi di sosmed itu dan mendapati banyak insight dari kedua sisi.
Gas , Yan.
Kirimke bae.
Ecek2nyo salah kirim
🤣
Puas rasanya membaca bagian arogansi itu dibayar dengan penolakan yang setimpal. Seharusnya berani menawarkan diri bermitra itu karena minimal tahu dengan siapa yg sdg dihadapi.
Salam, Mas Benny. Saya penggemarnya esai-esai Anda dari lama. Selalu menggugah dan menarik untuk dicerna.
Salam kenal, Eki.
Makasih banyak sudah mampir.
Obok2 bae web ini.
Semoga banyak gunonyo tulisan2 di sini.☺️