Jangan-Jangan Lidah Keingintahuan Kita Sedang Kebas dan Pelan-Pelan akan Terbelah?

 Jangan-Jangan Lidah Keingintahuan Kita Sedang Kebas dan Pelan-Pelan akan Terbelah?

Nafsu, dalam segala kebudayaan, selalu menjadi lidah yang menjilat pisau: awalnya memuaskan, akhirnya mematikan.


Oleh Benny Arnas

Konon, orang Eskimo berburu serigala bukan dengan panah atau jebakan, melainkan dengan pisau dan darah. Mereka mengoleskan bilah baja dengan darah binatang, membiarkannya beku dalam suhu di bawah nol, lalu menancapkannya tegak di salju. Bau darah menarik serigala dari kejauhan. Hewan itu menjilat perlahan, lalu semakin cepat, sampai lapisan beku mencair dan lidahnya menyentuh pisau. Ia terus menjilat, mabuk oleh rasa, tak sadar bahwa darah yang ia nikmati telah bercampur dengan darahnya sendiri. Hingga akhirnya, ketika fajar datang, hewan itu mati di samping pisau yang ia cium dengan penuh gairah dalam keadaan yang mengenaskan:

lidah terbelah dua!

Begitulah manusia kini membaca. Kita menjilat layar demi layar, mengecap sensasi singkat dari kata-kata yang tidak menuntut kesabaran. Kita merasa tahu hanya karena sempat membaca ringkasan, merasa terdidik hanya karena menyentuh permukaan. Lidah keingintahuan kita telah kehilangan rasa. Ia kebas oleh darah kesenangan instan, oleh notifikasi yang lebih sering datang daripada jeda berpikir.

Dulu, membaca adalah bentuk ibadah pada waktu. Ia menuntut kesunyian, keuletan, dan disiplin. Kini, buku menjadi benda asing yang tak lagi punya daya magis. Kita membaca bukan karena ingin memahami, tapi karena takut tertinggal. Kita membuka halaman bukan untuk menemukan, tapi untuk mencari pembenaran bagi apa yang sudah kita yakini. Padahal, tak ada pembunuh pengetahuan yang lebih kejam daripada keyakinan yang malas berpikir.

Sebuah penelitian yang dimuat di Psychological Science (Gruber et al., 2014) menemukan bahwa rasa ingin tahu menempatkan otak dalam keadaan siap belajar dan meningkatkan retensi memori jangka panjang. Namun, dunia digital justru melatih kita untuk mencari sensasi, bukan makna. Curiosity, yang seharusnya menjadi motor pencarian, berubah menjadi sekadar dorongan untuk terus menggulir layar, berpindah topik sebelum sempat memahami apa pun. Kita tak lagi haus akan pengetahuan, melainkan kecanduan pada rangsangan yang cepat.

Cerita tentang nafsu yang mematikan bukan hanya milik serigala Eskimo. Dalam mitologi Yunani, Narcissus menatap pantulan wajahnya di air sampai ia mati tenggelam, bukan karena air itu jahat, melainkan karena ia tidak mampu menahan hasrat untuk terus memuja dirinya sendiri. Dalam kisah Mesopotamia, Gilgamesh gagal menemukan keabadian karena tak sabar menjaga tanaman kehidupan: ia tertidur, dan ular mencurinya. Dalam Al-Qur’an, ada kisah Qarun yang tertelan bumi karena mabuk kekayaan. Nafsu, dalam segala kebudayaan, selalu menjadi lidah yang menjilat pisau: awalnya memuaskan, akhirnya mematikan.

Kita hidup di zaman ketika pengetahuan disajikan seperti kudapan: manis, cepat, ringan, dan bisa dikunyah tanpa usaha. Kita tidak lagi membaca untuk membangun dunia dalam kepala, melainkan untuk mengisi ruang kosong di antara dua notifikasi. Dan seperti serigala itu, kita tidak sadar ketika yang mengalir bukan lagi darah pengetahuan, melainkan darah hasrat kita sendiri yang terkuras oleh berlebihnya konsumsi.

Namun yang lebih menakutkan dari kehilangan kebiasaan membaca adalah kehilangan kemampuan untuk merasa nikmat saat belajar. Nikmat yang seharusnya muncul ketika kita bertahan melewati kalimat-kalimat sulit, saat akhirnya memahami sesuatu yang dulu terasa asing. Nikmat itu kini digantikan oleh rasa puas yang cepat dan rapuh, seperti menelan gula sebelum lapar benar-benar tiba.

Simone Weil pernah menulis, “Perhatian adalah bentuk kasih yang paling murni.” Mungkin membaca pun begitu. Bukan tentang tahu, melainkan tentang memberi perhatian. Dan perhatian, seperti cinta, menuntut kesabaran untuk tidak berpaling.

Kita membaca demi terlihat pintar, bukan demi benar-benar menjadi bijak. Kita belajar demi nilai, bukan demi tumbuh. Bahkan dalam percakapan sehari-hari, kita lebih sering menunggu giliran bicara ketimbang mendengarkan. Dunia digital mempercepat semuanya, dan dalam percepatan itu, kita kehilangan daya untuk merenung.

Dalam sebuah studi lintas universitas yang dimuat di Educational Research Review (Delgado et al., 2018), ditemukan bahwa membaca di layar cenderung menghasilkan pemahaman yang lebih dangkal dibanding membaca di kertas, terutama untuk teks panjang dan reflektif. Pembaca layar membaca lebih cepat, tetapi cenderung kehilangan nuansa dan keterhubungan ide. Seolah otak kita kini lebih sibuk mengejar bentuk daripada isi.

Mungkin kita tak perlu “kembali” membaca, karena yang hilang bukan kebiasaan, melainkan keberanian untuk diam. Bacaan sejatinya tak butuh mata, melainkan keberanian menahan diri di tengah kecepatan dunia. Sebab setiap halaman adalah cermin yang tak akan memantulkan wajah siapa pun yang terburu-buru lewat.

Mungkin kita tak lagi membaca karena takut kehilangan ilusi tahu. Kita mengira pengetahuan bisa diringkas seperti takarir, padahal pemahaman tumbuh dari kehilangan arah. Bacaan yang baik selalu membuat kita tersesat dulu, lalu perlahan menemukan jalan pulang.

Di dunia yang berlari tanpa henti, membaca adalah bentuk perlawanan terakhir: menolak menjadi serigala yang mati dengan lidahnya sendiri.(*)

Lubuklinggau, 9 November 2025

Daftar Pustaka

Delgado, P., Vargas, C., Ackerman, R., Salmerón, L., & Llorens, A. (2018). Don’t throw away your printed books: A meta-analysis on the effects of reading media on reading comprehension. Educational Research Review, 25, 23–38. https://doi.org/10.1016/j.edurev.2018.09.003

Family Times. (n.d.). The way an Eskimo kills a wolf. Retrieved November 9, 2025, from https://www.family-times.net/illustration/the-way-an-eskimo-kills-a-wolf-11653/

Gruber, M. J., Gelman, B. D., & Ranganath, C. (2014). States of curiosity modulate hippocampus-dependent learning via the dopaminergic circuit. Psychological Science, 25(9), 1451–1462. https://doi.org/10.1177/0956797614532818

Weil, S. (1952). Waiting for God. New York: Harper & Row.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

8 Comments

  • Yang Benny tulis ini pernah saya diskusikan dengan Bapak di meja makan. Ada orang baca buku untuk pintar atau minterin orang lain. Awalnya di kelas 5 SD, saya membaca buku agar lupa bahwa tangan saya kini satu. Tapi setelah dewasa, saya membaca buku untuk bersenang-senang. Kemudian soal lidah, saya pernah menulis “Beruntung Aku Punya Lidah”. Tulisan-tulisanmu hebat dan mengingatkan saya duduk bersama Bapak di meja makan.

    • aha. terima kasih sudah berbagi cerita, Kang.

  • Paragraf pembukanya mencekam.

    • hahaha, memang itu tujuannya …

  • setelah baca serasa ada panggilan yang sangat penting untuk memperlambat, mendalamkan, dan menuntut perhatian dalam membaca dan belajar. Terima kasih Bang Ben untuk tulisan yang mengundang kita berhenti sebentar dan merenung..

    • Dan yg menang? Org eskimo nya

    • alhamdulillah, Dias.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *