Bergeraklah, Ide-ide pun Mendatangimu

 Bergeraklah, Ide-ide pun Mendatangimu

Saat tubuh bergerak, imajinasi ikut berlari. Ketika langkah menapak, gagasan menanjak.

OLEH BENNY ARNAS


Pada 2014, dua ilmuwan Stanford, Marily Oppezzo dan Daniel Schwartz, menemukan hal menarik: orang yang berjalan santai menghasilkan lebih banyak ide dibanding yang duduk diam. Bahkan, dalam beberapa percobaan, jumlahnya hampir dua kali lipat. Mereka menyebutnya “divergent thinking” alias kemampuan menemukan banyak kemungkinan dari satu hal.

Saya percaya, ada semacam energi yang mengitari kita ketika tubuh berada dalam kecepatan. Entah ketika motor menderu di jalan lengang, atau bus malam menembus jarak antarkota dengan ritme konstan, atau bahkan ketika kaki berlari pelan mengitari taman. Energi itu tidak kasatmata, tapi terasa: pikiran mengalir, hati ringan, imajinasi menetas satu demi satu. Saya menyebutnya “energi alfa”, semacam keadaan batin di mana tubuh sedang bergerak, tetapi pikiran sedang melayang dengan damai.

Dalam dunia neurosains, keadaan ini mungkin punya padanan yang lebih ilmiah: gelombang otak alfa, fase di mana otak santai tapi tetap waspada, tidak tegang tapi juga tidak lelap. “Effects of Physical Exercise on Individual Resting State EEG Alpha Peak Frequency” oleh Boris Gutmann dkk., menunjukkan bahwa latihan fisik intens dapat meningkatkan frekuensi puncak gelombang alfa. Hal itu sering kali berkorelasi dengan munculnya kreativitas. Tapi biarlah istilah ilmiah itu jadi urusan laboratorium. Bagi saya, pengalaman pribadi sudah cukup jadi bukti: saya paling mudah berpikir jernih dan menulis lancar ketika berada dalam kecepatan.

Sejak menyadari itu, saya berhenti menyia-nyiakan momen dalam perjalanan. Kalau dulu saya hanya menikmati pemandangan dari jendela, kini saya selalu mengenakan earphone, menyalakan audiobook, atau siniar. Dalam satu tahun terakhir, saya menyelesaikan lebih banyak buku audio daripada buku cetak. Bukan karena saya malas membaca, tapi karena saya menemukan “ruang produktif” baru di balik suara mesin dan gemetar jalan.

Saya masih ingat, dalam penerbangan panjang Jakarta–Amsterdam—sekitar 13 jam—saya menulis catatan perjalanan sepanjang 5.000 kata tanpa terasa. Tak ada distraksi, tak ada sinyal internet, hanya dengung mesin dan tubuh yang diam tapi sebenarnya sedang melaju 900 kilometer per jam. Aneh sekali: justru di tengah kecepatan ekstrem itulah saya merasa paling tenang.

Ketika jenuh menulis, saya beralih membaca. Dalam penerbangan Jakarta–Qatar–Turki, saya menamatkan biografi Gresya Polii setebal 400 halaman. Dua buku Eric Weiner—The Geography of Bliss dan The Geography of Genius—saya khatamkan dalam dua kali perjalanan pulang-pergi Jakarta–Amsterdam. Semua saya lakukan dalam “trance ringan”, seperti meditasi di udara. Ada semacam sinkron antara tubuh yang tak bergerak tapi melaju, dan pikiran yang diam-diam menempuh jarak lain: jarak ide.

Kecepatan, ternyata, bisa jadi ruang sunyi. Di tengah laju kendaraan, tubuh menyerah pada ritme, dan otak kita tak lagi melawan. Itulah saat paling subur bagi imajinasi. Banyak seniman, penulis, bahkan ilmuwan, mengaku mendapat ide bukan saat memaksa berpikir, melainkan ketika sedang berjalan, mencuci piring, atau berlari. Albert Einstein konon mendapatkan salah satu inspirasinya tentang relativitas saat bersepeda. Virginia Woolf menulis dalam A Room of One’s Own bahwa berjalan membuat pikirannya “mendengung lembut, seolah seekor lebah yang tahu arah bunga-bunga.”

Saya pun menjadikannya kebiasaan. Sejak Agustus 2022, saya rutin berlari. Tak cepat, tak jauh, tapi selalu. Dalam setiap langkah, ada denyut yang memompa bukan cuma darah, tapi juga gagasan. Banyak ide tulisan lahir dari situ—dari keringat dan detak yang stabil. Ada momen-momen ketika lari membuat saya seolah menyatu dengan udara. Tubuh saya memang bergerak, tapi pikiran sedang menari di tempat lain.

Itu adalah pengalaman saya. Saya kira saya tak sendiri. Mungkin banyak orang sebenarnya mengalami hal serupa, hanya saja tak menyadarinya. Orang yang tiba-tiba mendapat ide brilian saat menyetir sendirian. Siswa yang bisa menghafal lebih mudah saat berjalan bolak-balik di kamar. Penulis yang suka menulis di kereta karena suara roda besi seperti metronom bagi pikirannya. Semua itu bukan kebetulan.

Dalam sebuah laporan Stanford University yang terbit di Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition tahun 2014, dua ilmuwan perilaku—Marily Oppezzo dan Daniel L. Schwartz—menemukan bahwa berjalan dapat meningkatkan kemampuan berpikir divergen secara signifikan. Dalam eksperimen mereka, para peserta yang berjalan, baik di atas treadmill maupun di ruang terbuka, mampu menghasilkan ide kreatif hingga hampir dua kali lebih banyak dibanding mereka yang duduk diam. Artinya, tubuh yang bergerak ternyata memberi ruang bagi pikiran untuk ikut melangkah.

Bagi saya pribadi, setiap kali berlari dan menulis atau membaca dalam perjalanan, saya merasakan keterhubungan antara kecepatan, tubuh, dan kesadaran. Ada semacam keberkahan yang lahir dari gerak. Dan saya sering berpikir: mungkin memang demikianlah manusia diciptakan. Kita bukan hanya makhluk berpikir, tapi juga makhluk yang bergerak. Tubuh dan pikiran adalah dua sisi dari satu tarian yang sama.

Belakangan, saya tak lagi menganggap lari atau perjalanan jauh sekadar aktivitas fisik. Ya, lari, bagi saya, sungguh “sesuatu”. Sudahlah gratis, menyenangkan, sehat, dalam setiap gerak, selalu ada peluang bagi pikiran untuk terbang!

Saat tubuh bergerak, imajinasi ikut berlari. Ketika langkah menapak, gagasan menanjak. Saya jadi ingat kalimat Haruki Murakami, penulis Jepang yang juga pelari maraton, dalam bukunya What I Talk About When I Talk About Running: “Lari adalah metafora kehidupan. Ketika aku berlari, aku menulis juga, bukan dengan pena, tapi dengan napas.”

Mungkin itu sebabnya, di tengah lari, saya kerap berhenti sejenak hanya untuk menulis ide–yang tiba-tiba mencelat di kepala–di ponsel. Bukan karena takut lupa, tapi karena saya tahu: gagasan yang lahir dari energi alfa cepat datang, cepat pergi. Ia seperti burung yang hanya singgah sebentar di bahu kita.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa menulis, membaca, dan berpikir dalam kecepatan. Bukan hanya karena terasa efisien, tapi karena ada sensasi spiritual yang sulit dijelaskan. Tubuh bekerja, pikiran menari, hati tenang. Semua seimbang.

Kadang, ketika pesawat menembus awan dan dunia di bawah mengecil jadi titik-titik lampu, saya merasa sedang menulis dari dimensi lain. Dimensi di mana waktu berhenti, tapi gerak terus ada. Di sanalah saya paling jujur dengan diri sendiri, paling mudah bersyukur, paling mudah berkata dalam hati: Masya Allah, hidup ini ternyata begitu indah jika kita mau bergerak.

Jadi, saran saya, jika suatu hari kamu sedang berlari, berkendara, atau berada dalam perjalanan panjang, mungkin mendengarkan musik atau menatap layar tidak lagi memakan sebagai besar waktu “bergerak” yang sebentar itu. Ya, memanfaatkan “kecepatan” untuk aktivitas yang produktif menghadiahi kita sensasi tersendiri. Siapa tahu, di antara deru angin dan dengung mesin, ada yang menunggu untuk ditangkap: sebuah ide yang mungkin bisa mengubah cara kamu memandang dunia.

Ide memang suka bergerak. Ia bisa dikejar dan ditangkap bukan hanya ketika kita berpikir keras, tapi juga saat kita bergerak. Sebab, saat diri dalam kecepatan, imajinasi berloncatan, dan ide-ide pun berdatangan.(*)

Lubuklinggau, 26 Oktober 2025

Catatan:

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

2 Comments

  • keren banget Bang Ben!!! konsep “energi alfa” yang segerrr bangett, gimana kecepatan justru bisa membawa ketenangan dan melahirkan ide-ide baru 😍😍😍

  • Ooo trnyt namanya divergent, ak sering sih dpt ide2 kreativ saat lg naek motor dijalan, agak bahaya sbnrnya, tp divergent itu terjadi otomatis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *