Egalitarianisme dari Membaca
Siapa pun yang belajar dengan sungguh-sungguh berhak dihormati.
Oleh Benny Arnas
____
Pada 16 September 2009, Presiden Barack Obama berdiri di depan para murid Viers Mill Elementary School di Maryland. Ia datang bukan untuk membahas politik atau pidato kenegaraan, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: kebiasaan membaca. Di hadapan anak-anak yang duduk bersila, ia mengatakan bahwa membaca adalah keterampilan yang membuat semua pembelajaran lain mungkin dilakukan. Pernyataannya yang terkenal, “Reading makes all other learning possible,” kemudian dikutip banyak media pendidikan. Ketika saya melihat rekaman kunjungan itu bertahun-tahun setelahnya, saya tertegun bukan karena ia seorang presiden. Saya tertegun karena sikap rendah hati yang ia tunjukkan. Ia tidak berbicara sebagai seorang ahli dari segala bidang. Ia berbicara sebagai seorang pembelajar.
Dari adegan itu saya merasakan pelajaran pertama yang dibentuk oleh aktivitas membaca: kesadaran bahwa tidak ada manusia yang bisa menguasai semua ilmu. Seorang presiden pun tetap menempatkan dirinya sebagai murid ketika berdiri di depan pengetahuan. Membaca membuat seseorang merasakan luasnya dunia dan terbatasnya kapasitas diri. Ini bukan teori abstrak, melainkan kenyataan yang terlihat jelas pada cara Obama berbicara. Ia tidak menempatkan dirinya di atas anak-anak itu. Ia menempatkan dirinya bersama mereka.
Kesadaran seperti inilah yang melahirkan sikap egaliter. Ketika seseorang membaca banyak hal, ia akan memahami perbedaan antara bidang-bidang ilmu. Ia tidak akan meremehkan seorang ahli filsafat hanya karena ia sendiri pandai dalam ekonomi. Ia juga tidak akan menyepelekan penulis buku resep masakan hanya karena ia memiliki gelar akademik yang lebih panjang. Membaca membuat seseorang melihat bahwa setiap disiplin memiliki kedalaman, sejarah, metode, dan proses belajar yang tidak pernah singkat.
Oprah Winfrey adalah contoh nyata lain. Sebagai sosok yang bertahun-tahun memimpin acara paling berpengaruh di Amerika, ia tetap menempatkan membaca sebagai pusat hidupnya. Oprah’s Book Club yang ia bentuk pada 1996 menjadi salah satu gerakan membaca paling berpengaruh di dunia. Setiap kali Oprah merekomendasikan sebuah buku, penjualan buku itu bisa melonjak secara dramatis dan diskusinya menyebar ke jutaan orang. Ketika ia pernah mengatakan bahwa buku membuatnya memahami hidup orang lain tanpa perlu menjadi mereka, ia berbicara dari pengalaman yang panjang dan otentik, bukan dari teori. Ia tahu bahwa membaca membentuk kemampuan mendengar. Dari sanalah lahir sikap egaliter, karena seseorang yang terbiasa membaca akan lebih mudah menempatkan diri sebagai pendengar sebelum menjadi pembicara.
Pengalaman membaca yang luas juga membuat kita meletakkan ego pada tempatnya. Misalnya, ketika kita bertemu seorang ahli filsafat yang menghabiskan bertahun-tahun mempelajari etika, fenomenologi, atau pemikiran Yunani. Kita yang hanya membaca pengantar filsafat dua atau tiga buku akan otomatis menahan diri. Kita tidak merasa perlu memamerkan sedikit pengetahuan yang kita punya. Kita belajar menghargai proses panjang orang lain. Kutipan Wittgenstein, “batas bahasaku adalah batas duniaku,” menjadi lebih terang artinya ketika kita membaca karya-karyanya. Kutipan itu lahir dari pergumulan intelektual yang tidak bisa kita samakan dengan hafalan singkat.
Sebaliknya, ketika kita berbicara dengan seorang penulis buku resep yang memahami teknik memasak tertentu, kita kembali belajar merendah. Orang itu mungkin tidak mengutip Kant atau Hannah Arendt, tetapi ia bisa menjelaskan perubahan tekstur adonan hanya dari sentuhan tangan. Ia bisa menceritakan mengapa bumbu harus ditumis dengan urutan tertentu agar rasa tidak tumpul. Keahlian seperti itu dibangun dari pengalaman bertahun-tahun, sama seriusnya dengan penelitian akademik. Membaca membuat kita memahami bahwa pengetahuan tidak hanya lahir di ruang kuliah. Ia juga lahir di dapur, di pasar, di kebun, di perjalanan, di ritual keluarga. Ketika pemahaman itu terbentuk, kita menjadi pribadi yang tidak mudah meremehkan.
Dalam tradisi Islam, sikap ini juga dijunjung tinggi. Para ulama terdahulu menunjukkan dengan sangat jelas bahwa semakin luas bacaan seseorang, semakin rendah hati ia menjadi. Imam Malik, misalnya, dikenal sebagai salah satu ulama terbesar Madinah. Namun dalam banyak riwayat sahih, ia justru sering menjawab pertanyaan para penuntut ilmu dengan kalimat “la adri”, aku tidak tahu. Dalam satu kesempatan, seorang penanya datang dari jauh membawa empat puluh pertanyaan, tetapi Imam Malik hanya menjawab sebagian kecil dan menolak sisanya karena merasa ilmunya belum cukup. Ini bukan karena beliau tidak belajar, melainkan karena beliau benar-benar memahami keluasan pengetahuan yang belum ia jangkau. Kisah lain datang dari Imam Ahmad bin Hanbal. Ketika usianya sudah senja dan kedudukannya sangat dihormati, ia masih terlihat membawa tinta dan kitab catatan. Ketika ditanya mengapa ia terus belajar, ia menjawab, dari buaian hingga liang lahat. Dua kisah ini memperlihatkan bahwa semakin seseorang memperluas bacaan, semakin ia merasakan jurang pengetahuan yang belum ia masuki. Bacaan memberi kedalaman, tetapi juga menunjukkan kekosongan yang masih terbuka. Dari sinilah kerendahan hati tumbuh.
Membaca juga melatih kita untuk memahami batas diri. Andaikan kita seorang dokter, tentu ada bidang medis yang kita kuasai. Orang menghargai kita dalam ruang itu. Namun membaca membuat kita sadar bahwa kemampuan kita berhenti di titik tertentu. Ketika diskusi bergeser ke filsafat kebebasan atau sejarah peradaban, kita tidak memaksakan diri untuk terlihat serba tahu. Kita menunduk sejenak, memberi ruang kepada orang yang ilmunya lebih dalam di bidang itu. Begitu pula sebaliknya, seorang ahli filsafat akan menghormati dokter ketika berbicara tentang tubuh manusia. Inilah sikap egaliter yang lahir dari membaca. Kita tahu kapan harus bicara dan kapan harus mendengarkan.
Dalam kehidupan nyata, dampaknya sangat jelas. Kita menjadi lebih pelan dalam menilai orang lain. Kita tidak mudah mengomentari bidang yang bukan milik kita. Kita belajar bertanya dengan hormat. Kita tidak merasa perlu mencela pendapat orang lain hanya untuk menunjukkan kecerdasan. Kita memahami bahwa orang lain membawa perjalanan pengetahuan yang tidak bisa kita ukur dari permukaan.
Pada satu titik, membaca bahkan menjadi latihan etis. Ia mengubah cara kita berinteraksi. Ia mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya, dan semua itu harus dihargai. Kita belajar melihat kapasitas orang lain sebelum menilai. Kita belajar bahwa menjadi serba tahu bukanlah tanda kecerdasan. Justru mengetahui batas diri itulah yang menjadi tanda kedewasaan.
Ketika saya memikirkan kembali pidato Obama di sekolah dasar dan perjalanan panjang Oprah membangun budaya membaca, saya melihat pola yang sama. Membaca tidak hanya membuat orang pintar. Membaca membuat orang rendah hati. Membaca membuka banyak jendela, tetapi juga menunjukkan betapa banyak pintu yang belum pernah kita sentuh. Dari sinilah lahir sikap egaliter yang sesungguhnya. Bukan karena kita ingin terlihat baik, tetapi karena kita tahu bahwa ilmu tidak pernah menjadi milik satu orang saja.
Di titik ini, kita sejatinya terpahamkan bahwa membaca adalah cara sederhana untuk mengingat bahwa dunia luas dan manusia beragam. Siapa pun yang belajar dengan sungguh-sungguh berhak dihormati. Dan siapa pun yang membaca dengan kesadaran ini akan tumbuh sebagai pribadi yang tidak sombong, karena ia tahu bahwa pengetahuan selalu lebih besar daripada dirinya sendiri.
Sinai Selatan, 13 Desember 2025
Daftar Pustaka
_____
Obama, B. (n.d.) Reading makes all other learning possible… Available at: https://www.facebook.com/groups/promoteeverythinginbangkok/posts/3291953560960365/ (Accessed: 13 December 2025).
Oprah’s Book Club (2025) Wikipedia. Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Oprah%27s_Book_Club (Accessed: 13 December 2025).
Oprah Winfrey (2025) Wikipedia. Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Oprah_Winfrey (Accessed: 13 December 2025).
Sumber Sejarah Islam – Imam Malik bin Anas (2023) Maryam Sejahtera Journal. Available at: https://maryamsejahtera.com/index.php/Education/article/download/151/164 (Accessed: 13 December 2025).