Bisakah (Banyak) Membaca Membunuhmu?

 Bisakah (Banyak) Membaca Membunuhmu?


Membaca yang bisa membunuhmu bukanlah membaca buku terlarang atau berbahaya semata, tetapi kebiasaan membaca apa pun secara rakus, tergesa, dan tanpa tanggung jawab berpikir.

Oleh Benny Arnas

_____

Pada malam musim dingin itu, udara Stockholm menggigit hingga ke tulang. Di dalam istana, lilin-lilin masih menyala, meja makan belum sepenuhnya dirapikan, dan aroma susu hangat bercampur almond tertinggal di udara. Raja Aduolf Frederick duduk berat di kursinya, dadanya sesak, napasnya pendek. 

Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja menutup perayaan Shrove Tuesday dengan jamuan yang berlebihan bahkan untuk ukuran istana. Lobster, kaviar, sauerkraut, ikan asap, dan sampanye datang silih berganti. Semla disajikan berkali-kali, roti manis berisi pasta almond yang direndam susu panas. Sang raja terus mengangguk setiap kali pelayan kembali, seolah tubuhnya tak pernah mengajarkan kata cukup. Tak lama setelah itu, tubuhnya menyerah. Pada 12 Februari 1771, Adolf Frederick meninggal dunia. Sejarah lalu mengingatnya dengan julukan yang ironis: Raja yang Mati karena Kekenyangan!

Kisah ini kerap diulang sebagai anekdot ringan, seolah kematian dapat dijinakkan dengan humor dan jarak waktu. Namun ketika ditahan sejenak, peristiwa itu menyimpan lapisan makna yang lebih mengusik. Jamuan berlebihan sang raja bukan hanya cerita tentang tubuh yang kalah oleh nafsu makan, melainkan pengingat tentang cara manusia berhubungan dengan apa yang ia konsumsi. 

Kita tidak hidup dari makanan saja. Setiap hari, dengan ketekunan yang sama, kita menelan gagasan, menyerap argumen, dan membiarkan imajinasi serta keyakinan orang lain menetap di benak kita lewat bacaan. Membaca adalah bentuk konsumsi yang lebih sunyi, tetapi tak kalah intens. Jika tubuh memiliki batas yang bisa runtuh ketika dilampaui tanpa kendali, sulit menyangkal bahwa pikiran pun menyimpan kerentanan serupa.

Dari titik inilah membaca layak dipertanyakan ulang. Selama ini membaca buku diperlakukan sebagai aktivitas yang nyaris selalu baik, nyaris tak pernah dicurigai. Ia diasosiasikan dengan kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemajuan moral. UNESCO menempatkan literasi sebagai fondasi masyarakat demokratis. Riset neurologi menunjukkan bahwa membaca memperkuat koneksi saraf, meningkatkan empati, dan melatih daya abstraksi. Studi yang dimuat dalam jurnal Neurology pada 2013 menemukan bahwa aktivitas membaca berkaitan dengan perlambatan penurunan kognitif pada usia lanjut. Semua ini benar, tetapi kebenaran semacam itu sering membuat kita lengah.

Sebab membaca bukan hanya soal manfaat, melainkan juga soal cara. Buku adalah pikiran orang lain yang masuk ke kepala kita dalam keadaan paling terbuka. Ia bekerja pelan, menetap lama, dan membentuk cara kita memahami dunia. Sejarah memberi cukup banyak contoh ketika bacaan tidak sekadar memengaruhi individu, tetapi membelokkan masyarakat secara kolektif. Mein Kampf bukan dibaca sebagai teks kritis, melainkan sebagai kitab keyakinan. Ia diserap tanpa jarak, tanpa perlawanan nalar, dan hasilnya adalah normalisasi kebencian. Sejarawan Ian Kershaw menulis bahwa daya rusak ideologi Nazi tidak terletak pada kecanggihan argumennya, melainkan pada cara teks itu dikonsumsi secara massal dan tidak kritis.

Di tingkat personal, riset psikologi sastra menunjukkan bahwa membaca bersifat imersif dan afektif. Penelitian Keith Oatley dan Raymond Mar dari University of Toronto memperlihatkan bahwa pembaca fiksi cenderung menyerap perspektif tokoh secara emosional. Kemampuan ini memperkuat empati, tetapi juga membuka kemungkinan sebaliknya ketika teks yang dibaca mengglorifikasi kekerasan, keputusasaan, atau nihilisme ekstrem. Membaca, dengan kata lain, bukan tindakan netral. Ia selalu membawa risiko internalisasi.

Bahaya membaca jarang datang dari satu buku saja, melainkan dari akumulasi dan cara cerna. Membaca tanpa konteks sejarah membuat ide lama tampak seperti kebenaran mutlak. Membaca tanpa disiplin kritis membuat kesalahan faktual tampak sahih. Membaca hanya satu jenis buku menciptakan kepenuhan semu, seperti perut yang kenyang tetapi kekurangan gizi. Pierre Bourdieu menyebut kondisi ini sebagai ilusi pemahaman, saat tumpukan bacaan memberi rasa tahu tanpa benar-benar memahami.

Dalam dunia yang dipenuhi rekomendasi algoritmik, risiko ini semakin besar. Riset MIT Media Lab menunjukkan bahwa informasi keliru menyebar lebih cepat daripada informasi yang diverifikasi karena ia memicu emosi lebih kuat. Buku, esai, dan pamflet ideologis yang dibaca dalam ekosistem semacam ini mudah berubah dari sarana refleksi menjadi penguat prasangka. Kita membaca bukan untuk diuji, melainkan untuk dibenarkan.

Tradisi intelektual lama sebenarnya telah lama mewanti-wanti soal ini. Dalam khazanah Islam klasik, membaca selalu dibingkai dengan adab. Al-Ghazali menulis bahwa ilmu yang tidak disertai kerendahan hati justru menjauhkan manusia dari kebenaran. Membaca diperlakukan seperti ibadah, dengan syarat kesiapan batin dan tanggung jawab moral. Buku tidak pernah dianggap benda mati yang aman tanpa syarat.

Kembali ke meja makan Raja Adolf Frederick, tragedi itu bukan semata soal semla atau susu hangat, melainkan tentang kegagalan mengenali batas. Hal yang sama terjadi dalam membaca. Buku memang dapat menyelamatkan hidup, memperluas empati, dan menajamkan nalar, tetapi hanya jika ia dibaca dengan kesadaran. Tanpa jeda untuk memeriksa sumber, tanpa usaha memahami konteks, dan tanpa keberanian menolak gagasan yang keliru, bacaan berubah menjadi tumpukan ide yang tak tercerna. Ia tidak memperkaya, melainkan memberatkan. Membaca yang bisa membunuhmu bukanlah membaca buku terlarang atau berbahaya semata, tetapi kebiasaan membaca apa pun secara rakus, tergesa, dan tanpa tanggung jawab berpikir.(*)

Lubuklinggau, 26 Desember 2025

____

Daftar Pustaka

Britannica, T. Editors of Encyclopaedia. (2024). Adolf Frederick. Encyclopaedia Britannica.

https://www.britannica.com/biography/Adolf-Frederick

Kershaw, I. (2008). Hitler: A Biography. New York: W. W. Norton & Company.

Mar, R. A. and Oatley, K. (2008). ‘The function of fiction is the abstraction and simulation of social experience’, Perspectives on Psychological Science, 3(3), pp. 173–192.

Wilson, R. S. et al. (2013). ‘Cognitive activity and the cognitive morbidity of Alzheimer disease’, Neurology, 81(4), pp. 314–321.

UNESCO. (2017). Literacy Rates Continue to Rise from One Generation to the Next.

https://uis.unesco.org/en/news/literacy-rates-continue-rise-one-generation-next

Vosoughi, S., Roy, D. and Aral, S. (2018). ‘The spread of true and false news online’, Science, 359(6380), pp. 1146–1151.

Bourdieu, P. (1990). The Logic of Practice. Stanford: Stanford University Press.

Al-Ghazali. (2001). Ihya Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Nietzsche, F. (2001). Twilight of the Idols. Translated by R. J. Hollingdale. London: Penguin Classics.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *