Berhentilah, Begitu Berada di Puncak …
Buku tidak meminta kita menaklukkannya. Ia meminta kita hadir sepenuhnya.
Oleh Benny Arnas
____
Beberapa menit sebelum memulai pendakian ke puncak Sinai, saya duduk di sebuah bangku batu sambil menatap jalur gelap yang hanya diterangi senter peziarah. Udara malam di gurun begitu tipis dan dingin, membuat napas seolah menjadi asap yang pecah perlahan. Di kejauhan, kontur gunung memanjang seperti lipatan waktu yang membeku. Sambil menunggu rombongan bersiap, saya teringat sebuah gagasan lama yang terus kembali kepada saya dalam situasi-situasi yang tak saya duga. Gagasan itu sederhana, tetapi tidak pernah benar-benar selesai bekerja di dalam diri saya. Bahwa membaca sebaiknya dihentikan ketika sedang berada di puncak ketertarikan. Bahwa kenikmatan sebuah teks justru paling kuat ketika kita berani menutup buku pada saat kita paling ingin membukanya.
Saya pertama kali benar-benar percaya pada gagasan itu bertahun-tahun lalu, ketika sedang menunggu penerbangan di sebuah bandara dan tanpa sadar telah larut terlalu jauh di bab paling seru sebuah buku. Dunia di sekeliling saya hilang. Kursi plastik tidak lagi terasa keras, pengumuman berulang terdengar seperti suara samar, dan orang-orang yang berlalu lalang tampak seperti bayangan tanpa identitas. Tiba pada satu kalimat yang terasa seperti puncak, saya menutup buku itu. Bukan karena lelah, tetapi karena ingin memberi ruang pada apa yang baru saja saya baca. Dan keputusan berhenti di saat paling sulit itulah yang membuat saya menyadari bahwa membaca membutuhkan keberanian untuk tidak menuntaskan sesuatu secepat keinginan kita sendiri.
Kata Taha Hussein, membaca bukan hanya cara mengetahui dunia, melainkan cara menghidupkannya kembali. Kalimat itu terasa semakin benar justru ketika saya berhenti membaca. Sebab ketika kita berhenti pada puncaknya, imajinasi mulai bekerja lebih dalam. Ide yang baru saja muncul punya kesempatan untuk mengakar, bukan hilang tertimpa halaman berikutnya. Dan sejak saat itu, saya selalu mencoba memberi jeda ketika membaca sedang berada pada momen terbaiknya.
Saya pernah merasakan manfaatnya di sebuah kafe kecil di pusat kota. Lalu lintas terdengar seperti air yang terus mengalir, piring beradu, musik pelan berputar, dan orang-orang bergerak cepat seperti garis-garis cahaya. Di buku yang saya baca waktu itu, si tokoh sedang menghadapi pilihan moral yang rumit. Ketika saya merasa klimaksnya menanjak, saya menutup buku itu. Badan saya menolak, tetapi saya tahu saya harus berhenti. Saat menatap ke luar jendela, saya melihat perubahan langit, langkah orang-orang yang tergesa, dan seorang barista yang tertawa kecil kepada pelanggan tetapnya. Semua itu, entah bagaimana, memberi dimensi baru pada konflik tokoh dalam buku. Seolah dunia nyata mulai bernegosiasi dengan cerita yang baru saya tinggalkan. Dan di momen itu saya belajar bahwa buku tidak hidup sendirinya. Buku hidup dalam diri kita hanya jika kita memberi ruang bagi dunia untuk ikut bicara.
Penyair Afrika Barat, Leopold Senghor, pernah berkata bahwa pengetahuan adalah seperti benih yang butuh waktu untuk berakar sebelum tumbuh. Jika terus ditimpa benih lain, ia tidak akan pernah bertumbuh. Membaca pun demikian. Jika kita terus melaju tanpa berhenti, ide-ide itu tidak pernah punya kesempatan tinggal. Jeda adalah bentuk pemeliharaan.
Saya mengenal seorang teman yang membaca sangat cepat. Ia bisa menghabiskan tiga ratus halaman dalam dua jam. Ia bangga dengan kecepatannya, tetapi beberapa hari kemudian ia tidak mengingat apa pun dari buku-buku itu. Bacaan hanya lewat seperti angin. Ketika akhirnya ia mencoba berhenti di saat paling penasaran, ia mengaku proses itu menyakitkan, tetapi hasilnya jauh berbeda. Cerita itu bertahan lebih lama di kepalanya karena diberikan jeda. Ia memberi tanahnya waktu untuk menyerap.
Saya pun pernah melakukan hal sama dalam perjalanan kereta malam. Ketika konflik cerita mencapai puncaknya, saya menutup buku dan menatap gelap di luar jendela. Cahaya rumah yang sesekali muncul seperti kunang-kunang raksasa membuat imajinasi saya bergerak lebih pelan tetapi lebih dalam. Saya membayangkan tokoh utama dengan cara yang lebih manusiawi. Semua itu terasa mungkin hanya karena saya memutuskan berhenti.
Mendekati jalur pendakian Sinai, gagasan tentang berhenti di puncak itu kembali hadir. Di antara langkah-langkah pelan para peziarah, saya merasakan ritme yang sama seperti ketika membaca buku. Mendaki, seperti membaca, adalah kerja antara gerak dan diam. Setiap tikungan seperti paragraf, setiap tanjakan seperti bagian klimaks, dan setiap dataran kecil adalah jeda yang memberi ruang bagi napas dan makna.
Saya menapaktilasi jejak Nabi Musa yang, menurut kisah, naik ke puncak ini untuk menerima cahaya Ilahi. Pertanyaan itu terus bergerak di kepala saya. Apakah makna datang kepada mereka yang bergegas paling cepat, atau kepada mereka yang tahu kapan berhenti dan mendengarkan? Gunung batu ini seakan memberi jawaban melalui kesunyian yang menyelimutinya. Pemahaman tidak lahir dari langkah yang tak berhenti, tetapi dari titik-titik diam yang memberi tempat bagi sesuatu yang lebih besar untuk turun kepada kita.
Semakin tinggi saya mendaki, semakin sunyi dunia terasa. Hanya ada desir angin dan bunyi batu kecil di bawah sepatu. Di satu dataran sebelum puncak, gagasan itu muncul dengan terang. Ketika tiba di puncak gunung, kita tidak akan buru-buru turun. Kita berhenti, duduk, menatap sekeliling, dan menampung pengalaman. Puncak bukan tempat untuk pergi secepatnya. Puncak adalah tempat bagi jeda. Dan jika itu berlaku pada perjalanan fisik, mengapa tidak berlaku pada membaca? Ketika teks mencapai puncaknya, itulah saat terbaik untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menunda kenikmatan, tetapi untuk memperdalamnya.
Tiba-tiba saya merasa gagasan itu bukan hanya tentang membaca, tetapi tentang cara manusia menerima pengetahuan. Jika Nabi Musa berhenti di puncak gunung untuk menerima cahaya, bagaimana mungkin kita berharap mendapatkan makna jika kita terus bergegas? Berhenti bukan tanda kemalasan. Berhenti adalah bagian dari jalan. Berhenti adalah cara untuk membiarkan sesuatu meresap.
Jelang dini hari itu, ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat barisan peziarah seperti untaian cahaya senter yang bergerak perlahan. Langit sepi bintang, dan suara angin seperti bisikan lama. Seolah gunung ingin mengatakan bahwa makna tidak datang dari langkah yang cepat, tetapi dari keberanian memberi ruang. Bahwa jeda bukan hambatan, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri.
Dan di situlah, sekali lagi, seharusnya kita mengerti alasan selalu memilih berhenti ketika membaca sedang berada di puncaknya. Karena pada momen itulah pikiran bekerja paling baik. Karena di antara keinginan yang ditahan itulah makna tumbuh lebih dalam. Buku tidak meminta kita menaklukkannya. Buku meminta kita hadir sepenuhnya. Dan kehadiran penuh hanya mungkin jika kita tahu kapan harus menutup halaman, pada bagian paling seru sekalipun, meski sebentar sahaja.(*)
Sinai, 13-14 Desember 2025
⸻
Daftar Pustaka
Hussein, T. 2002. The Days: His Autobiography in Three Parts. Cairo: The American University in Cairo Press.
Senghor, L.S. 1991. The Collected Poetry of Léopold Sédar Senghor. Charlottesville: University Press of Virginia.
2 Comments
puncak bukan sekadar tujuan, tapi juga tempat untuk berhenti, merenung, dan menikmati proses.. 😊
Yeah. Betul, Dias!