Bayt al-Hikmah: Membaca Adalah Bahasa Semua Iman
Sumber ilustrasi: duniasantri.co
Ilmu adalah cahaya Tuhan yang tak memandang batas negeri.
Al Ma’mun
Oleh Benny Arnas
Ada malam-malam di Baghdad abad ke-9 ketika suara takbir dan tinta bertemu di bawah cahaya lentera. Di gang-gang dekat Sungai Tigris, suara pena terdengar seperti gremengan doa. Di sebuah bangunan berhalaman luas, para penerjemah, cendekiawan, dan penyalin duduk mengelilingi meja panjang. Di Bayt al-Hikmah alias Rumah Kebijaksanaan itu, mereka merayakan membaca bukan sebagai peristiwa sunyi, melainkan pesta pikiran.
Khalifah Al-Ma’mun (786–833 M), putra Harun al-Rasyid, mendirikan rumah ilmu itu bukan hanya untuk menyimpan buku, tapi untuk menyatukan dunia. Ia mengirim utusan ke Konstantinopel, Jundishapur, Alexandria, dan bahkan ke India untuk mencari naskah-naskah filsafat dan ilmu pengetahuan. Ketika naskah itu tiba di Baghdad, para sarjana dari berbagai agama (Muslim, Kristen Nestorian, Yahudi, dan Zoroastrian) membacanya bersama, menerjemahkannya ke bahasa Arab, lalu mendiskusikannya sampai fajar.
Dalam catatan sejarawan Ibn al-Nadim dalam Fihrist al-‘Ulum, ruangan itu dipenuhi suara. Seorang pembaca membacakan kalimat Yunani dari Organon karya Aristoteles, seorang penerjemah menimpali dengan versi Suryani, dan seorang ulama muda menulis padanannya dalam Arab klasik. Membaca, bagi mereka, adalah dialog lintas-bahasa lintas-iman antara masa lalu dan masa kini.
Yang memimpin kelompok penerjemah itu adalah Hunayn ibn Ishaq, seorang dokter Kristen berbahasa Arab dan Yunani. Ia dikenal begitu hati-hati. Sebelum menerjemahkan, ia membaca naskah Yunani tiga kali: pertama untuk memahami, kedua untuk mencatat istilah, dan ketiga untuk memastikan maknanya hidup dalam bahasa Arab. “Aku menerjemahkan bukan kata,” tulisnya dalam salah satu surat yang masih tersisa, “melainkan jiwa teks itu.”
Dalam pandangan Al-Ma’mun, pengetahuan bukan milik satu bangsa. Ia mengirim pesan kepada kaisar Bizantium untuk meminta manuskrip Aristoteles dengan janji perdamaian. “Ilmu,” katanya, “adalah cahaya Tuhan yang tidak mengenal batas negeri.”
Malam-malam di Bayt al-Hikmah adalah bukti dari kalimat itu. Di sana, orang tak hanya membaca huruf, tapi membaca dunia. Astronom mengukur lintasan bintang, ahli matematika menulis rumus, sementara para penyair berdiskusi tentang logika dan cinta. Mereka semua duduk di bawah satu atap, karena bagi mereka, pengetahuan adalah ibadah yang tak mengenal denominasi.
Dari ruangan itu, lahir karya-karya monumental: Almagest karya Ptolemy diterjemahkan menjadi Al-Majisti, buku kedokteran Galen diterjemahkan menjadi Kitab al-Adwiya, dan teks matematika India melahirkan sistem angka yang kelak kita kenal sebagai angka Arab (1, 2, 3 …). Tapi yang lebih penting dari semua itu bukan naskah-naskahnya, melainkan cara mereka membaca: bersama-sama.
Sejarawan modern seperti Jim Al-Khalili menyebut Bayt al-Hikmah sebagai “Google abad pertengahan”—tempat semua pengetahuan dikumpulkan dan disebarkan tanpa dinding dogma. Namun istilah itu masih terlalu sempit, sebab di Baghdad, membaca bukan sekadar pencarian informasi. Ia adalah cara memuliakan ciptaan. Setiap huruf dibaca dengan rasa syukur, setiap terjemahan dianggap sedekah intelektual.
Ada kisah yang disampaikan oleh sejarawan al-Qifti: suatu malam, Al-Ma’mun bermimpi bertemu Aristoteles. Dalam mimpi itu, sang filsuf Yunani berkata, “Kebenaran adalah milik siapa pun yang mencintainya.” Sejak hari itu, sang khalifah memerintahkan agar semua naskah diterjemahkan tanpa pandang agama. Karena itu, di Bayt al-Hikmah, seorang imam bisa duduk berdampingan dengan biarawan, dan mereka membaca satu kalimat yang sama dalam tiga bahasa berbeda.
Di masa itu, Baghdad memiliki lebih dari seratus perpustakaan umum, dan Bayt al-Hikmah menjadi jantungnya. Di sana, membaca tak berhenti di ruang studi. Setiap sore, hasil diskusi dipresentasikan di taman, di mana pedagang, pelajar, pengrajin datang mendengarkan. Membaca berubah menjadi festival rakyat.
Bayangkan: seorang pengrajin tembaga dari Basrah berdiri di antara ulama untuk mendengar tentang bentuk bumi; seorang anak muda dari Kufah menyalin ayat tentang bintang-bintang di atas kertas perkamen. Itulah wajah literasi yang paling indah: ketika membaca bukan simbol elit, melainkan kesetiaan pada rasa ingin tahu manusia.
Namun keindahan itu tak abadi. Ketika pasukan Mongol menyerbu Baghdad pada 1258, perpustakaan itu ikut musnah. Catatan Ibn al-Athir menulis bahwa air Sungai Tigris berubah menjadi hitam karena tinta ribuan buku yang dilemparkan ke sungai. Bayt al-Hikmah hilang secara fisik, tetapi semangatnya tak pernah padam. Dari arus pengetahuan itu lahir generasi ilmuwan besar seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina.
Hari ini, berabad-abad kemudian, kita hidup di dunia yang berisik tapi sering sunyi dari percakapan sejati. Kita membaca sendirian, berlomba-lomba menyelesaikan buku, mengunggah kutipan tanpa sempat berdialog. Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak buku, tapi cara lama seperti di Baghdad: membaca bersama, berbagi, dan saling mendengar.
Sebab membaca sejatinya adalah tindakan sosial: setiap kalimat baru berarti pertemuan, setiap halaman adalah undangan. Bayt al-Hikmah telah membuktikan bahwa ilmu tidak tumbuh dalam lingkaran yang nyaman. Ilmu menyeruak karena keberanian untuk mendengarkan.
Dan mungkin, di setiap ruang baca modern, dari perpustakaan kecil di Rupit sampai ruang digital di Kairo, roh Bayt al-Hikmah masih berbisik: jangan menyimpan ilmu sendirian. Sebab setiap makna akan menjadi lebih terang bila dibaca bersama.(*)
Lubuklinggau, 9 November 2025
Daftar Pustaka
- Al-Khalili, Jim. The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance. New York: Penguin, 2011.
- Britannica, Encyclopaedia. “Bayt al-Hikmah (House of Wisdom).” Encyclopaedia Britannica Online. 2024.
- Gutas, Dimitri. Greek Thought, Arabic Culture. London: Routledge, 1998.
- Kennedy, Hugh. When Baghdad Ruled the Muslim World: The Rise and Fall of Islam’s Greatest Dynasty.Cambridge: Da Capo Press, 2006.
- Nasr, Seyyed Hossein. Science and Civilization in Islam. Harvard University Press, 1968.
- UNESCO Archives. Heritage of Knowledge: The House of Wisdom and the Translation Movement. Paris: UNESCO, 2022.
2 Comments
Keren Bang Benn perenungan hangat ini.. semoga kita semua tergerak untuk membaca lebih dalam, berbagi lebih luas, dan membangun ruang kolaborasi yg menjembatani iman, budaya, dan ilmu 🥹
Dias, dak kalah keren eui!