Bagaimana Ilmu Bertahan (Lama)

 Bagaimana Ilmu Bertahan (Lama)

Membaca: kemewahan dialog dengan penulisnya

Kita mungkin tidak langsung menyadari bahwa halaman yang terasa berat untuk dipahami justru akan menjadi bagian yang paling kita ingat.

Oleh Benny Arnas

______

Pada awal Juni 2024, saya menemukan sebuah buku tua di lantai satu koleksi umum Perpustakaan Leiden. Judulnya The Art of Memory karya Frances A. Yates. Buku itu sudah kusam, sampulnya terkelupas, dan kertasnya mulai rapuh. Tetapi ketika saya membacanya, saya dikejutkan oleh kedalaman riset Yates tentang bagaimana manusia, dari para orator Romawi hingga filsuf Renaisans, membangun istana ingatan untuk mempertahankan pengetahuan. Apa yang ditulis Yates hampir enam puluh tahun lalu tetap melekat di kepala saya jauh setelah saya menutup halaman terakhir. Saya baru sadar kemudian bahwa pengalaman itu bukan soal kebetulan, melainkan soal usaha. Saya membaca buku itu pelan karena bahasanya menantang; saya menandai paragraf, membuka catatan kecil, dan sesekali berhenti untuk merenungkan maksud penulis. Rupanya, justru karena saya harus berjuang untuk memahaminya, pengetahuan itu menancap lebih dalam.

Semakin saya memikirkannya, semakin jelas bahwa cara kita memperoleh ilmu sangat menentukan lamanya ia tinggal di kepala. Ketika sesuatu datang terlalu mudah, otak memperlakukannya seperti tamu singgah yang tidak perlu dikenali. Ia lewat begitu saja. Banyak penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa memori jangka panjang terbentuk bukan oleh banyaknya informasi yang diterima, melainkan oleh tingkat keterlibatan mental saat kita memprosesnya. Jika sebuah gagasan kita perjuangkan, otak mencatat perjuangan itu sebagai alasan untuk mempertahankannya. Tetapi jika ia datang tanpa tantangan, otak tidak merasa perlu menyimpannya. Konsep ini dikenal dalam literatur psikologi sebagai desirable difficulties dan diperkenalkan oleh Robert A. Bjork dan Elizabeth Ligon Bjork.

Di sinilah membaca memberi teladan proses yang paling jujur. Buku tidak menawarkan jalan pintas. Kita harus membuka halaman pertama meski belum memahami arah ceritanya. Kita harus mengikuti alur yang kadang berliku, menafsirkan paragraf yang tampak kabur, atau menunggu berpuluh halaman sebelum menemukan inti gagasannya. Proses ini mengharuskan kita menyusun makna sedikit demi sedikit, seolah membangun sebuah jembatan secara manual, bukan menerima jadi. Upaya inilah yang membuat pengetahuan dari buku bertahan, karena ia terbentuk bersamaan dengan tenaga, waktu, dan perhatian yang kita curahkan.

Ada bagian tertentu dari membaca yang selalu membuat saya sadar bahwa ilmu tidak pernah dimaksudkan untuk datang secara instan. Kadang kita baru merasakan keseruan sebuah buku pada halaman keseratus, kadang hikmahnya baru terlihat ketika seluruh rangkaian cerita selesai. Tidak jarang pula kita baru memahami nilai sebuah buku setelah menutupnya dan memikirkannya kembali di jalan pulang. Semua jeda, penantian, dan ketidaksabaran kecil itu adalah bagian dari kerja mental yang mengikat pengetahuan pada diri kita. Kita ingat bukan hanya apa yang disampaikan buku itu, tetapi bagaimana kita sampai kepada pemahamannya.

Saya juga teringat akan tradisi literasi klasik Islam yang menekankan kesabaran dalam belajar. Misalnya, karya klasik seperti Adab al-Muqri wa al-Sami oleh al-Ajurri mendorong pembaca untuk memperhatikan teks dengan teliti dan perlahan. Setiap kalimat memaksa pembaca berhenti sejenak untuk menafsirkan kembali, membangun pemahaman bertahap. Prinsip ini sejalan dengan temuan modern tentang desirable difficulties dalam psikologi belajar.

Hubungan antara upaya dan jejak pengetahuan sebenarnya sudah lama diperhatikan. Ketika seseorang membaca dengan perlahan, mencari rujukan, menandai bagian penting, bahkan mengulang paragraf yang tidak langsung ia pahami, otak menciptakan jejak memori yang lebih dalam. Pengetahuan tidak sekadar lewat, melainkan bergelayut dan mencari tempat tinggal. Inilah sebabnya materi yang tampak mudah, yang kita baca sambil lalu, sering hilang secepat ia muncul.

Para ulama dan cendekiawan Islam menekankan bahwa ilmu membutuhkan kesabaran. Memahami kitab menuntut pencarian bertahap; kesabaran dalam membaca merupakan bagian dari etika belajar, bukan sekadar teknik. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa ilmu yang diperoleh secara tergesa-gesa biasanya tidak menetap lama.

Di Asia Timur, prinsip serupa tertanam dalam tradisi belajar yang berabad-abad. Ajaran Confucius menekankan pentingnya refleksi dalam belajar. Seorang murid di era dinasti Ming bisa menghabiskan berbulan-bulan hanya untuk menyalin teks klasik sebelum memahaminya; proses menyalin itu sendiri merupakan bentuk membaca ulang yang memperkuat ingatan. Yang sulit justru yang tinggal.

Dari Afrika, seorang pendidik Ghana bernama James Emman Kwegir Aggrey dikenal dengan prinsip bahwa pendidikan bukan sekadar menghafal, tetapi memahami agar ilmu menetap dalam diri. Banyak sekolah tradisional di Afrika Timur menggunakan pola bercerita yang lambat, pengulangan kontinu, dan dialog sederhana sebagai metode pendidikan. Kecepatan dianggap musuh pemahaman.

Ada yang menarik ketika kita membandingkan dua jenis pengetahuan: yang datang dengan mudah dan yang datang dengan usaha. Informasi yang melintas di percakapan, yang kita dengar tanpa sengaja, atau yang muncul sekilas saat berselancar, biasanya tidak bertahan lama. Sebaliknya, ketika kita harus mencari, mengingat, mencatat, dan memahami dengan perlahan, otak menilai proses itu bernilai. Yang bernilai disimpan. Yang gratis dibuang.

Membaca buku menghadirkan simulasi paling sederhana dari kerja keras mendapatkan ilmu. Proses ini membangun tangga pemahaman satu per satu, dan di setiap pijakan ada sedikit tenaga yang dikeluarkan. Ilmu bergerak masuk secara perlahan, namun kokoh; seperti akar yang merambat, bukan kabut yang lewat.

Kita mungkin tidak langsung menyadari bahwa halaman yang terasa berat untuk dipahami justru akan menjadi bagian yang paling kita ingat. Penelitian Bjork menunjukkan bahwa memori menguat ketika kita melalui sedikit rasa tidak nyaman dalam proses belajar. Membaca yang metodologis dan pelan bukan sekadar memperoleh informasi, tetapi mempertahankannya.

Ilmu yang dicapai melalui membaca yang sabar tidak hanya menetap lebih lama, tetapi juga lebih mudah diaktifkan kembali. Kita bisa memanggilnya ketika diperlukan, menghubungkannya dengan pengalaman baru, dan menggunakannya dalam konteks berbeda. Ilmu seperti itu menempel pada diri karena proses yang kita lalui untuk memperolehnya.

Dalam perjalanan intelektual sepanjang hidup, saya menemukan pola yang sama. Apa pun yang diraih tanpa usaha cepat pudar; apa pun yang dipahami dengan kerja keras menetap lebih lama. Membaca hanyalah contoh paling nyata dari hubungan itu. Ia mengajak kita merasakan sendiri bahwa ilmu yang diperjuangkan akan lebih setia tinggal di kepala. Buku tidak pernah terburu-buru; ia membiarkan kita mengalami pelan-pelan bahwa pengetahuan menjadi bagian dari diri kita bukan pada saat kita menemukannya, melainkan pada saat kita berproses untuk mencapainya.

Kairo, 11 Desember 2025

____

Daftar Pustak

Bjork, E. L. & Bjork, R. A., 2011. Making things hard on yourself, but in a good way: Creating desirable difficulties to enhance learning. In: M. A. Gernsbacher, R. W. Pew, L. M.

Bjork, R. A. & Bjork, E. L., 2020. Desirable difficulties in theory and practice. Journal of Applied Research in Memory and Cognition, 9(4), pp.475‑479.  

Bjork, R. A. & Bjork, E. L., 1992. A new theory of disuse and an old theory of stimulus fluctuation. In: A.

Healy, S. Kosslyn & R. Shiffrin (eds.) From Learning Processes to Cognitive Processes: Essays in Honor of William K. Estes. Hillsdale, NJ: Erlbaum.  

Hough & J. R. Pomerantz (eds. Psychology and the Real World: Essays Illustrating Fundamental Contributions to Society. New York: Worth Publishers.  

Yates, F. A., 1966. The Art of Memory. Chicago: University of Chicago Press.  

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *