Bagaimana agar Tetap Membaca meski Sedang tak Ingin
Ilustrasi oleh @demauraisyah_arnas
Keteraturan dalam hidup memberi ruang bagi pikiran untuk menyelam lebih dalam.
Oleh Benny Arnas
_____
Setiap pagi pukul sembilan, setelah mengantar anak ke sekolah dan berlari 30 menit, saya membaca. Itu waktu yang saya jaga. Setelah mandi dan membuat kopi, saya duduk di meja, melepas jam tangan, dan meletakkannya di samping buku yang sedang saya baca. Sementara itu, suatu pagi di akhir pekan, seorang kawan mengeluh di media sosial: “Pengen banget baca banyak buku, tapi nggak pernah sempat!”
Kita sering menganggap jadwal sebagai batas, padahal jadwal justru menjaga agar kita tidak hanyut dalam kekacauan. Membaca hanya saat ingin berarti membiarkan diri ditentukan oleh fluktuasi perasaan, dan perasaan, sebagaimana cuaca, tak bisa diandalkan.
Ungkapan “creative works on mood” sering terdengar manis, tapi sesungguhnya menyesatkan. Tidak ada profesi lain yang bergantung pada mood. Dokter tetap mengoperasi meski lelah, guru tetap mengajar meski pikirannya penuh. Mengapa pembaca merasa perlu menunggu suasana hati yang “tepat” untuk membuka buku?
Membaca, seperti kerja intelektual lain, justru menuntut disiplin yang lebih tinggi. Haruki Murakami membaca dan menulis sejak pukul empat pagi setiap hari selama berjam-jam sebelum berlari sepuluh kilometer. Ia melakukannya bertahun-tahun tanpa jeda. Tidak ada rahasia, hanya rutinitas. Virginia Woolf membaca dengan kebiasaan yang serupa. Hemingway pun demikian: membaca setiap pagi sebelum hari benar-benar dimulai. Mereka tahu, kedalaman tidak datang kepada yang menunggu, tapi kepada yang menyediakan waktu.
Al-Ghazali pernah menulis dalam Ihya Ulumuddin, “Waktu adalah kehidupan; barang siapa menyia-nyiakannya, berarti telah menyia-nyiakan hidupnya sendiri.” Kalimat itu sederhana tapi tajam: disiplin waktu bukan semata urusan produktivitas, melainkan penghormatan pada hidup itu sendiri.
***
Rutinitas juga membantu menekan distraksi. Dalam dunia yang terus memanggil lewat notifikasi, distraksi adalah ancaman paling nyata bagi membaca. Penelitian dari American Psychological Association (2020) menunjukkan bahwa seseorang membutuhkan rata-rata 23 menit untuk kembali fokus setelah terdistraksi oleh ponsel. Satu gangguan kecil bisa memakan waktu setengah jam tanpa terasa.
Dengan jadwal, kita menciptakan batas psikologis yang tegas: otak tahu bahwa ini waktu membaca, bukan waktu luang. Ketika jam membaca tiba, tubuh pun menyesuaikan diri. Dorongan untuk membuka ponsel atau berpindah ke layar lain berkurang. Kita tahu, ini bukan waktu bermain.
Tanpa struktur waktu, batas antara “membaca” dan “bersantai” menjadi kabur. Akibatnya, membaca terasa berat, sementara waktu luang justru menjadi ruang kosong yang cepat terisi hal-hal remeh. Dua-duanya tidak memberi kedalaman apa pun.
***
Membaca dengan jadwal bukan berarti kehilangan spontanitas. Sebaliknya, jadwal memberi ruang bagi keterlibatan yang lebih utuh. Ketika pikiran terbiasa membuka buku pada jam tertentu, perhatian datang lebih mudah karena otak mengenali ritme waktunya.
Riset dari University of Toronto (2019) menunjukkan bahwa rutinitas waktu memperkuat ritme kognitif, pola internal yang membuat seseorang lebih cepat memasuki kondisi fokus. Keteraturan ini juga menjadi jangkar emosional.
Ketika saya sedang tidak ingin membaca, saya tetap duduk di kursi yang sama, membuka buku terakhir yang saya baca, dan membaca ulang paragraf terakhir dari halaman kemarin. Lima belas menit pertama sering terasa hambar. Tetapi setelah itu, perhatian mulai terbangun. Konsistensi semacam ini membuat saya tetap membaca bahkan di hari-hari ketika pikiran terasa berat.
***
Ada masa ketika jadwal saya berantakan karena perjalanan. Dua atau tiga hari tanpa membaca tidak masalah. Tapi ketika jedanya lebih panjang, saya mulai merasa kehilangan orientasi. Begitu kembali ke buku, saya butuh waktu lebih lama untuk tenggelam. Kalimat terasa asing, pikiran mudah melayang.
Dari situ saya belajar bahwa jadwal bukan sekadar alat manajemen waktu, melainkan cara menjaga kontinuitas batin. Membaca menuntut kedekatan dengan diri sendiri. Jika jeda terlalu lama, jarak itu melebar. Dan jarak itulah yang sering disalahartikan sebagai rasa “tidak ingin”.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Waktu seperti pedang; jika engkau tidak memotongnya, ia akan memotongmu.” Kalimat itu mungkin lahir dari dunia yang jauh dari konsep jadwal modern, tapi maknanya tetap relevan: waktu tidak netral. Ia bisa menjadi kawan yang menumbuhkan, atau lawan yang menggerogoti.
***
Kita sering mengira waktu luang memberi kebebasan, padahal ia sering menipu. Waktu luang yang tak diarahkan hanya melahirkan ilusi kesenangan. Kita berniat membaca “sebentar saja”, lalu berakhir berpindah ke layar lain. Kita membuka ponsel “sekadar mengecek”, tapi tersesat dalam gulungan konten.
Jadwal, sebaliknya, memberi batas dan arah. Dengan batas, kita tahu kapan membaca dan kapan berhenti. Tanpa batas, kita hanya berpindah dari satu distraksi ke distraksi lain.
Penelitian dalam British Journal of Psychology (2018) menunjukkan bahwa orang dengan rutinitas stabil cenderung lebih fokus dan memiliki kualitas tidur lebih baik. Rutinitas membuat tubuh dan pikiran mengenali ritme harian, sehingga energi tidak terkuras untuk beradaptasi terus-menerus.
Jadwal membuat kita tahu kapan harus berhenti dan kapan mulai lagi. Ia menata ritme batin sebagaimana ia menata waktu.
Kedisiplinan bukan lawan kenikmatan membaca. Justru sebaliknya, disiplin adalah syarat agar membaca memberi makna. Gustave Flaubert pernah menulis: “Keteraturan dalam hidup memberi ruang bagi pikiran untuk menyelam lebih dalam.”
Itu pula sebabnya, membaca tidak seharusnya diperlakukan sebagai aktivitas sambil lalu. Justru keistimewaannya ada pada hal ini: kita bisa menentukan sendiri waktunya, menjaganya, dan kembali kepadanya.
***
Jam tangan di meja kerja adalah simbol kecil dari prinsip itu. Ia mengingatkan bahwa waktu tidak bisa dikendalikan, ia hanya bisa dijaga. Begitu jam itu saya lepas, artinya saya masuk ke wilayah membaca. Begitu saya memakainya lagi, waktu membaca selesai.
Simbol semacam ini membantu menjaga disiplin. Ia memberi sinyal konsisten bahwa kegiatan dimulai dan diakhiri dengan sadar. Kebiasaan kecil seperti ini mengubah pola pikir dari “saya harus membaca” menjadi “sekarang waktunya membaca”. Anda tentu bisa memilih simbol sendiri: yang paling Anda sukai, yang paling menyenangkan, dan yang lebih penting adalah yang paling bisa Anda patuhi!
Dan mungkin, hanya itu yang dibutuhkan agar seseorang tetap bisa membaca meski sedang tak ingin.(*)
Lubuklinggau, 27 Oktober 2025