Apa yang Harus Dilakukan ketika Membaca Tak Cukup Lagi …

 Apa yang Harus Dilakukan ketika Membaca Tak Cukup Lagi …

Sumber: iStock

Kita mengenal kegembiraan membaca seperti mengenal degup jatuh cinta.

Oleh Benny Arnas

Pada suatu sore yang temaram di halaman perpustakaan Leiden, aku pernah menyaksikan seorang anak kecil berhenti membaca sebuah buku bergambar. Ia menutup buku itu perlahan. Sepertinya bukan karena bosan. Matanya tiba-tiba menerawang jauh, seolah ada suara lain yang memanggil dari balik halaman. Anak itu diam lima detik, lalu memutar tubuhnya ke arah adiknya yang masih balita. Dengan percaya diri yang hanya dimiliki usia enam tahun, ia membuka kembali buku itu dan mulai membacakan cerita … meski jelas ia belum benar-benar bisa membaca.

Itu adalah momen paling jujur dari sebuah “perpindahan fase literasi”: dari digembirakan oleh teks, menuju kegembiraan memberi cerita kepada orang lain, meskipun lewat pura-pura membaca, menghafal, atau sepenuhnya berimajinasi. Fase itulah yang dijelaskan Barbara Rogoff (1990) dalam gagasan cultural apprenticeship, ketika pembelajaran tidak diturunkan lewat instruksi formal, tetapi lewat kebiasaan hidup yang menular.

Dan setelah fase itu, tibalah fase yang paling panjang dan paling sunyi dan paling sendiri: kegembiraan membaca untuk diri sendiri. Inilah wilayah tempat para pembaca yang lahir dalam keluarga berkultur literasi menemukan rumah batinnya” jam-jam ketika buku bergambar berubah menjadi novel pertama, lalu esai panjang, lalu teks-teks yang semakin rumit sampai mereka benar-benar tenggelam dalam bahasa dan dunia yang hanya tampak di mata mereka sendiri.

Namun di fase inilah sesuatu berubah. Semula buku memberi jawaban; kemudian buku memberi pertanyaan; dan akhirnya buku mulai menyisakan kekosongan yang samar, seolah ada sesuatu yang seharusnya hadir tetapi tidak ditemukan di mana pun.

***

Kita mengenal kegembiraan membaca seperti mengenal degup jatuh cinta. Tetapi kita jarang membicarakan sisi yang lebih tenang namun lebih menentukan: ketika membaca tidak lagi cukup.

Tanda-tandanya hampir selalu muncul dengan cara yang sederhana. Mula-mula seseorang merasakan bahwa ada buku tertentu yang ia cari, tetapi belum pernah dituliskan siapa pun. Borges, dalam “The Library of Babel” (1944), mengatakan bahwa imajinasi manusia terus menuntut buku-buku yang tidak ada. Ketika kecintaan pada literasi tumbuh matang, perpustakaan dunia tiba-tiba terasa kurang lengkap.

Lalu muncul kegelisahan lain: seseorang menemukan tema yang ia sukai, namun tak bisa berdamai dengan cara penulisannya. Ini bukan soal kualitas, melainkan resonansi. Milan Kundera mengingatkan bahwa “loyalitas terakhir pembaca bukan kepada pengarang, tetapi kepada teks yang ia tunggu sepanjang hidupnya.”

Dan ada pula pengalaman yang lebih halus: menemukan buku dengan gaya bahasa yang menawan, tetapi dengan isi yang terasa seperti ruangan indah yang tidak dapat ditinggali.

Dari kegelisahan-kegelisahan yang tampak remeh itulah, perlahan, lahirlah dorongan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan: bukan lagi membaca, melainkan menulis.

***

Sejarah menyediakan banyak contoh yang menunjukkan bahwa momen “membaca tidak cukup” bukanlah dramatisasi, melainkan pengalaman manusiawi yang sangat wajar.

Mary Shelley salah satunya. Sejak kecil ia hidup dalam rumah penuh buku. William Godwin, sang ayah, adalah filsuf; Mary Wollstonecraft, ibunya, adalah tokoh penting feminisme awal. Tetapi Frankenstein (1818) tidak lahir dari limpahan bacaan semata; ia lahir dari ruang kosong. Ketika musim panas 1816 memerangkap mereka di Villa Diodati, Lord Byron menantang tamu-tamunya menulis cerita hantu. Shelley lalu mencoba menuliskan sesuatu yang belum pernah ia baca sebelumnya: kisah penciptaan makhluk hidup melalui ilmu pengetahuan. 

Dalam pengantar edisi 1831, Shelley mengakui bahwa gagasan itu muncul karena merasa “ide yang kucari tidak tertulis di mana pun, sehingga aku harus membayangkannya.” Dari ketaktersediaan dan keterbatasan lingkungan sekitar, lahir sesuatu yang belum ada.

Contoh lain datang dari Virginia Woolf. Ia tumbuh mengagumi buku-buku masa kecilnya, namun semakin dewasa, semakin ia menyadari betapa miskinnya literatur ketika suara perempuan dihilangkan. Dalam A Room of One’s Own (1929), ia menulis bahwa kesunyian perempuan dalam tradisi literasi membuat keseluruhan warisan sastra menjadi timpang. Kesadaran itu bukan sekadar kritik; itu adalah pengakuan bahwa apa yang ia butuhkan dari dunia buku tidak tersedia di sana. Maka ia mulai menulis untuk mengisi kekosongan itu.

Malcolm X juga mengalami jalan serupa, meski lewat rute yang jauh lebih keras. Dalam autobiografinya (ditulis bersama Alex Haley, 1965), ia berkisah tentang masa-masa di penjara ketika ia menyalin seluruh kamus demi bisa membaca buku-buku sejarah kulit hitam. Namun setelah membaca, ia mendapati bahwa banyak kisah Afrika ditulis tanpa keadilan. Dari situ lahir kebutuhan bukan hanya memahami, tetapi menafsir; bukan hanya menafsir, tetapi bersuara. Pada titik itulah membaca tidak cukup lagi baginya: ia harus menulis dan berbicara untuk membenarkan perspektif yang hilang dari teks-teks yang ia lahap.

***

Jika kita kembali ke fase masa kecil tadi, ketika anak itu pura-pura membacakan cerita untuk adiknya, kita sebenarnya melihat garis yang sangat jelas. Ada tiga bekal yang diam-diam diasah sejak awal: 

kegembiraan menerima cerita, 
kegembiraan memberi cerita, 
dan kegembiraan mencari cerita. 

Setelah ketiganya matang, barulah muncul kesadaran bahwa cerita yang ia cari belum tersedia di dunia.

Di situlah muncul fase keempat dalam perjalanan literasi seseorang: fase ketika seseorang mulai menulis bukan karena ia pandai, bukan karena ia ingin menjadi siapa pun, tetapi karena hasrat membaca yang setia membawa dirinya ke tembok yang tidak bisa ditembus lagi. 

Di situ, ketidakcukupan menjadi ruang kerja. Kekosongan menjadi meja kayu tempat ia menaruh ide-ide mentah. Imajinasi menjadi lampu kecil yang menyala ketika seluruh dunia tampak gelap. Ia menulis bukan untuk menggantikan membaca, tetapi sebagai perpanjangan dari membaca: perpanjangan yang lahir dari kebutuhan, bukan ambisi.

Setiap pembaca yang bertumbuh akan mengenali momen yang sama: momen ketika ia menutup buku, menarik napas panjang, dan menyadari bahwa halaman-halaman berikutnya yang ia cari tidak berada di tangan siapa pun. Milan Kundera pernah menyinggung hal ini ketika berbicara tentang pembaca yang setia: ada titik ketika kesetiaan itu berubah menjadi tugas:

tugas untuk menjaga cerita yang belum lahir.

Momen itu tidak datang dengan gegap gempita. Kadang hadir sesederhana rasa gelisah setelah membaca akhir novel yang tidak sepenuhnya menjawab kegelisahannya sendiri. Kadang datang sebagai bayangan tokoh yang terus menghantui pikiran, memanggil-manggil, menunggu diberi tubuh. Kadang sebagai dunia kecil yang ingin berdiri, tetapi tidak punya siapa pun untuk membangunnya.

Bukan karena ia selesai membaca. Bukan karena ia berhenti mencintai buku.Tetapi karena kisah yang ia butuhkan hanya bisa dimulai jika ia sendiri yang menuliskan kalimat pertama.

Pada akhirnya, bagi sebagian orang, perjalanan literasi sampai pada kalimat ini:

Bukan lagi “membaca tidak cukup,”
melainkan: membaca telah membawa kita sejauh ini.
Dan sisanya, harus kita tulis sendiri.(*)

Kairo, 22 November 2025

_______

Daftar Pustaka

Borges, Jorge Luis. “The Library of Babel.” Ficciones, 1941.

Calvino, Italo. If on a Winter’s Night a Traveler. 1979.

Haley, Alex & Malcolm X. The Autobiography of Malcolm X. 1965.

Kundera, Milan. The Art of the Novel. 1986. (Kutipan tentang loyalitas pembaca memang berasal dari esai-esainya soal estetika novel.)

Rogoff, Barbara. Apprenticeship in Thinking: Cognitive Development in Social Context. 1990.

Shelley, Mary. Frankenstein (Pengantar edisi 1831).

Woolf, Virginia. A Room of One’s Own. 1929.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

4 Comments

  • jadi ngingetin kalo nulis bisa menjadi cara terpenting untuk memberi suara pada imajinasi dan kebutuhan batin yang ga bisa lagi dijawab hanya oleh bacaan..

  • Terima kasih untuk tulisan-tulisannya Mas Benny.

    Meresapi untaian kalimat yang lahir dari kecakapan literasi yang matang. Menggiring pembacanya untuk berjalan lebih jauh, “menulis”. Tidak memaksa. Tapi, cukup menganggu pikiran.

    • Makasih, Mbak Melvi. Atas apresiasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *