Membaca, Intuisi, dan Keberanian untuk Tidak Populer
Hanya ketika intuisi yang terbentuk oleh bacaan dan diuji oleh keberanian dapat berjalan bersamalah, kita dapat membuat keputusan yang tidak hanya populer, tetapi juga benar.
Oleh Benny Arnas
Ketika Ignaz Semmelweis, seorang dokter Hungaria di pertengahan abad kesembilan belas, mulai menganjurkan bahwa dokter harus mencuci tangan sebelum menangani pasien bersalin, ia bukan hanya menantang rutinitas rumah sakit yang dipegang teguh selama dekade. Ia menantang otoritas ilmiah yang mapan pada masa itu. Angka-angka yang dikumpulkan menunjukkan bahwa mortalitas karena demam nifas jatuh dari hampir 18 persen menjadi kurang dari 3 persen setelah konsekuensi sanitasi diterapkan. Tetapi bukti empiris itu ditolak mentah-mentah oleh mayoritas komunitas medis yang lebih percaya pada teori miasma dan ego profesionalnya sendiri. Perlakuan terhadap temuan Semmelweis--bahkan ejekan hingga ia dicap sebagai berbahaya--kini menjadi salah satu contoh klasik bias kognitif yang kuat: penolakan terhadap bukti yang bertentangan dengan paradigma yang dominan. Ini disebut Semmelweis reflex, tendensi untuk secara otomatis menolak gagasan baru hanya karena ia bertentangan dengan keyakinan umum.
Peristiwa ini menggambarkan ketegangan antara dua cara kita membuat keputusan: satu yang dipandang sah karena disetujui banyak orang dan satu lagi yang lahir dari suara batin yang sering kali tidak populer. Intuisi sering dipandang rendah karena bekerja di luar lintasan analisis yang “ilmiah” atau “logis,” namun bukti kolosal sejarah menunjukkan bahwa intuisi yang matang yang dibentuk lewat pengalaman, jam terbang, dan pembacaan yang luas, sering kali memprediksi kebenaran jauh sebelum mayoritas menyadarinya.
Dalam psikologi, intuisi dibahas melalui konsep dual-process theory sebagaimana dijelaskan oleh Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow. Ia menguraikan bahwa terpadu dalam pikiran manusia terdapat dua sistem berpikir: Sistem 1 yang cepat, otomatis, dan intuitif; dan Sistem 2 yang lambat, reflektif, dan analitis. Banyak peneliti berpendapat bahwa intuisi bukan sekadar firasat spontan tanpa dasar, tetapi hasil akumulasi pengalaman dan pola yang terinternalisasi sehingga memampukan seseorang membuat penilaian cepat dalam situasi kompleks.
Kenyataannya, intuisi bukan hanya soal perasaan abstrak. Pada 2006, Malcolm Gladwell dalam bukunya Blink menelusuri fenomena pengambilan keputusan cepat berdasarkan informasi terbatas yang disebut thin-slicing. Ia menunjukkan bahwa dalam ragam konteks, dari seni hingga kedokteran, intuisi yang dilatih dapat menghasilkan penilaian yang tajam dan bahkan lebih akurat daripada analisis panjang yang terlalu banyak dipikirkan.
Namun tantangan muncul ketika intuisi berhadapan dengan kebutuhan untuk diterima secara sosial. Ketika individu merasa bahwa mengungkapkan keraguan atau keberatan bisa membuatnya disisihkan, peluang suara batin itu terdengar ikut menyusut. Inilah kondisi yang dijelaskan oleh Irving Janis dalam teori groupthinknya: suatu situasi ketika kelompok terlalu mengejar keseragaman sehingga menekan pendapat yang berbeda demi menjaga kohesi. Janis menelaah bencana bencana besar seperti invasi Teluk Babi pada tahun 1961 dan keputusan untuk tidak bersiap pada serangan Pearl Harbor, mengidentifikasi pola yang sama: pendapat yang bertentangan diabaikan, risiko dirasionalisasi, dan konsensus semu muncul meskipun bukti penolakan nyata ada di depan mata.
Pada invasi Teluk Babi itu, sejumlah penasihat militer dan intelijen CIA memiliki keraguan yang kuat tentang kelayakan strategi tersebut. Namun tekanan untuk mempertahankan kesatuan pendapat dan loyalitas terhadap pimpinan membuat mereka cenderung tidak mengungkapkan kecemasan mereka secara terbuka. Ketika operasi gagal, hasilnya bukan sekadar kegagalan militer, namun juga pelajaran yang mahal tentang bagaimana ketidakseimbangan antara suara mayoritas dan suara batin bisa berakibat bencana.
Contoh lain berasal dari lembaga yang secara historis dijunjung tinggi dalam riset dan akurasi: NASA. Pada 28 Januari 1986, peluncuran Space Shuttle Challenger menghasilkan tragedi ketika segel O-ring yang rentan terhadap suhu dingin gagal, menewaskan tujuh awak termasuk seorang guru yang menjadi simbol inspiratif pendidikan ruang angkasa. Insinyur telah memperingatkan potensi kerusakan karena suhu rendah, tetapi suara suara itu tidak cukup kuat untuk menunda peluncuran, yang dipaksakan oleh tekanan jadwal dan kepentingan publik. Banyak analis melihat insiden ini sebagai manifestasi groupthink, di mana keharmonisan tim dan pemenuhan agenda melebihi ketelitian pertimbangan risiko.
Kedua peristiwa tersebut menunjukkan bahaya ketika suara minor dan intuisi diabaikan demi konsensus. Ini bukan sekadar masalah psikologis, tetapi kegagalan struktural dalam cara kita membuat keputusan yang seharusnya kompleks. Riset manajerial juga menunjukkan bahwa keputusan yang efektif sering kali adalah yang menggabungkan evaluasi intuitif dengan refleksi analitis, bukan yang didasarkan semata pada mayoritas atau data saja. Sebuah studi di Journal of Education and Pedagogical Studies menunjukkan bahwa hampir 98 persen manajer menggunakan intuisi dalam pengambilan keputusan mereka, dan mereka yang menggabungkan intuisi dengan pemikiran konseptual cenderung menghasilkan keputusan yang berkualitas tinggi, terutama dalam situasi yang tidak pasti.
Pembacaan yang mendalam memperkaya intuisi dengan menyediakan konteks, contoh, dan nalar yang terlatih. Tanpa bacaan yang bervariasi, intuisi bisa menjadi egosentris dan bias. Namun ketika seseorang telah seumur hidup menyerap gagasan gagasan yang berbeda, ia lebih mampu mengenali pola pola kualitas dan risiko, ada atau tidaknya data eksplisit di atas meja. Itulah mengapa literatur serius tentang keputusan, etika, dan psikologi seharusnya bukan dianggap sebagai kemewahan, tetapi sebagai bahan bakar untuk intuisi yang matang.
Keberanian untuk mendengarkan intuisi tidaklah mudah. Ini adalah latihan terus menerus untuk mempercayai suara batin yang berbeda dari arus utama. Berani tampil beda bukan berarti memaksakan pendapat, tetapi mempertahankan ruang batin untuk mendengar, memahami, dan kemudian berbicara saat diperlukan. Dalam dunia yang semakin cepat mengagungkan opini populer, kualitas keputusan bukan diukur oleh seberapa banyak yang menyetujuinya, tetapi seberapa matang proses berpikir yang mendasarinya.
Intuisi bukan sekadar perasaan atau firasat yang tanpa dasar. Ia adalah akumulasi pengetahuan, pengalaman, dan refleksi yang hidup dalam kepala yang membaca, berpikir, dan menguji diri sendiri. Membaca memperluas wawasan, sementara keberanian untuk tidak selalu setuju dengan mayoritas membentuk keteguhan integritas. Hanya karena intuisi yang terbentuk oleh bacaan dan diuji oleh keberanianlah kita dapat membuat keputusan yang tidak hanya populer, tetapi juga benar.(*)
Lubuklinggau, 22 Desember 2025
____
Daftar Pustaka
Gladwell, M. (2005) Blink: The Power of Thinking Without Thinking. New York: Little, Brown and Company.
Janis, I. L. (1972) Victims of Groupthink: A Psychological Study of Foreign-Policy Decisions and Fiascoes. Boston: Houghton Mifflin.
Kahneman, D. (2011) Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
NASA (1986) Report of the Presidential Commission on the Space Shuttle Challenger Accident. Washington, DC: U.S. Government Printing Office.
Semmelweis, I. (1861) Die Aetiologie, der Begriff und die Prophylaxis des Kindbettfiebers. Pest, Wien und Leipzig: C. A. Hartleben.
Stanovich, K. E. and West, R. F. (2000) ‘Individual differences in reasoning: Implications for the rationality debate’, Behavioral and Brain Sciences, 23(5), pp. 645–665. https://doi.org/10.1017/S0140525X00003435
Sunstein, C. R. and Hastie, R. (2015) Wiser: Getting Beyond Groupthink to Make Groups Smarter. Boston: Harvard Business Review Press.
Tversky, A. and Kahneman, D. (1974) ‘Judgment under uncertainty: Heuristics and biases’, Science, 185(4157), pp. 1124–1131. https://doi.org/10.1126/science.185.4157.1124
2 Comments
Apa yang dialami oleh Ignaz Semmelweis juga dialami oleh banyak sekali tokoh/penemu penting, kebetulan aku baru-baru ini baca seri tokoh dunia Galileo, dan ternyata ia sempat dikucilkan lingkungan gereja karena Galileo mendukung heliosentrisme. Pembahasan Bang Ben tentang intuisi di tulisan ini keren!
Iyo, Yan. Sengajo aku ngambek contoh dio. Biar namo2 underrated pulo yang muncul hee.