Sepasang Sayap Pengetahuan
Gambar:i stockphoto
Membaca memberi bahan. Menulis mengikat pemahaman.
Oleh Benny Arnas
Pada suatu malam di musim panas tahun 1835, warga New York berdesakan di depan kantor The Sun.
Mereka menunggu koran edisi berikutnya, ingin membaca lanjutan laporan “ilmiah” yang menggemparkan kota: klaim bahwa bulan dihuni makhluk bersayap, pohon-pohon kristal, dan danau yang memantulkan cahaya ungu.
Kisah itu, yang kemudian dikenal sebagai The Great Moon Hoax, ditulis dengan begitu rapi dan berwibawa sehingga publik percaya penuh.
Orang membaca, tetapi tidak kritis.
Dan para editor menulis, tetapi tanpa tanggung jawab.
Sejak itu, sejarah mencatat satu hal sederhana: ketika menulis melaju lebih cepat daripada kemampuan membaca, dunia mudah terseret ke dalam keyakinan yang salah.
Kalimat “Tanpa membaca, menulis jadi berbahaya; tanpa menulis, membaca sungguhlah tidak cukup” terasa mendapat pembenarannya di banyak belahan dunia.
Pada 2011, ketika Arab Spring meletus di Tunisia, Mesir, Libya, hingga Yaman, media sosial menjadi medan utama.
Orang membaca berita, rumor, dan komentar.
Semuanya berputar cepat, bercampur antara fakta, tafsir, dan kebohongan.
UNDP (2013) melaporkan bahwa sebagian besar kekacauan informasi dalam revolusi itu terjadi karena menulis yang tergesa dan membaca yang tidak tuntas.
Satu unggahan bisa memicu kerumunan.
Satu kalimat bisa menggeser arah protes.
Di sisi lain, aktivis yang benar-benar membaca dokumen hukum, laporan HAM, dan sejarah politik menjadi pilar bagi pergerakan yang lebih terarah.
Mereka membaca untuk memahami.
Lalu menulis untuk menghimpun suara.
Dari Arab Spring, kita belajar bahwa menulis tanpa membaca dapat memicu panas, sementara membaca tanpa menulis membuat pengetahuan berhenti di kepala.
Pelajaran itu kembali muncul pada awal pandemi COVID-19.
WHO menyebut dunia bukan hanya dilanda virus, tetapi juga infodemic alias banjir informasi salah.
Hanya dalam beberapa bulan pertama 2020, lebih dari 6.000 berita palsu tentang COVID-19 beredar.
Ada tulisan yang mengklaim bawang putih bisa menyembuhkan virus.
Ada yang menyebarkan teori konspirasi tentang mikrocip.
Ada pula obat palsu yang membuat masyarakat tersesat.
Ini menegaskan sisi pertama kalimat dasar kita:
menulis itu berbahaya jika tidak ditopang oleh bacaan yang benar.
Namun di saat bersamaan, para ilmuwan Asia menunjukkan sisi lainnya.
Di Jepang, ahli epidemiologi Hitoshi Oshitani menulis penjelasan populer tentang cluster-based approach.
Tulisan itu lahir dari ribuan halaman riset yang ia baca.
Dan karena ia menulisnya dalam bahasa yang dapat dimengerti publik, strategi itu berhasil menjaga Jepang dari gelombang awal yang menghancurkan banyak negara lain.
Riset yang dibaca dengan serius.
Pengetahuan yang ditulis dengan jelas.
Keduanya saling melengkapi.
Afrika menyimpan pelajaran yang lebih pedih.
Pada genosida Rwanda 1994, Human Rights Watch (1999) mencatat peran krusial Radio Télévision Libre des Mille Collines dalam menyebarkan propaganda.
Para penyiar menulis naskah ujaran kebencian.
Pendengar tidak memiliki kebiasaan membaca sumber lain untuk menandinginya.
Ketika membaca hilang dari masyarakat, tulisan menjadi senjata.
Kata-kata kehilangan rem.
Namun Afrika juga menyimpan pelajaran yang menenteramkan.
Penulis Kenya, Ngũgĩ wa Thiong’o, dalam Decolonising the Mind (1986), menegaskan:
“Written words can free, but only when rooted in a reading reality.”
Baginya, tulisan yang membebaskan harus bersandar pada tradisi membaca yang kuat.
Ketika masyarakat membaca sejarah, bahasa, dan cerita mereka sendiri, tulisan menjadi alat untuk merawat identitas, bukan menghancurkannya.
Asia pun mencatat hal serupa.
Pada 2014–2017, India menjalankan Gerakan 1000 Sekolah Literasi.
Tidak hanya meminta anak membaca buku, program itu mewajibkan mereka menulis jurnal harian.
UNICEF India (2017) melaporkan bahwa sekolah yang menggabungkan membaca dan menulis mengalami peningkatan pemahaman bahasa hingga lebih dari 40%.
Membaca memberi bahan.
Menulis mengikat pemahaman.
Keduanya saling membutuhkan.
Di Vietnam, mural literasi di sekolah-sekolah menuliskan pesan sederhana:
đọc để hiểu: membaca untuk memahami.
viết để nhớ : menulis untuk mengingat.
Kalimat-kalimat itu melekat seperti refleksi paling singkat dari hubungan antara membaca dan menulis.
Dan kini, ketika memikirkan kembali semua peristiwa itu: The Great Moon Hoax, Arab Spring, infodemic COVID-19, genosida Rwanda, dan program literasi India, kita mulai memahami bahwa membaca dan menulis bukan dua aktivitas yang terpisah.
Mereka adalah sepasang sayap pengetahuan.
Sayap kiri adalah membaca: ia memperluas cakrawala.
Sayap kanan adalah menulis: ia memberi arah terbang.
Jika salah satunya patah, perjalanan kita akan miring.
Membaca yang tidak diikuti menulis hanya akan membuat pengetahuan mengendap seperti air tenang yang tak pernah mengalir.
Menulis yang tidak didasari membaca hanya akan menjadi riak berisik yang merusak.
Dunia memberi cukup bukti untuk itu.
Kita tidak kekurangan contoh.
Terang benderang kiranya, membaca adalah cara kita mengetahui dunia.
Menulis adalah cara kita menafsirkannya.
Keduanya adalah cara kita merawat dunia.
Maka benar adanya:
Tanpa membaca, menulis jadi berbahaya.
Tanpa menulis, membaca sungguhlah tidak cukup.(*)
Kairo, 28 November 2025
Daftar Pustaka
French, B. (1989). ‘The Great Moon Hoax’, Journal of American Culture, 12(1), pp. 49–54.
Human Rights Watch. (1999). Leave None to Tell the Story: Genocide in Rwanda. New York: Human Rights Watch.
Ngũgĩ wa Thiong’o. (1986). Decolonising the Mind: The Politics of Language in African Literature. London: James Currey.
Oshitani, H. (2020). ‘Cluster-Based Approach to COVID-19 Control in Japan’. Ministry of Health, Labour and Welfare Briefing Papers. Tokyo: Ministry of Health, Labour and Welfare.
The Sun. (1835). Lunar Discoveries Extraordinary. New York: The Sun Archives.
UNDP Regional Bureau for Arab States. (2013). Understanding the Arab Spring: Analysis and Policy Implications. New York: United Nations Development Programme.
UNICEF India. (2018). UNICEF Annual Report 2017. New Delhi: UNICEF.
World Health Organization. (2020). Managing the COVID-19 Infodemic: Promoting Healthy Behaviours and Mitigating the Harm from Misinformation and Disinformation. Geneva: World Health Organization.