Sebelum Kita Menjadi Kijang di Hutan Akasia
Sumber: commons.wikimedia.org
… dunia tak akan mati oleh kejahatan besar, melainkan oleh ketidaktahuan kecil yang dibiarkan bekerja setiap hari
Oleh Benny Arnas
Pada 1980-an, di kawasan Limpopo, para peneliti menemukan kijang-kijang terkapar tak berdaya. Setelah mencari tahu, akhirnya ditemukan: pohon-pohon akasia yang daunnya menjadi makanan kijang dan jerapah ternyata mengeluarkan tanin beracun ketika daunnya dirusak berlebihan.
Lebih dari itu, akasia mengirim sinyal kimia ke pepohonan lain agar ikut memproduksi racun. Tapi setelah manusia menebangi pepohonan tua, sinyal itu redup, lalu menghilang. Pohon-pohon muda terus menghasilkan racun, sementara hewan-hewan tetap makan dengan damai, tanpa sadar bahwa mereka sedang membunuh diri sendiri, perlahan-lahan.
Kematian massal itu bukan akibat kejahatan, tapi akibat ketidaktahuan yang dibiarkan. Satu rantai pengetahuan alami rusak, dan seluruh ekosistem runtuh.
Manusia, tampaknya, sedang menuju arah yang sama.
Sejarah manusia adalah sejarah tentang bagaimana pengetahuan melindungi kita dari diri sendiri. Tapi di setiap masa, selalu ada mereka yang lebih memilih kebisingan daripada pemahaman.
Pada Maret 1889, tujuh kapal perang dari Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman bersandar di pelabuhan Apia, Samoa. Langit menggelap, angin mengibarkan segala, tapi para komandan menolak memindahkan kapal ke laut lepas. Gengsi nasional lebih penting daripada membaca tanda-tanda alam. Ketika badai datang, tiga kapal karam, empat rusak berat, dan lebih dari dua ratus pelaut tewas. Begitulah ketika keputusan lahir lewat perkawinan kebodohan total dan kesombongan.
Ratusan tahun sebelumnya, ribuan prajurit Napoleon Bonaparte tewas di Sungai Elster, Leipzig. Seorang korporal muda meledakkan jembatan terlalu cepat karena salah membaca perintah mundur. Kesalahan kecil itu memutus jalan keluar ribuan tentara. Sejarah Eropa bergeser hanya karena satu tindakan yang tidak dilandasi kemampuan membaca situasi.
Lompatan waktu membawa kita ke tahun 2000. Kapal selam Kursk milik Rusia tenggelam di Laut Barents setelah ledakan kecil di ruang torpedo. Seluruh 118 awak tewas. Bukan semata karena ledakan, tapi karena berlapis-lapis inkompetensi: desain usang, latihan yang diabaikan, hingga keputusan politik yang menunda penyelamatan. Dunia menatap layar, menunggu kabar, sementara waktu dan oksigen habis karena orang-orang di atas terlalu takut terlihat lemah untuk meminta bantuan.
Dari Afrika hingga Eropa, dari abad 19 hingga abad 21, pola itu sama: orang mati bukan karena tak tahu, melainkan karena tak mau belajar.
Kalimat lama mengatakan: “Inkompetensi membunuh lebih banyak orang daripada bom atom.”
Hiroshima memang menghancurkan tubuh, tapi Chernobyl menghancurkan cara berpikir manusia.
Di reaktor itu, para teknisi menolak membaca ulang manual operasi karena merasa sudah ahli. Ketika sistem peringatan gagal, mereka menganggapnya kesalahan sensor. Beberapa jam kemudian, dunia menyaksikan ledakan yang mengubah sejarah energi selamanya.
Mungkin ini yang sedang terjadi di banyak tempat hari ini. Kita dikelilingi orang yang percaya diri memutuskan tanpa memahami, berbicara tanpa membaca, dan memimpin tanpa mendengar. Di tangan mereka, ketidaktahuan menjadi kebijakan, dan keyakinan tanpa dasar berubah jadi dogma nasional.
Mereka bukan jahat; mereka hanya tak terbiasa membaca.
Barbara W. Tuchman, dalam bukunya The March of Folly, menulis: “Sejarah adalah catatan panjang dari pemerintah yang terus menerus mengejar kebijakan yang bertentangan dengan kepentingannya sendiri.”
Kita mengenal pola itu di sini: keputusan besar diambil bukan berdasarkan riset atau telaah, tapi karena tekanan, selera, dan nostalgia yang dikultuskan. Maka setiap kali nama-nama pahlawan diumumkan dan sebagian membuat kita terdiam, itu bukan hanya soal siapa yang pantas, melainkan soal bagaimana bangsa ini membaca sejarahnya sendiri.
Membaca dengan jujur berarti berani melihat luka yang tak ingin kita ingat. Tapi kini, keberanian membaca sering disamakan dengan ketidaktahuan sopan santun. Padahal bangsa yang sehat bukan bangsa yang memaafkan masa lalunya tanpa belajar, melainkan bangsa yang menatap sejarah dengan kepala tegak karena tahu di mana kesalahan pernah dilakukan.
Membaca, dengan demikian, bukan kegiatan tenang yang santai di sore hari, tapi tindakan paling politis dari seorang warga negara.
Ketika Bung Hatta menulis bahwa ia “rela dipenjara asal bersama buku,” ia tak sedang romantis. Ia sedang menunjukkan bahwa membaca adalah cara bertahan hidup dari sistem yang menindas berpikir.
Ketika Tan Malaka menulis Madilog di tengah pelarian, ia sedang menanam alat berpikir agar bangsanya tidak menjadi pengikut abadi yang mudah dipimpin oleh suara keras dan logika malas. Mereka membaca bukan untuk tahu lebih banyak, tapi agar bangsa ini tidak salah membaca dirinya sendiri.
Kini, kita hidup di zaman ketika orang yang membaca dianggap elitis, sementara yang berbicara tanpa dasar dielu-elukan karena “berani bersuara.” Kita sedang menebang akasia tua yang dulu menjaga rantai pengetahuan, lalu berharap dunia tetap seimbang.
Dan, ya, kita semua sedang berada di hutan akasia itu. Setiap kali kita menolak belajar, setiap kali kita membela keputusan tanpa membaca konteks, setiap kali kita menukar kebenaran dengan kenyamanan, kita sedang memakan daun yang perlahan beracun. Dan racun itu tidak membunuh cepat. Ia membuat kita kebas terhadap akal sehat, tuli terhadap peringatan, lalu perlahan lupa cara berpikir.
Maka sebelum kita menjadi kijang di hutan akasia, barangkali satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah ini:
berhenti sejenak,
membaca tanda-tanda,
dan mendengarkan mereka yang masih mau berpikir pelan-pelan di tengah kebisingan.
Karena dunia tak akan mati oleh kejahatan besar, melainkan oleh ketidaktahuan kecil yang dibiarkan bekerja setiap hari.(*)
Lubuklinggau, 11 November 2025
______
Daftar Pustaka
1. Bryant, P. J., & Kuiper, D. (1980). The Toxic Defense of the African Acacia Trees.University of Natal Research Bulletin. (Lihat juga ringkasan ilmiah di New Scientist, 17 May 1980)
2. “1889 Apia Cyclone.” Wikipedia: The Free Encyclopedia. https://en.wikipedia.org/wiki/1889_Apia_cyclone
3. “Battle of Leipzig.” History Collection.
https://historycollection.com/incompetence-that-shaped-history/
4. “Kursk Submarine Disaster.” Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/event/Kursk-submarine-disaster
5. Medvedev, Zhores. (1991). The Legacy of Chernobyl. New York: W. W. Norton & Company.
6. Tuchman, Barbara W. (1984). The March of Folly: From Troy to Vietnam. New York: Knopf.
7. Hatta, Mohammad. (1979). Memoir. Jakarta: Tintamas.
8. Tan Malaka. (1943). Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. Jakarta: Narasi.