Tagihan yang Datang Kemudian

 Tagihan yang Datang Kemudian

Saya, di RS Hermina, sehari setelah operasi kantung empedu

Dari dua kali operasi dalam waktu kurang dari sepuluh hari ini, saya belajar bahwa …
tubuh bukan mesin tanpa buku petunjuk. Ia mencatat semuanya.

Oleh Benny Arnas

Dalam waktu kurang dari sepuluh hari, saya dua kali masuk ruang operasi. Yang pertama, operasi tenggorokan. Yang kedua, operasi batu empedu. Dua-duanya terdengar seperti dua episode yang tidak saling kenal, padahal sumbernya sama: kebiasaan lama yang dibiarkan, dirawat seadanya, lalu dianggap remeh sambil sesekali berkata, “Ah, paling juga tidak apa-apa.”

Operasi tenggorokan itu bermula dari sebuah makan siang yang jujur saja nyaris sempurna. Kamis, 21 Januari 2026, setiba di Lubuklinggau setelah pemeriksaan final di RS Hermina Palembang untuk penjadwalan operasi batu empedu, saya menyantap menu favorit: ikan asin sepat, digoreng garing, dengan bawang dan cabai potong. Tidak pakai lauk lain. Tidak pakai sayur. Tidak pakai rasa bersalah. Hanya itu. Dan nasi putih hangat.

Amboi. Sedapnya bukan main.

Masalahnya, saya terlalu bersemangat. Setelah piring mengilap, licin seperti rencana hidup yang saya anggap sudah beres, saya masih tergoda oleh bagian ikan sepat yang tampak paling berbahaya: kepalanya. Kecil, padat, crunchy, dan jelas penuh tulang. Tapi di kepala saya waktu itu hanya ada satu pikiran: “Sayang kalau tidak dimakan.”

Beberapa menit kemudian, semesta menegur.

Satu tulang ikan sepat parkir manis di amandel sebelah kanan. Saya langsung menjalankan protokol darurat warisan nenek moyang: menelan nasi putih hangat yang dibulatkan seperti bakso mini, dengan harapan tulang itu ikut turun. Satu bola nasi gagal. Dua bola gagal. Saya berhenti sebelum berubah dari korban menjadi pelaku kejahatan terhadap tenggorokan sendiri.

Pagi itu juga saya mendatangi Sarah, teman SMA saya yang kini menjadi dokter spesialis THT di RS Ar Bunda. Pemeriksaan dilakukan. Alat mirip mistar stainless dimasukkan ke kerongkongan.

“Tidak ada tulang,” katanya tenang.

“Mungkin terlalu halus. Atau sudah hancur.”

Saya mengangguk, setengah percaya, setengah ingin pulang cepat.

Dua jam setelah meninggalkan rumah sakit, tulang itu muncul lagi, seperti tamu yang sudah dipersilakan pulang tapi tiba-tiba berdiri lagi di depan pintu. Menyengat. Tajam. Setiap kali terasa, telinga kanan saya seperti ikut ditusuk dari dalam. Saya blingsatan. Kali ini tidak ada ruang untuk menyangkal.

Kontrol ulang. Jawabannya singkat dan tidak romantis: observasi. Alias, masuk ruang operasi.

Tanggal 22 Januari 2026, pukul satu siang, saya diproses lewat IGD. Setelah operasi kelopak mata 14 tahun lalu, inilah pertama kalinya lagi saya berbaring di bawah puluhan lampu ruang operasi yang dingin dan terlalu terang. Lampu yang membuat kita merenung tentang hidup, pilihan, dan kenapa tadi siang makan ikan sepat sampai ke kepala-kepalanya.

Tiga jam kemudian, ba’da Asar, saya keluar dari ruang operasi dengan sesuatu yang nyaris tidak masuk akal: sepotong tulang ikan sepat yang lebih mirip bulu ayam atau uban yang stres. Kecil sekali, tapi cukup untuk bikin drama nasional di tenggorokan saya.

Duh.

Belum selesai urusan tenggorokan, ada batu empedu yang sudah lama antre dengan sabar. Operasinya dijadwalkan pada 31 Januari 2026, pagi hari. Kita semua tahu kisah klasiknya: lemak dan kolesterol masuk tanpa imbangan air putih yang cukup. Tubuh bekerja lembur, kantung empedu menabung diam-diam, lalu suatu hari tabungan itu berubah wujud menjadi batu. Ini bukan kesalahan seminggu atau sebulan. Ini hasil cicilan panjang, sejak kecil hingga hari ini.

Maka, kalau ada yang bertanya, “Kok Bang Ben rajin lari lima tahun terakhir malah masuk rumah sakit terus?” jawabannya sederhana dan agak menyebalkan: kesalahan lama tidak otomatis lunas oleh kebaikan yang baru kita lakukan belakangan.

Tagihan tetap akan datang.

Bedanya hanya satu. Saat tagihan itu tiba, kita sedang dalam kondisi siap bayar atau masih tantrum, protes, lalu menyalahkan ikan sepat.

Hasil USG menunjukkan banyak batu empedu, tapi statusnya masih “belum berbahaya”. Dokter Yudis, spesialis penyakit dalam di RS Siloam, memberi saya pilihan yang terasa jujur sekaligus jenaka: operasi sekarang, saat kondisi tubuh masih relatif waras, atau nanti saja, saat datang dalam keadaan darurat. Demam, kolik hebat, mata menguning, urine gelap, dan wajah zombie.

Dokter muda itu benar. Ia bukan cuma paham medis, tapi juga paham hidup.

Daftar situasi darurat itu tidak ada pada saya. Saya datang dengan keluhan pipis yang intens dan pinggang yang sering sakit. Saya sudah cek HbA1c, ginjal, dan urin secara mandiri. Gula darah dan kantung kemih saya baik-baik saja, seperti laporan keuangan yang kelihatannya rapi tapi ternyata ada utang lama di pojok.

“Apakah karena saya rutin lari, Dok?” tanya saya, mencoba cari kambing hitam.

Dia diam sebentar. Lalu bertanya balik, “Aktivitas paling berat apa yang terakhir kamu lakukan?”

“Saya mendaki Gunung Sinai. Pertama kali lagi setelah 28 tahun.”

Dia tertawa. “Kita USG saja,” katanya, dengan senyum orang yang sudah sering melihat pasien merasa paling sehat sedunia.

Begitulah kisahnya.

Dari dua kali operasi dalam waktu kurang dari sepuluh hari ini, saya belajar bahwa kebiasaan baik itu bukan hanya soal hal-hal heroik seperti lari lima kilometer, mendaki gunung, atau unggah foto sehat di Instagram. Kebiasaan baik juga mencakup hal-hal kecil dan tidak seksi: mengunyah dengan hati-hati, tidak rakus saat makan enak, dan minum air putih yang cukup agar tubuh tidak bekerja sendirian membersihkan sisa-sisa kenikmatan kita.

Tubuh bukan mesin tanpa buku petunjuk. Ia mencatat semuanya.

Saya juga belajar bahwa hidup punya sistem akuntansi yang sangat rapi. Tidak semua kesalahan langsung ditagih. Banyak yang dicatat halus, disimpan lama, lalu dikirimkan saat kita merasa sudah berubah dan merasa “lebih sehat” dari sebelumnya.

Tagihan itu bukan kutukan. Ia sekadar pengingat, kadang dengan nada bercanda, kadang dengan pisau bedah.

Yang menentukan kedewasaan kita bukan ada atau tidaknya tagihan, melainkan cara kita menyambutnya. Dengan marah, drama, dan menyalahkan keadaan, atau dengan kepala dingin dan kesiapan untuk bertanggung jawab.

Saya bersyukur diberi kesempatan membayar saat saldo masih ada. Saat tubuh masih cukup kuat untuk pulih. Saat pikiran masih bisa belajar dan menertawakan diri sendiri.

Ke depan, mungkin saya masih akan tergoda oleh makanan enak, tantangan fisik, dan kebiasaan lama yang bandel. Tapi setidaknya sekarang saya tahu: setiap kenikmatan punya syarat, dan setiap kelalaian punya alamat penagihan.

Dan ketika tagihan itu datang lagi suatu hari nanti–karena pasti akan–semoga saya sudah duduk rapi, tidak tantrum, minum air putih dulu, dan tidak lagi merasa perlu membuktikan kejantanan dengan memakan kepala ikan sepat!(*)

RS Hermina Palembang, 1 Februari 2026

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *