Sembur Cahaya

 Sembur Cahaya

Ilustrasi: Budiono/Jawa Pos

Jawa Pos, 21 Februari 2026

Empat ratus tahun yang lalu, malam-malam pekan pertama Ramadan menetes dari langit seperti minyak wangi yang diperas dari bunga tanjung. Sungai Musi bergelombang pelan, berzikir bersama angin yang melintas dari hutan seberang, bersamaan dengan keberangkatan Pangeran Sido ing Kanayan dan rombongan ke luar istana.


Oleh Benny Arnas

________

Bakda Tarawih tadi, setelah membaca surat dari Sultanah Taj-ul Alam dari Aceh, aku menerima seorang janda muda. Rambutnya tergerai, memeluk anak kecil kurus yang menggigil. “Tanahku diambil, Ratu,” bisiknya. Aku tak kuasa menatap matanya yang nircahaya. Lalu datang pula seorang gadis, tubuhnya kaku, dipaksa menikah dengan lelaki setua ayahnya. “Apakah nasibku hanya mainan?” suaranya serak, hampir hilang.

Di ruang senyap ini, aku menulis dengan hati yang merah dan basah. Kata demi kata tumbuh menjadi pasal. Suara ngaji dari surau-surau sekitar menyayup ketika tintaku habis, angin malam membawa wangi cendana dari altar. Aku menatap bulan yang bulat di langit, lalu berbisik, “Jika tubuhku nanti kembali ke tanah, jangan biarkan suaraku ikut terkubur. Menjelmalah engkau, wahai Cahaya. Singgahlah ke tubuh siapa saja yang memanggilmu.”

***

Aku terbangun di sebuah rumah kayu di tepi kebun kopi. Udara pagi tipis, berembus membawa bau tanah lembap dan daun yang baru disiram embun. Di jendela, seorang lelaki Belanda berdiri, wajahnya pucat tapi matanya penuh cahaya. Ia mencintaiku, bukan sebagai penguasa yang datang dengan serdadu, melainkan sebagai manusia yang merindukan pulang.

“Aku ingin menetap di sini,” katanya suatu malam, sambil menempelkan pipinya di rambutku. Aku diam, sebab aku tahu cintanya lebih rapuh daripada hujan tropis: deras sebentar, lalu reda tanpa sisa. Namun aku tetap membiarkannya menanam bunga di halaman, mengajarkan kata-kata asing yang bergetar di lidahku. Ada bahagia yang singkat, seperti nyala lampu minyak diempas angin.

Lalu panggilan dari Batavia membawanya pergi. Aku menunggu, tapi musim demi musim lewat tanpa kabar. Yang tersisa hanyalah bekas dekapannya di malam terakhir, dan janji yang menguap seperti asap.

Ketika Nippon datang, aku hanyalah tubuh yang dicari. Bersama perempuan lain, aku diberi kimono lusuh, dipaksa tersenyum dan melayani. Malam-malam panjang itu seperti penjara tanpa dinding, hanya ada tubuh yang dibakar birahi dan air mata yang disembunyikan di bawah bantal jerami. Namun pertemuanku dengan juru masak barak menerbitkan sepucuk harapan. “Campurkan akar tuba yang ditumbuk halus ke dalam arak,” bisiknya.

Malam itu, ketika seorang kepala peleton memanggilku ke ruangannya, aku menuangkan minuman dengan tangan yang gemetar. “Untuk Tuan,” kataku lirih. Ia menenggak tanpa ragu. Tak lama, tubuhnya meronta, wajahnya membiru, napasnya tersengal. Aku menatapnya tanpa kata, hanya mendengar detak jantung yang menggelegar.

Perempuan-perempuan di barak menatapku dengan mata membesar. Ada takut, ada harap. Aku hanya berbisik, “Cahaya ini bukan untukku sendiri. Ia milik kita semua.”

Aku tahu setelah itu, tubuhku mungkin akan berakhir di lubang tanah, meski angin barat menyeretku ke belahan dunia yang dingin itu ….

***

Salju turun diam-diam, menutup atap rumah-rumah tua di Maksimir. Aku berdiri di jendela, memeluk tubuh sendiri, menatap lampu jalan yang redup seperti lentera kehabisan minyak. Di luar, bahasa Kroasia berputar di udara, kata-kata yang keras, dingin, dan tak punya irama tanah kelahiran.

Aku berada di negeri ini karena ditugaskan negara untuk belajar hukum di Soviet. Namun ketika Sukarno tumbang, aku malah divonis komunis. Pasporku tak berguna, dan aku terjebak di ruang tunggu sejarah. Lalu seorang lelaki datang—pejabat tinggi, berjas rapi, bernapas anggur dan tembakau. Ia menawarkanku perlindungan. “Di apartemenku saja. Aman.”

Aku tahu aman itu artinya: malam-malamku jadi upeti. Tapi aku terlalu lelah untuk melawan. Maka aku diam, membiarkan diriku jadi bayangan di ranjangnya, mendengar dengkurannya yang berat, menelan pahit yang tak pernah bisa kuterjemahkan.

Namun malam-malam asing itu selalu dibelah oleh satu suara: panggilan tanah air. Aku mendengar Sungai Musi dalam mimpiku, mendengar Pasar 16 Ilir dengan riuh pedagangnya, mendengar bahasa ibuku yang lembut sekaligus tajam. 

Aku mulai menulis surat untuk diriku sendiri. Surat-surat tanpa alamat, hanya berisi nama-nama: ibu, adik, rumah panggung, tanah basah di kebun lada. Kadang aku menangis di atas kertas, tintanya melebar seperti nadi yang pecah.

Suatu malam, lelaki itu bertanya, “Mengapa kau selalu murung? Bukankah kau punya segalanya?” Aku menatap matanya, lalu menjawab dalam hati, “Kecuali diriku sendiri.” 

Beberapa hari kemudian, aku meninggalkan apartemen dengan satu koper kecil, meninggalkan mantel bulu yang ia hadiahkan, meninggalkan janji perlindungan yang sebenarnya rantai. Aku memilih kembali ke jalanan asing, memilih kelaparan, memilih gigil salju. 

Di stasiun, aku duduk di bangku kayu, menatap rel yang menghitam. Aku membiarkan kapas es menutupi pipi. Aku akan pulang, meski tidak dengan tubuh ini.

***

Malam itu, ketika krisis moneter menghantam negeri dan seruan reformasi bergema tak henti, aku mengajak teman-teman keturunan Tionghoa yang lain untuk membantuku mengelola rumah belajar gratis. “Mungkin ini bisa menyadarkan perusuh,” tekad kami.

Anak-anak pribumi datang dengan kaki telanjang, baju compang, mata berbinar. Aku mengajari mereka membaca nama sendiri, menghitung koin receh di pasar, menulis surat untuk ibu mereka. Aku melihat cahaya kecil tumbuh di wajah mereka. Dan cahaya itu menahan luka dalam diriku.

Namun berita cepat menyebar: seorang Cina mendirikan sekolah untuk pribumi. Mereka menuduhku misionaris, menyebarkan racun ke kepala anak-anak. Suatu siang, segerombolan lelaki datang dengan bensin. Api menyambar papan, buku, dan mimpi. Aku hanya bisa berdiri, melihat dinding-dinding kayu yang kugosok dengan tangan sendiri berubah jadi bara.

Asap itu menusuk mata, tapi aku tidak menangis. Sebab aku tahu, ada sesuatu yang lebih besar bergerak di balik peristiwa. Aku diam-diam menulis laporan, mengirimkannya ke pengusaha cindo yang berpengaruh, untuk kemudian tiba di meja seorang petinggi militer yang salih.

Namun, aku salah berhitung. Keesokan harinya,koran dan radio malah menyiarkan kehebohan: pejabat salih itu ditangkap dengan tuduhan menutup-nutupi kasus penjarahan. Aku terdiam, getir, kehabisan kata-kata. 

Di antara puing-puing rumahku, aku duduk, menghirup bau arang yang menusuk. Anak-anak mendatangiku, wajah mereka penuh jelaga. “Kita akan belajar lagi, bukan?” tanya seorang bocah. Aku mengangguk, meski di hadapanku terbentang masa depan yang gaduh: masyarakat, yang muak dengan pemimpin yang gemar pidato dan wakil rakyat yang tak bisa melakukan apa-apa selain flexing, memenuhi jalanan kota dengan asap ban terbakar dam teriakan yang tak pernah reda.

***

Aku berdiri di tengah jalanan Jakarta, tubuhku berbalut jaket hitam dengan masker berwarna senada. Di sekitarku, asap ban terbakar naik ke langit, bercampur teriakan mahasiswa dan buruh. Semua menyatu jadi gelombang panas ketika presiden malah menyerukan pembukaan jutaan lahan sawit di Papua ketika Sumatra–dengan korban mayoritas perempuan dan anak-anak–masih tergenang banjir karena pembalakan resmi atas nama masa depan energi. Aku menggenggam ponsel, menerima pesan singkat: provokasi, jangan sampai reda!

Aku menyusup, mengacungkan tangan, berteriak paling lantang. Aku mendorong barisan, memukul seng dengan tongkat, membuat gemuruh yang menular ke dada orang lain. Aku melihat wajah-wajah muda terbakar amarah, tak tahu bahwa aku hanyalah bayangan, dikirim untuk membuat api semakin besar.

Aku teringat perempuan-perempuan sebelumku—ratu di Palembang, gadis barak Jepang, eksil di Kroasia, cindo korban penjarahan. Kini aku berbeda: bukan korban, melainkan alat. Tapi cahaya yang kuterima tak pernah padam. Ia berbisik di telingaku, meski tubuhku dipakai untuk kepentingan negara.

Ketika polisi maju dengan tameng, aku melempar batu. Kaca kampus pecah, pos keamanan terbakar. Aku menatap api itu dengan mata yang kosong. Sebab aku tahu, semua ini hanya skenario. Yang benar-benar terbakar adalah harapan mereka yang tulus.

Karena wajah dan tingkahku tertangkap kamera, Negara tak punya pilihan selain menumbalkanku. Aku ditangkap. Tangan-tangan kasar menarikku, mendorongku ke mobil tahanan. Di dalam sel pengap, aku mendengar suara besi berderit, mendengar langkah sipir yang berat. Malam-malam di penjara panjang dan dingin, cahaya lampu redup menyayat mata.

Tapi aku tidak diam. Aku memetakan lorong-lorong, menghitung langkah dari sel ke pintu dapur, mendengar bisik para napi tentang gorong-gorong yang bisa jadi jalan kabur. Ah, bagaimana mungkin kebenaran dan kebohongan bercampur seperti cahaya neon dan asap rokok.

***

Setelah memesan kopi matcha, aku duduk di kafe dengan gawai transparan, mengetik cepat di antara denting sendok dan riuh musik asing yang diputar oleh seorang humanoid. Jakarta berputar di luar jendela, dengan gedung kaca yang menjulang, jalan raya yang tak pernah tidur, serta manusia dan robot yang sibuk mengejar bayangan. Ramadan yang baru berputar, siapa peduli?

Orang-orang menyebutku Generasi Beta. Jari-jariku menari di layar udara, suaraku menyebar lewat unggahan, bergetar di ruang-ruang maya yang tak terbatas. Tapi di balik cahaya lampu nirkabel, aku mendengar suara yang sama sejak ratusan tahun lalu: tangisan perempuan yang ditindas, tawa yang dipaksa berhenti, harapan yang dipatahkan.

Aku menulis, bukan lagi di daun nipah, bukan lagi di papan tulis kayu, bukan lagi di surat tanpa alamat. Aku menulis di layar tembus pandang, mengirimkannya ke ribuan kepala dengan telesensor. Aku menulis tentang perempuan yang melawan, tentang hukum yang lahir dari kasih, tentang api yang tak pernah padam.

Kadang aku merasa tubuhku rapuh, terjebak di antara kopi sachet dan rapat daring, di antara algoritma yang mengurung dan komentar yang mencaci. Tapi cahaya di dadaku tetap menyala, sama seperti malam pertama di tepi Sungai Musi, ketika aku berbisik pada bulan agar suaraku tak terkubur.(*)

Lubuklinggau–Kairo, September 2025–Januari 2026

Catatan: Simbur Cahaya merupakan kitab undang-undang hukum adat tertulis pertama di Nusantara yang ditulis oleh Ratu Sinuhun pada Abad XVII. Tahun 1979, seiring dengan penghapusan sistem pemerintahan marga di daerah Palembang Darussalam, Simbur Cahaya tak lagi diberlakukan di Sumatra Selatan.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *