Membaca dan Centenarian

 Membaca dan Centenarian

Sumber gambar: popularitas.com

Selama aku bisa membaca, aku tidak akan mati sia-sia

Theofanis

Oleh Benny Arnas

Di sebuah rumah batu di lereng Pulau Ikaria, seorang lelaki tua bernama Theofanis membuka halaman Injil lusuh setiap pagi. Di terasnya, angin Aegea menebar bau laut dan rosemary. Usianya sudah melewati seratus tahun, tapi matanya masih jernih, geraknya pelan tapi pasti, dan suaranya, saat melafalkan ayat Yunani kuno, tetap bergetar tenang. Di desanya, orang-orang menyebutnya centenarian, sebutan bagi mereka yang telah melewati satu abad kehidupan dan masih menyalakan cahaya di matanya. Konon, ketika Theofanis masih muda, ia pernah berkata pada istrinya, “Selama aku bisa membaca, aku tidak akan mati sia-sia.” Sejak itu, setiap fajar ia membaca, bukan karena haus pengetahuan, tapi karena ingin menjaga kesadaran agar tetap hangat, seperti bara dalam tungku.

Cerita Theofanis sering diceritakan ulang oleh anak-anak Ikaria. Mereka percaya bahwa membaca adalah salah satu cara menunda lupa. Dan lupa, bagi mereka, adalah bentuk kematian paling halus. Di pulau kecil itu, menjadi centenarian bukan keajaiban, melainkan konsekuensi dari hidup yang tenang dan, barangkali, dari kebiasaan sederhana seperti membaca.

Ilmu pengetahuan modern ternyata tidak jauh berbeda pandangannya. Pada 2016, sekelompok peneliti dari Yale University School of Public Health menemukan sesuatu yang meneguhkan legenda Theofanis. Mereka memantau lebih dari 3.600 orang berusia di atas lima puluh tahun selama dua belas tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang rutin membaca buku setidaknya tiga setengah jam per minggu hidup rata-rata dua tahun lebih lama dibanding yang tidak membaca. Bukan karena membaca membuat tubuh lebih kuat secara langsung, tetapi karena ia menghidupkan kembali jaringan halus dalam otak yang menjaga fungsi kognitif dan daya pikir. Otak yang terus aktif berasosiasi dengan menurunnya risiko penyakit degeneratif seperti Alzheimer.

Namun, riset itu tidak berhenti di sana. Peneliti juga membedakan antara membaca buku dengan membaca koran atau majalah. Hasilnya mengejutkan: membaca buku jauh lebih efektif dalam memperpanjang umur. Alasannya sederhana: buku menuntut kita menyelam lebih dalam, berpikir reflektif, dan berempati pada karakter serta ide-ide yang kita temui di halaman-halamannya. Proses mendalam inilah yang disebut sebagai deep reading, dan ia bekerja seperti latihan pernapasan bagi otak: memperlambat ritme, menenangkan sistem saraf, sekaligus memperkuat daya ingat.

Di sisi lain dunia, di Okinawa, para lansia yang dikenal dengan semangat ikigai–alasan untuk bangun setiap pagi—memiliki ritual yang mirip. Mereka membaca surat kabar lokal, puisi haiku, atau ajaran Buddha setiap pagi sebelum berinteraksi dengan tetangga. Di sana, membaca bukanlah pelarian, melainkan cara menjaga keseimbangan batin. Di sela aktivitas berkebun dan minum teh, membaca menjadi momen hening di mana seseorang bisa mendengar suara pikirannya sendiri. Tak heran jika Okinawa menjadi salah satu rumah bagi para centenarian paling bahagia di dunia: mereka membaca bukan untuk tahu lebih banyak, melainkan untuk hidup lebih dalam.

Sementara itu, di Loma Linda, California, komunitas Advent Hari Ketujuh yang juga terkenal dengan umur panjangnya, menjadikan membaca kitab suci dan literatur kesehatan sebagai bagian dari rutinitas spiritual. Aktivitas ini bukan hanya memperkuat hubungan mereka dengan keyakinan, tetapi juga menanamkan rasa damai yang terbukti menurunkan kadar stres dan memperbaiki sistem imun. Dalam banyak wawancara, para centenarian Loma Linda kerap menyebut membaca sebagai “waktu perenungan,” saat mereka merasa dekat dengan Tuhan dan diri sendiri.

Berbagai studi psikologi juga menegaskan hal serupa. Peneliti dari University of Sussex menemukan bahwa membaca selama 6 menit saja dapat menurunkan stres hingga 68 persen alias lebih efektif dibanding mendengarkan musik atau berjalan santai. Di dunia yang semakin bising, membaca memberi ruang bagi ketenangan, seolah membuka jendela kecil ke dalam diri.

Dalam konteks itu, kebahagiaan bukan sekadar perasaan senang, melainkan keadaan di mana pikiran dan hati beristirahat dalam kesadaran penuh. Membaca, dengan ritmenya yang tenang, melatih kita hadir secara utuh pada satu hal. Barangkali inilah yang membuat para centenarian tampak begitu ringan menghadapi waktu: mereka tahu bagaimana cara melambat.

Menariknya, ketika membaca dilihat dari perspektif budaya, kita menemukan bahwa ia tak selalu berbentuk buku. Di Sardinia, Italia, para lansia gemar membaca doa, kisah para santo, atau surat kabar kecil di gereja. Di Nicoya, Kosta Rika, mereka membaca puisi lokal dan kitab suci bersama cucu-cucu. Tradisi membaca di sana lebih dekat dengan praktik sosial, bukan intelektual. Mereka membaca untuk terhubung kepada Tuhan, keluarga, dan masa lalu.

Mungkin inilah bentuk tertua dari literasi: membaca untuk mencintai, bukan untuk berdebat.

Jika Theofanis dari Ikaria membaca Injil untuk menjaga bara kesadarannya, maka masyarakat Okinawa membaca untuk menjaga ikigai-nya tetap menyala. Keduanya berbagi satu rahasia: membaca adalah bentuk kesetiaan pada kehidupan. Dalam membaca, seseorang mengakui bahwa waktu masih pantas dihargai, bahwa hidup belum selesai.

Dalam konteks modern, hubungan antara membaca dan umur panjang juga tampak melalui jalur tak langsung. Orang yang suka membaca cenderung memiliki rasa ingin tahu tinggi, jaringan sosial yang luas, dan sikap terbuka terhadap perubahan. Semuanya adalah faktor yang terbukti berkontribusi pada kesejahteraan psikologis. Membaca juga memberi makna, yang oleh psikologi positif disebut purpose in life, salah satu pilar utama kebahagiaan yang berkelanjutan.

Sebuah riset lain dari University of Rome La Sapienza pada 2020 bahkan menunjukkan bahwa membaca literatur fiksi dapat meningkatkan kemampuan empati dan menurunkan tingkat kesepian. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, kemampuan untuk merasa terhubung secara emosional menjadi pelindung yang kuat terhadap stres kronis dan depresi, dua hal yang diam-diam mempercepat penuaan biologis.

Barangkali, di balik semua data dan teori itu, kita hanya sedang menemukan kembali apa yang sudah diketahui para centenarian sejak lama: bahwa hidup panjang tidak pernah lahir dari usaha melawan waktu, melainkan dari cara kita berdamai dengannya. Membaca adalah salah satu bentuk perdamaian itu.

Theofanis, lelaki tua di lereng Ikaria, konon meninggal dengan kepala bersandar pada buku yang terakhir ia baca. Di halamannya, para cucu menyalakan lilin dan membacakan ayat yang sama yang dulu ia lantunkan setiap pagi. Mereka percaya, selama seseorang masih membaca, kehidupan tak pernah benar-benar selesai.

Kini, di mana pun kita berada, entah di apartemen sempit di Jakarta atau di kafe kecil di Bandung, setiap kali kita membuka buku dan memberi waktu pada diri sendiri untuk menyimak kata demi kata, kita sebenarnya sedang memperpanjang hidup kita, meski mungkin hanya sedikit. Kita sedang memperlambat dunia, menenangkan detak jantung, dan memberi ruang bagi kebahagiaan yang tenang, kebahagiaan yang tidak melompat-lompat, melainkan tumbuh pelan seperti bunga di musim tua.

Dan siapa tahu, seperti Theofanis, kita pun kelak bisa berkata: “Selama aku bisa membaca, aku tidak akan mati sia-sia.”(*)

Padova, 17 Mei 2023–Lubuklinggau, 6 November 2025

__________

Daftar Pustaka

Avni-Babad, D., & Ritov, I. (2003). Routine and the perception of time. Journal of Experimental Psychology: General, 132(4), 543–550. https://doi.org/10.1037/0096-3445.132.4.543

Blue Zones. (n.d.). Ikaria, Greece: The island where people forget to die. Retrieved from https://www.bluezones.com

Lewis, D. (2009, March 30). Reading can help reduce stress. The Telegraph. Retrieved from https://www.telegraph.co.uk/news/health/news/5070874/Reading-can-help-reduce-stress.html

Mar, R. A., Oatley, K., & Peterson, J. B. (2009). Exploring the link between reading fiction and empathy: Ruling out individual differences and examining outcomes. Communications, 34(4), 407–428. https://doi.org/10.1515/COMM.2009.025

National Geographic & Dan Buettner. (2008). The Blue Zones: Lessons for Living Longer From the People Who’ve Lived the Longest. Washington, DC: National Geographic Society.

Panza, F., Lozupone, M., Logroscino, G., & Imbimbo, B. P. (2019). A critical appraisal of amyloid-β-targeting therapies for Alzheimer disease. Nature Reviews Neurology, 15, 73–88.

Yale University School of Public Health. (2016, August 3). Reading books linked to longer life, Yale researchers say. Retrieved from https://publichealth.yale.edu/news-article/reading-books-linked-to-longer-life-yale-researchers-say/

University of Rome La Sapienza. (2020). The emotional benefits of reading literature: Empathy, loneliness, and wellbeing in aging adults. Journal of Positive Psychology, 15(7), 890–902.

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *