Ke Aleksandria, Teringat Sriwijaya

 Ke Aleksandria, Teringat Sriwijaya

Ruang Baca Utama Perpustakaan Aleksandria (Dok. penulis)

Dimuat Cagak.id, 9 Desember 2025

Saya meninggalkan kawasan Bibliotheca bukan hanya dengan catatan atau foto, tetapi dengan kesadaran bahwa hilangnya benda fisik tidak selalu memadamkan apa yang pernah didirikan manusia.

Oleh Benny Arnas

______________

Sejak lama tersebar cerita bahwa Amru bin Ash membakar Perpustakaan Aleksandria atas perintah Umar bin Khattab. Narasi ini muncul di sejumlah buku populer dan artikel sejarah, menimbulkan bayangan api yang menghanguskan ribuan gulungan papirus, karya-karya ilmiah yang tak tergantikan. Namun klaim ini tidak bertumpu pada bukti kontemporer. Catatan Arab awal, termasuk karya Ibnu Abd al-Hakam dan al-Qalqashandi, sama sekali tidak menyebut perintah pembakaran oleh Umar. Sejarawan modern, dari Edward Gibbon hingga Dirk Obbink, menegaskan bahwa perpustakaan kuno telah mengalami kerusakan berulang jauh sebelum penaklukan Muslim, terutama akibat kebakaran di abad pertama Masehi, konflik politik internal, dan pengabaian administratif. Tidak ada dokumen kontemporer yang menyinggung Amru atau Umar terkait penghancuran koleksi. Fitnah itu lebih pantas disebut legenda daripada fakta sejarah.

Saya membayangkan Aleksandria Helenistik pada puncak kejayaannya: pelabuhan yang ramai, kapal-kapal dagang dari Yunani, Mesir, dan India membawa rempah, logam, dan gulungan papirus. Di pusat kota, para cendekiawan mengamati langit, menyusun teori astronomi, menyalin Euclid, Aristoteles, Galen, hingga karya Hipatia. Koleksi naskah itu bukan sekadar pengetahuan lokal, melainkan arsip global—sains, matematika, filsafat, dan teologi—yang diperdagangkan di sepanjang Mediterania. Ketika tragedi kebakaran gudang melanda, banyak manuskrip hilang; bukan akibat perintah satu tokoh, melainkan akumulasi perang, kelalaian, dan waktu yang tak dapat ditahan. Legenda tentang Amru bin Ash menjadi contoh betapa manusia cenderung mencari penyebab tunggal untuk tragedi besar.

Versi lain menegaskan bahwa Aleksandria telah berkali-kali mengalami kerusakan signifikan. Pada 48 SM, api yang muncul di pelabuhan saat konflik Julius Caesar merembet ke gudang penyimpanan manuskrip. Plutarch dan Suetonius mencatat bahwa sejumlah gulungan terbakar, termasuk yang belum sempat dipindahkan ke Perpustakaan Besar. Kebakaran itu, ditambah pengabaian administrasi dan pergolakan politik, menjelaskan hilangnya sebagian besar koleksi jauh sebelum penaklukan Arab. Bayangan api tetap hidup karena simbolnya kuat: pengetahuan selalu rentan terhadap perang, kelalaian, dan ketidakteraturan manusia. Namun hilangnya wujud fisik tidak berarti hilangnya gagasan. Ide dan teori Aleksandria telah menyebar ke dunia, dibawa oleh pelajar, pedagang, dan penerjemah yang menuliskannya kembali dalam Latin, Arab, dan Syriac. Jejak mereka hidup dalam disiplin sains dan filsafat hingga hari ini.

Dua Kota yang Memanggil dari Keheningan

Nama Aleksandria dan Sriwijaya muncul terus di kepala saya: satu berdiri di tepi Mediterania, yang lain di muara sungai besar Nusantara. Keduanya pernah menjadi pusat pengetahuan, perdagangan, dan diplomasi dunia; kini keduanya berada di ambang antara fakta dan mitos. Di kamar kecil saya di Kairo, peta-peta kuno terbentang di layar ponsel, sementara catatan sejarah berserakan di meja. Saya menatap jejak waktu dan memahami bahwa perjalanan ke Aleksandria bukan semata perjalanan geografis, tetapi perjalanan menuju kehilangan yang lahir dari kejayaan: perpustakaan besar yang lenyap tanpa jejak fisik, dan kerajaan maritim yang menguasai Selat Malaka namun menghilang tanpa fondasi kota yang meyakinkan. Dua entitas monumental yang kini tercerai, terputus, dan nyaris hilang.

“Bang, kita berangkat siang ini, ya.” Alif, azhari baik hati yang menemani residensi saya di Mesir, memecah lamunanku. “Tiket sudah di tangan.” Suaranya tenang, cukup untuk menandai kesiapan perjalanan.

Rel yang Membelah Delta dan Ingatan

Kereta Talgo meninggalkan Stasiun Ramses tepat pukul dua siang. Gerbong ber-AC memberi rasa jarak dari kota yang terus berdenyut. Kairo perlahan menyusut menjadi latar. Jendela panjang di sisi gerbong menjadi bingkai yang menangkap panorama berganti: gedung-gedung tua Shubra, bengkel yang tak pernah tutup, toko peralatan rumah tangga dengan barang yang tumpah ke trotoar. Di luar, taksi-taksi kuning-hitam Aleksandria terkadang melaju berlawanan arah menuju Kairo: warna mencolok yang kelak menjadi penanda ritme kota pesisir itu.

Alif larut dalam esai-esai literasi di laptop. Keheningan gerbong memberi saya ruang menata ulang dua narasi besar yang terus membayang: Aleksandria dan Sriwijaya—dua peradaban hilang yang ingin saya raba meski bentuk fisiknya tak lagi jelas. Delta Nil terbentang hijau; rumah bata sederhana dan kanal-kanal memantulkan cahaya matahari. Lanskap ini hampir tak berubah sejak masa Firaun. Saya membayangkan para pedagang Sriwijaya yang ribuan tahun lalu melayari muara Musi dan Batanghari membawa rempah, logam, dan kitab. Jejak mereka tak dapat disentuh peta modern—persis seperti Aleksandria: jejaknya tidak lagi berupa bangunan, melainkan cerita, legenda, dan pengaruh.

Saya teringat kisah Alexander Agung saat mendirikan Aleksandria. Konon, ia menabur biji gandum untuk menandai batas kota. Burung-burung memakannya. Para pekerja panik, namun para peramal menafsirkan bahwa kota itu kelak menjadi pusat rezeki dan pengetahuan bagi dunia. Kota yang lahir dari garis yang hilang itu kemudian menjadi simpul ilmu, pelabuhan, dan kebudayaan. Ironisnya, perpustakaannya kini lenyap tanpa sisa.

Kereta terus melaju. Delta berubah menjadi pasir dan garam. Rumah-rumah memudar menjadi pucat, terpengaruh udara laut. Di rel ini, saya menangkap ironi: Aleksandria kehilangan institusi intelektual terbesarnya; Sriwijaya pun tak meninggalkan struktur yang dapat digenggam. Keduanya monumental, tetapi tercerai dan hilang. Perjalanan ke kota-kota itu terasa seperti membaca fragmen buku yang terbakar. Setiap halaman tersisa memaksa kita menafsir, bukan memastikan.

Dalam bayangan, jejak peradaban tidak hanya berupa bangunan, tetapi cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Sriwijaya membangun pusat dagang di muara strategis, menyesuaikan pelabuhan dengan pasang surut, membuat kanal, dan rumah panggung. Fragmentasinya masih tersisa di delta-delta hari ini, meski bukti arkeologisnya parsial. saya dapat membayangkan keramaian pasar, pedagang asing menawar lada, para biksu menyalin manuskrip daun lontar. Keberadaan Aleksandria terpantul dalam pola serupa: pelabuhan sibuk, teater, kuil, dan pusat dagang yang dihancurkan gelombang waktu tetapi tetap mengubah wajah Mediterania.

Kota yang Tidak Terburu-Buru

Kereta berhenti di Stasiun Sidi Gaber. Udara asin Mediterania menyapa. Orang-orang bergerak dengan tempo lebih lambat dibanding Kairo. Penjual roti, pedagang kopi, kios syal, semuanya membentuk ritme kota pelabuhan yang stabil. Trem biru-kuning tua menunggu; catnya terkelupas namun tetap gagah. Trem menjadi metronom Aleksandria, menghitung detik sejarah sambil membawa penumpangnya melintasi lapisan waktu.

Di kursi sebelah, Alif mengobrol dengan petugas trem dalam bahasa Arab. Keesokan harinya, saat Samy, lelaki berkalung salib besar, mulai bercerita tentang pekerjaannya sebagai pelukis potret, saya mendengar potongan kata tentang pelajaran klasik dan cara melukis mata yang seakan menyimpan rahasia kota. Keramahan Samy mengingatkan saya pada Aleksandria Helenistik, yang pernah multikultural sebelum tragedi terbunuhnya Hipatia.

Trem melaju melewati gedung kolonial, flamboyan merah, dan jalanan ramai. Setiap tikungan seperti lembaran naskah yang terbuka. Saya membayangkan pertemuan para cendekiawan Ptolemaios dengan astronom India, pedagang Cina, dan filsuf Yunani yang dulu memperkaya perpustakaan kuno. Semua itu membentuk mosaik peradaban yang akhirnya lenyap, namun meninggalkan gema di bumi dan pikiran.

Ketika kota menyebar di luar jendela, saya kembali teringat Sriwijaya—para pelautnya yang membangun armada dari kayu pilihan, mengorganisasi perdagangan dengan kecermatan luar biasa, tetapi tak meninggalkan peta kota yang meyakinkan. Jejak Aleksandria di Mediterania dan Sriwijaya di Asia Tenggara sama-sama menunjukkan bahwa kehilangan fisik tidak setara dengan hilangnya pengaruh.

Trem melambat menjelang Ibrahimiyah. Suara kendaraan, pedagang, tawa anak-anak, bel sepeda, aroma faransawi, dan bau laut bercampur menjadi satu. Saya sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar mencapai destinasi, melainkan percakapan dengan ruang dan waktu—dua kota yang hilang tetapi terus memanggil melalui riuh yang tersisa.

Begitu turun dari trem, saya menarik napas panjang. Kafe-kafe ramai oleh laki-laki, terutama bapak-bapak di atas usia tiga puluh, yang menikmati faransawi ditemani shisha. Aleksandria, dalam riuhnya, menunjukkan bahwa keabadian tidak bergantung pada batu atau kertas, tetapi pada cara manusia mengingat, menulis, melintasi kota, dan menghidupinya. 

Dan saya tahu, ketika langkah membawa saya ke perpustakaan esok hari, saya tidak akan mencari bangunan megah semata, tetapi gema hilangnya yang masih bergetar di udara, pada orang-orang, dan pada rel-rel tua yang menyatukan masa lalu dengan masa kini. 

Di Antara Fragmen dan Wibawa

Bangunan Bibliotheca Alexandrina berdiri megah di tepi laut, setengah bundar seakan menenggelam ke tanah. Matahari memantul di dindingnya dengan lembut, memecah cahaya menjadi kilau perak di permukaan beton. Huruf-huruf dari ratusan bahasa, dari hieroglif hingga Ge’ez, terpahat di fasad. Ini bukan sekadar dekorasi; bahasa adalah tulang punggung sejarah, sesuatu yang bahkan api atau perang tidak mampu memusnahkan.

Di dalam, udara AC menyergap tubuh yang masih hangat oleh terik siang. Lobi Bibliotheca Alexandrina terbuka seperti rongga paru-paru, dan ruang baca utamanya menjulur menyerupai amfiteater batu terang. Meja kayu tersusun rapi, lampu-lampu modern tergantung rendah, seperti bintang yang sengaja diturunkan agar manusia dapat membaca dengan lebih dekat. Di satu sisi, galeri khusus tentang Anwar Sadat memamerkan catatan tangan serta dokumen biografis berbahasa Arab dan Latin, menghadirkan sosok yang selama puluhan tahun menjadi simpul antara diplomasi, perang, dan perdamaian. Di sekelilingnya, fragmen papirus, salinan awal Elements karya Euclid, peta kuno, dan doa kepada dewa Thoth berdiri sebagai bukti bahwa dorongan manusia untuk mencatat dunia tidak pernah padam.

Alif mengikuti dari belakang. Ia sesekali memotret tanpa suara, tetap menjaga jarak seperti seseorang yang tidak ingin mencuri perhatian ruang ini. Kesedihan masih jelas terlihat; ia baru saja gagal meraih beasiswa Al-Azhar. Dalam diamnya saya melihat seorang cendekiawan muda yang—entah karena apa—tidak berhasil masuk ke panggung intelektual yang semestinya menyambut dirinya. Ironinya mengingatkan saya pada hilangnya ribuan gulungan papirus dari gudang pelabuhan Aleksandria pada 48 SM, ketika api yang dimulai sebagai strategi perang merembet ke koleksi yang bahkan belum sempat diinventarisasi. Hilang bukan karena kurangnya nilai, melainkan karena benturan yang terjadi jauh di luar kendali para penulis dan penyalinnya.

Sriwijaya sempat saya pikirkan sebelumnya, namun kini justru ingatan bergerak ke peristiwa yang lebih jarang disinggung: situs pembelajaran Buddhis di Funan pada abad ke-3 hingga ke-6. Nyaris tidak ada monumen yang selamat, tetapi catatan Dinasti Liang mencatat para pelajar dari kerajaan itu menempuh perjalanan laut untuk mencari naskah dan pembelajaran. Jejak mereka bertahan bukan melalui bangunan megah, melainkan melalui catatan asing dan serpihan praktek budaya. Kehilangan Aleksandria terasa mirip: sebuah pusat pengetahuan yang pernah dominan, lenyap secara fisik, tetapi suaranya tetap masuk ke dunia melalui terjemahan ke Syriac, Latin, dan kemudian Arab.

Koleksi, Identitas, dan Warna Masa Kini

Dari museum manuskrip, kami turun ke area pameran seni modern. Lukisan-lukisan abstrak berwarna terang memenuhi dinding, patung logam berbentuk huruf Arab tampak seperti huruf yang hendak terbang, dan instalasi kaca memecah sinar matahari menjadi pelangi-pelangi kecil di lantai. Di ruangan lain, koleksi identitas kebudayaan dari Sinai, Delta, dan Kairo ditata berdekatan dengan karya kontemporer. Perbedaan detail pakaian, perhiasan, dan motif sulaman menghadirkan gambaran tentang keragaman Mesir yang sering tersembunyi di balik narasi tunggal peradaban kuno.

Saya sempat membayangkan bagaimana pada masa Helenistik, kota ini pernah menjadi laboratorium sosial Alexander, tempat beragam budaya bertemu tanpa saling menyingkirkan, setidaknya sebelum ketegangan politik, termasuk tragedi kematian Hipatia, menghancurkan harmoni itu. Melihat karya seni modern Mesir, terutama porselen dan keramik bergaya kontemporer, saya merasa bahwa garis kreatif itu tidak pernah benar-benar putus. Ia berubah bentuk, tetapi tidak berhenti.

Di satu titik saya membayangkan diri duduk di tepi laut, menyesap faransawi panas sambil memandang kilau biru Mediterania. Para sarjana Helenistik pernah melakukan hal serupa—mungkin tanpa faransawi, tetapi dengan naskah yang baru mereka salin atau diskusi tentang bintang-bintang yang baru mereka hitung. Ada semacam kemewahan intelektual di sana, bukan dalam arti glamor, tetapi dalam kesempatan untuk hidup sepenuhnya melalui membaca dan memikirkan sesuatu sampai lapisan terdalamnya.

Ketiadaan yang Melekat

Saat meninggalkan Bibliotheca Alexandrina dan kembali menuju kawasan Ibrahimiyyah, kota seakan mengikuti langkah kami. Taksi-taksi hitam-kuning melintas cepat di jalanan sempit, klaksonnya bersahut-sahutan, menciptakan ritme khas Aleksandria. Pasar di dekat persimpangan mulai ramai; aroma roti feteer meshaltet bercampur dengan wangi faransawi yang mengepul dari kios kecil di tikungan, sementara teriakan pedagang ikan bersaing dengan suara minibus yang penuh penumpang. Aleksandria tidak pernah benar-benar menawarkan perpisahan. Kota ini seperti buku yang tetap terbuka, menunggu seseorang kembali pada halamannya.

Sejarawan seperti Edward Gibbon pernah menulis bahwa perpustakaan kuno Aleksandria bukan sekadar gedung, melainkan “simbol sirkulasi pengetahuan dunia kuno,” tempat gagasan dari Yunani, Mesir, India, dan Mesopotamia saling bertemu. Mengingat itu, saya memahami mengapa kegagalan Alif menembus beasiswa terasa begitu berat baginya. Ia tampak seperti salah satu cendekiawan muda yang tidak berhasil mendapatkan ruangnya, seperti papirus yang tidak masuk katalog sebelum gudang itu terbakar.

Dalam perjalanan kembali, saya teringat pada kerajaan Funan yang perlahan hilang dari peta, bukan karena kehancuran total, melainkan karena pergeseran politik yang membuat arsip dan pusat belajarnya terabaikan hingga bercampur dengan tanah lembab delta. Namun catatan Cina dan serpihan arkeologi masih menyebutkan aktivitas intelektual mereka: para bhiksu yang menghafal teks, para pelajar yang mencatat astronomi, para pedagang yang membawa naskah sebagai komoditas bernilai tinggi. Pengetahuan tidak selalu bertahan melalui monumentalitas; kadang ia justru bertahan melalui ingatan dan perjalanan.

Begitu pula Aleksandria. Banyak yang hilang sebelum sempat dicatat, tetapi gagasannya tetap bergerak melalui murid, salinan, dan terjemahan yang keluar dari kota ini.

Saya meninggalkan kawasan Bibliotheca bukan hanya dengan catatan atau foto, tetapi dengan kesadaran bahwa hilangnya benda fisik tidak selalu memadamkan apa yang pernah didirikan manusia. Gulungan papirus yang hangus di gudang pelabuhan, fragmen prasasti dari delta Asia Tenggara, hingga kisah cendekiawan yang tersingkir oleh keadaan, semuanya tetap berbicara melalui tradisi, percakapan, dan ruang-ruang hidup yang masih digunakan manusia. Dan ketika aroma faransawi, teriakan pedagang, serta lintasan taksi hitam-kuning memenuhi udara Ibrahimiyyah, saya merasakan bagaimana sejarah bekerja secara sunyi: tidak pernah selesai, hanya terus bergerak di antara kita.(*)

Aleksandria, 3 Desember 2025

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *