Ekstase Cerita vs Akhir Dunia: Dari Leave the World Behind hingga The Days

 Ekstase Cerita vs Akhir Dunia: Dari Leave the World Behind hingga The Days

Sumber: Jawa Pos (20-1-2024)

Oleh Benny Arnas

Jawa Pos, 20 Januari 2024

Mereka yang tidak suka membaca sering bertanya-tanya, bagaimana bisa ada orang-orang yang dengan entengnya melewatkan jam makan dan janji bertemu hanya untuk menyelesaikan membaca sebuah novel. 

*** 

Saya teringat kata-kata Pak Imam Hanafi, guru ekonomi saya di SMP dulu, dua puluh tujuh tahun yang lalu. “Kalau tahu kapan kiamat dan kematian akan tiba, pasti tidak ada lagi yang berangkat kerja dan sekolah. Kita semua akan sibuk beribadah saja,” begitu kurang lebih kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki yang berpulang tahun 2022 itu.

Saat itu, kami sekelas mengangguk-angguk. Saya juga sepakat. Sebagai muslim, dua peristiwa yang karena kepastiannya selalu berhasil membuat saya merinding tiap kali mendengarnya adalah bertandangnya Izrail dan tibanya akhir dunia.

Belakangan, saya  menimbang ulang keyakinan saya waktu itu. 

Dunia Boleh Berakhir, Cerita Jalan Terus

Hari ini, kita bisa melihat, bagaimana mereka yang sudah uzur berjoget-joget, mandi lumpur, atau melakukan pekerjaan yang tak jelas faedahnya, di Tiktok seakan-akan lupa bahwa, rata-rata manusia, meninggal dunia di usianya. 

Hari ini, terpampang nyata, bagaimana mereka yang divonis mengidap kanker stadium akhir, masih asyik dugem di diskotek hingga subuh, padahal siang harinya harus menjalani kemoterapi yang bisa saja menjadi hari terakhir mereka terbaring di dunia.

Hari ini, eksistensi bukan lagi tentang keberadaan semata. Eksistensi adalah tentang perhatian. Ada tapi tak diperhatikan, tak ada gunanya. Biar mati, asal ngetop. Biar bodoh, asal viral. Biar besok kiamat, hari ini tetap ngonten

Realitas mengerikan—yang karena habit generasi hari ini membuatnya tak lagi terasa mengerikan—itu  tanpaknya sepenuhnya disadari oleh Rumaan Alam dalam karyanya Leave the World Behind (2020). Novel yang kemudian dialihwahana ke film oleh sutradara Sam Esmail yang menulis sendiri skenarionya di bawah judul yang sama.

Film yang didistribusikan Netflix di Indonesia pada pekan pertama Desember 2023 ini menceritakan tentang Amanda (Julia Roberts) dan Clay (Ethan Hawke), yang sedang berlibur “mendadak” di Long Island dengan menyewa sebuah rumah mewah, sangat ingin mengetahui apa yang menyebabkan jaringan listrik dan sinyal yang terputus di hari mereka menyaksikan sebuah kapal tungker menepi di pantai, tapi menemukan hambatan: akses ke luar yang terblokir. 

Menariknya, putri mereka yang belum remaja, Rossie (Farah Mackenzie), yang merasa selama ini sering diabaikan sehingga lebih sering menghabiskan waktu dengan menonton serial di televisi tak ambil pusing dengan keganjilan yang terjadi. 

Rossie, sepanjang cerita, digambarkan uring-uringan mencari cara untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap episode Serial Friends yang tak bisa ia tamatkan karena akses Internet yang macet.

Di pengujung cerita, ketika isu perang antarnegara di berbagai bidang (termasuk spionase, cyber, satelit, dan bom nuklir) merebak, Rossie berhasil masuk ke satu-satunya rumah di Long Island yang memiliki persediaan logistik paling lengkap dan siap untuk menghadapi bencana. 

Ketika bom atom meluluh-lantakkan New York, setelah melahap kudapan—yang bisa Rossie temukan dengan mudah—sepuasnya di rumah itu, gadis kecil itu berjalan menuju tumpukan CD demi ekstase yang beberapa hari ini ia idam-idamkan: menonton seri terakhir Friends hingga selesai!

Bagi Rossie, menikmati cerita jauh lebih penting daripada memikirkan yang lain, termasuk dunia orang dewasa yang rumit.

Harapan dan Kata-kata Yoshida

Dalam wujud yang lebih heroik, serial The Days yang dirilis Netflix (Juni, 2023), kata-kata Pak Imam menemukan antitesisnya ketika mereka yang bertanggung jawab terhadap nasib Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi di Okuma pascatsunami melanda Jepang pada 2011, dihadapkan pada kenyataan-di atas-kertas bahwa beberapa unit reaktor, hanya menunggu waktu saja, akan meledak dan menyebabkan udara Jepang terdampak radiasi yang parah.

Film dokumenter yang diadaptasi dari On the Brink: The Inside Story of Fukushima Daiichi by Ryusho Kadota itu menceritakan bagaimana kepala stasiun PLTN, Masao Yoshida (Koji Yakusho), mengarahkan para karyawan dan tenaga teknis di ruang kendali untuk mengatasi kerusakan masif setelah bencana alam itu. Sayangnya, semua upaya keras mereka menjelma jadi bangunan lego yang salah susun ketika ledakan hidrogen, gempa susulan yang datang bertubi-tubi, hingga tingkat radiasi yang melewati ambang batas, menyerang stasiun tanpa aba-aba.

Hebatnya, ketika harapan itu makin berkabut, mereka bukannya memikirkan keselamatan masing-masing. Tak ada yang mendadak  salih sebagaimana prediksi Pak Imam. Tak ada yang sibuk berdoa, tak ada yang sibuk sembahyang, tak ada yang sibuk membaca kitab suci, dan tak ada yang sibuk berceramah tentang pentingnya berserah. 

Yoshida adalah contoh bagaimana seorang pemimpin mendayagunakan kemampuan (ber)cerita dengan efektif. Di ujung episode, pernyataan Yoshida tentang keberadaan pegawai senior di stasiun itu bukan untuk menunggu kematian, tapi untuk bekerja sebaik-baiknya, sampai batas kemampuan yang bisa diupayakan, membuat mereka lupa bahwa malaikat maut sudah beterbangan di atas kepala.

Cerita yang Candu

Cerita yang baik bukan hanya kuasa melentingkan imajinasi sebagaimana tesis Yuval Noah Harari dalam Trilogi Sapiens (2015). Bukan juga “sekadar” menumbuhkan simpati dan empati sebagaimana diskursus manfaat karya sastra yang berkembang selama ini. 

Lebih dari itu. 

Cerita yang baik, sebagaimana Serial Friends dalam Leave the World Behind dan kata-kata Yoshida dalam The Days, kuasa menerbangkan jiwa manusia dalam ekstase kebahagiaan dan harapan, bahkan ketika dunia atau hidup ini tampaknya akan berakhir sebentar lagi.

Saya pikir, kata-kata almarhum Pak Imam Hanafi memang tak lagi relevan untuk dunia yang dihuni generasi belia hari ini: yang stres ketika mendapat tekanan di tempat kerja, namun santuy ketika dunia mau berakhir.

Jadi, mereka yang tidak suka membaca seharusnya tak perlu heran kepada orang-orang yang, saking cintanya membaca, bisa melewatkan banyak sekali urusan. Sebab, jangankan sekadar makan siang atau janji bertemu, ketika kematian menjelang atau dunia akan berakhir pun, cerita yang baik kuasa membuat pembacanya bergeming.***

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *