Oleh Benny Arnas _____ wajahmu seperti Sinai bakda subuh yang merah temaram cahaya tinggal lebih lama, menempel pada garis-garis tenang lampu-lampu kecil berlabuh di sana tanpa lelah /Lubuklinggau, 2-4-2026Read More
Sampai kapan kau akan berdiri di atas jemawa yang, di hadapan cinta yang merah, sungguh tak ada gunaRead More
Sebentar, sebentar, memangnya hidup lebih lama itu untuk apa. Read More
“People don’t remember everything — they remember structure.”Read More
Kairo dan Bahasa Indonesia adalah katalis produktivitas saya Read More
Nafsu, dalam segala kebudayaan, selalu menjadi lidah yang menjilat pisau: awalnya memuaskan, akhirnya mematikan!Read More
Karena wajah dan tingkahku tertangkap kamera, Negara tak punya pilihan selain menumbalkanku.Read More
Kita hidup di zaman ketika kepercayaan sering dipinjamkan, Read More
Aku tak menagih romansa atau kata-kata mawar merahRead More
Sastra adalah counter-attack paling elegan terhadap candu instan.Read More