Jeda dan Cinta

 Jeda dan Cinta

Gilgistan dari jendela di ketinggian Baltit Fort

OLEH BENNY ARNAS

Perasaan ganjil kerap serta-merta datang ketika kita memandangi orang yang kita cintai saat mereka tidur. Anak yang sepanjang sore membuat rumah berisik dengan pertanyaan, rengekan, dan permintaan yang datang bertubi-tubi, tiba-tiba tampak begitu menggemaskan ketika matanya terpejam. Kita ingin menyentuh rambutnya, membetulkan selimutnya, atau sekadar duduk lebih lama di samping tempat tidurnya. Padahal, beberapa jam sebelumnya, kita mungkin mengeluhkan betapa sulitnya menyuruhnya diam. Istri yang seharian mengajak kita membicarakan banyak hal, yang sesekali membuat kita kehilangan kesabaran karena pertanyaan-pertanyaannya, mendadak terasa begitu berharga ketika tertidur dalam kelelahan. Kita bahkan bisa merasa ingin meminta maaf kepada seseorang yang sedang tidur, meskipun kita belum tentu ingat apa kesalahan kita kepadanya. Mengapa perasaan semacam itu muncul justru ketika mereka berhenti bergerak, berhenti berbicara, dan berhenti meminta sesuatu dari kita?

Saya kira, jawabannya ada pada jeda.

Selama seseorang berada di hadapan kita dalam keadaan terjaga, hubungan dengannya berlangsung melalui berbagai urusan. Anak perlu diantar ke sekolah, dijemput, diberi makan, ditemani belajar, diingatkan mandi, atau ditegur karena meninggalkan mainan berserakan. Istri mengajak membicarakan tagihan, rencana perjalanan, pekerjaan rumah, atau sesuatu yang terjadi sepanjang hari. Ibu menelepon untuk menanyakan kabar, kemudian menyelipkan nasihat yang pernah kita dengar berkali-kali. Ayah menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan pikiran kita, dan percakapan sederhana bisa berubah menjadi perdebatan kecil. Kasih sayang hadir di antara semua itu, tetapi sering kali tertutup oleh kesibukan yang menyertainya.

Kita terlalu sibuk menjalankan hubungan sampai lupa merasakan hubungan itu sendiri.

Ketika anak tertidur, seluruh permintaan yang biasanya memenuhi perhatian kita mendadak berhenti. Tidak ada tugas sekolah yang perlu diperiksa, tidak ada jawaban yang harus disiapkan, tidak ada rengekan yang mesti ditanggapi. Kita berhadapan dengan wajah yang sama, tetapi tanpa seluruh urusan yang melekat padanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kita dapat memandangnya tanpa perlu melakukan sesuatu. Di sanalah cinta memperoleh ruang untuk memperlihatkan dirinya.

Kita menyadari betapa kecil tangannya, betapa lentik bulu matanya, betapa mudah tubuhnya menyerah kepada tidur. Ada sesuatu yang membuat kita ingin menahan waktu, seolah-olah pertumbuhan anak merupakan perjalanan yang berlangsung terlalu cepat untuk diikuti. Kita teringat bahwa beberapa tahun lalu ia belum bisa mengikat tali sepatunya, belum mampu membaca namanya sendiri, bahkan belum bisa mengucapkan kalimat yang sekarang membuat kita tertawa. Anak yang sedang tidur itu membawa seluruh masa lalunya ke dalam satu wajah yang diam. Kita melihatnya sebagai seseorang yang telah tumbuh, sekaligus seseorang yang masih membutuhkan perlindungan kita.

Jeda membuat waktu yang biasanya berlari menjadi terlihat.

Hal serupa terjadi ketika kita memandang istri yang tertidur setelah seharian mengurus berbagai keperluan. Dalam keadaan terjaga, kami mungkin lebih sering membicarakan hal-hal yang harus diselesaikan daripada mengingat alasan kami memilih untuk berjalan bersama. Percakapan kami dipenuhi urusan praktis, keputusan kecil, dan persoalan yang harus segera dibereskan. Bahkan perhatian dapat berubah menjadi daftar kewajiban: sudah makan, sudah minum obat, jangan lupa membeli sesuatu, besok harus bangun lebih pagi. Semua itu bagian dari kehidupan bersama, tetapi kehidupan yang dipenuhi urusan bisa membuat seseorang tampak seperti sekumpulan tugas yang harus dituntaskan.

Ketika ia terlelap, daftar itu berhenti bekerja. Saya melihat seseorang yang telah menghabiskan tenaga untuk menjalani harinya, seseorang yang memiliki kelelahan, kecemasan, dan keinginan yang mungkin tidak seluruhnya sempat ia ceritakan. Tiba-tiba saya ingin mengetahui apakah sepanjang hari tadi ia sempat merasa bahagia, apakah ada sesuatu yang membuatnya sedih, atau apakah ia menyimpan persoalan yang belum sempat dibicarakan. Saya ingin mengingat kembali percakapan-percakapan yang pernah kami lewatkan karena terlalu sibuk, juga hal-hal sederhana yang dahulu membuat kami tertawa tanpa alasan penting.

Cinta, dalam jeda semacam itu, terasa seperti penemuan kembali terhadap seseorang yang sebenarnya sudah lama berada di dekat kita.

Perasaan itu memperoleh bentuk yang lebih menakutkan ketika seseorang yang kita cintai terbaring sakit. Saat ibu belum siuman setelah operasi, misalnya, keheningan di ruang perawatan bisa mengubah cara kita memandang waktu. Kita yang biasanya merasa memiliki banyak kesempatan untuk berbicara dengannya mendadak tidak tahu harus berbuat apa. Percakapan yang selama ini berlangsung begitu mudah, bahkan terkadang berakhir dengan kejengkelan karena persoalan sepele, kini terasa seperti sesuatu yang sangat mahal. Kita ingin mendengar suaranya, termasuk tegurannya. Kita ingin ia membuka mata dan kembali menanyakan hal-hal yang selama ini kita anggap berulang-ulang.

Pada saat itu, kita menyadari bahwa hubungan dengan orang tua dibangun dari hal-hal yang sering kali tidak kita anggap istimewa. Pertanyaan tentang sudah makan atau belum, nasihat agar berhati-hati di jalan, komentar mengenai pekerjaan, bahkan perbedaan pendapat yang membuat kita kesal, semuanya membentuk bahasa kasih sayang yang khas. Kita mungkin baru mengerti nilainya ketika percakapan itu terhenti dan kita tidak tahu kapan akan mendengarnya kembali.

Ketakutan kehilangan tumbuh dari ruang yang tiba-tiba terbuka di antara kehadiran dan ketidakhadiran. Kita menyadari bahwa seseorang bisa begitu dekat secara jarak, tetapi untuk sementara tidak dapat kita jangkau melalui percakapan. Tubuhnya berada di hadapan kita, tetapi hubungan yang biasa kita jalani seolah-olah sedang menunggu untuk dihidupkan kembali. Kita menunggu sebuah gerakan kecil, sebuah jawaban, sebuah tanda bahwa kehidupan akan mengembalikan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini kita anggap biasa saja.

Barangkali itulah sebabnya foto ayah yang kita pandangi dari kota atau negeri yang jauh bisa membuat dada terasa sesak. Foto itu tidak berubah. Wajahnya tetap sama, senyumnya tidak bertambah lebar, dan sorot matanya tidak bergerak mengikuti perjalanan kita. Namun, jarak membuat foto tersebut memperoleh bobot yang berbeda. Kita tidak dapat menyentuh bahunya, mendengar suaranya dari ruang sebelah, atau tiba-tiba mengajaknya membicarakan sesuatu. Sebuah gambar yang sebelumnya hanya merekam wajah seseorang kini menjadi tempat bertemunya kerinduan, ingatan, dan kecemasan tentang waktu yang terus berjalan.

Kita merindukan hal-hal yang bahkan tidak pernah kita rencanakan untuk dirindukan. Suara batuknya, cara ia duduk, kebiasaannya mengulang cerita yang sama, atau pendapatnya tentang perkara yang sebenarnya tidak terlalu penting. Jarak memisahkan kita dari keramaian kehidupan bersama, lalu mengembalikan kepada kita bagian-bagian kecil yang selama ini tersembunyi di dalamnya.

Jeda, dengan demikian, bekerja seperti ruang kosong di antara dua kata. Tanpanya, kalimat akan kehilangan keterbacaan. Mata membutuhkan tempat untuk berhenti agar pikiran dapat menangkap makna. Musik membutuhkan diam agar bunyi memperoleh bentuk dan nada terakhir sebuah lagu dapat tinggal lebih lama di dalam ingatan. Dalam lukisan, ruang yang tidak diisi objek ikut menentukan cara kita memandang objek-objek yang hadir. Bahkan malam, dengan warna gelapnya, memberi kesempatan kepada cahaya untuk memperlihatkan dirinya. Bintang yang terlihat di langit malam tidak perlu bersaing dengan matahari agar kehadirannya terasa.

Kehidupan pun memiliki tata bahasa semacam itu. Ada pertemuan dan perpisahan, percakapan dan keheningan, kehadiran dan jarak. Semuanya menyusun pengalaman manusia dengan cara yang tidak selalu kita sadari. Kita membutuhkan kebersamaan untuk membangun kedekatan, tetapi kita juga membutuhkan jarak agar dapat mengenali apa yang telah dibangun oleh kebersamaan tersebut.

Saya teringat sayur bening yang terasa hambar ketika dibandingkan dengan makanan berbumbu pekat. Justru rasa yang ringan itu membuatnya menyenangkan ketika lidah lelah menghadapi rasa yang bertumpuk. Begitu pula pare. Pahitnya sering membuat orang enggan mendekat, tetapi bagi sebagian orang, rasa itu justru menjadi alasan untuk mencarinya. Kita mengetahui rasa manis melalui pengalaman merasakan pahit; kita memahami kenyaringan setelah mengalami sunyi. Bukan berarti keduanya harus dipertentangkan. Masing-masing memiliki tempat dalam pengalaman yang membuat kita mampu mengenali rasa secara lebih utuh.

Persoalannya, kita sering mengabaikan tempat bagi jeda. Kita mengisi setiap kesempatan dengan percakapan, setiap waktu luang dengan kegiatan, setiap jarak dengan pesan, seolah-olah hubungan akan kehilangan kekuatannya jika tidak terus-menerus dipelihara melalui interaksi. Kita ingin selalu terhubung, selalu mengetahui, selalu menanggapi. Padahal, kedekatan yang terus-menerus berlangsung tanpa kesempatan untuk merenungkan kehadiran satu sama lain dapat membuat kita lupa bahwa orang yang bersama kita setiap hari tetap merupakan seseorang yang berharga, yang memiliki kehidupan batin sendiri, dan yang suatu saat tidak lagi dapat kita temui dengan cara yang sama.

Tentu saja, kita tidak perlu menunggu seseorang sakit, tertidur, atau pergi jauh untuk menyadari arti kehadirannya. Jeda dapat kita ciptakan melalui kesediaan untuk berhenti sejenak dari urusan yang menumpuk. Ketika anak bercerita, kita bisa meletakkan telepon dan mendengarkannya sampai selesai. Ketika makan bersama istri, kita bisa membiarkan percakapan berjalan tanpa terburu-buru mengalihkan perhatian kepada pekerjaan. Ketika menelepon ibu, kita bisa menahan keinginan untuk segera mengakhiri pembicaraan hanya karena ceritanya berputar pada hal-hal yang sudah kita ketahui. Ketika ayah mengemukakan pendapat yang berbeda, kita bisa memberi ruang bagi perbedaan itu tanpa harus menjadikannya pertengkaran.

Mungkin kita juga perlu membiarkan diri duduk di samping seseorang tanpa menuntut percakapan. Tidak semua kebersamaan harus menghasilkan cerita. Tidak setiap keheningan perlu segera diisi. Ada kasih sayang yang justru tumbuh ketika kita tidak sedang meminta, menjelaskan, menasihati, atau memperbaiki apa pun. Kita hanya hadir, menyaksikan seseorang menjalani keberadaannya, dan menyadari bahwa kesempatan untuk berada di dekatnya merupakan sesuatu yang patut disyukuri.

Saya tidak tahu apakah rasa cinta benar-benar bertambah besar ketika seseorang yang kita sayangi terlelap. Mungkin cinta itu sudah ada dalam ukuran yang sama, hanya saja selama ini perhatian kita terpecah oleh banyak hal. Jeda menyingkirkan sebagian gangguan tersebut, membuat perasaan yang semula tersembunyi memperoleh kesempatan untuk dikenali. Ia membuka ruang bagi kita untuk melihat kembali sesuatu yang terlalu dekat sehingga luput dari pandangan.

Ah, mungkin yang kita butuhkan bukanlah peristiwa kehilangan untuk belajar menghargai kehadiran. Sebab, di antara dua bunyi, ada diam yang membuat musik dapat didengar. Di antara dua kata, ada spasi yang membuat kalimat dapat dibaca. Dan di antara dua perjumpaan, ada jeda yang memungkinkan kita mengenali orang yang selama ini kita temui, tetapi belum selalu sungguh-sungguh kita pandangi. Mungkin.(*)

Lubuklinggau, 22 Oktober 2026

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

4 Comments

  • Duh, membaca ini seperti berhadapan dengan cermin. Ada sesal, ada rindu, juga haru.

  • Jeda; tidak semua kebersamaan harus menghasilkan cerita, tidak setiap keheningan perlu segera diisi.

    Diksi tulisan ini tinggi, namun tetap terasa akrab. Worth to read!
    Baarokallah fiikum Bang Ben.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *