Bagaimana Mengelola Rasa Percaya di Tengah Segala yang Palsu

 Bagaimana Mengelola Rasa Percaya di Tengah Segala yang Palsu

Kita hidup di zaman ketika kepercayaan sering dipinjamkan …

Oleh Benny Arnas

Berabad-abad lamanya, manusia belajar percaya lewat kedekatan. Kita percaya pada orang yang duduk satu meja, pada guru yang kita lihat matanya, pada pedagang yang kita kenal namanya. Kepercayaan lahir dari perjumpaan, dari waktu, dari risiko yang dibagi. Namun dunia mutakhir mengubah jalur itu pelan-pelan. Kini, kepercayaan sering datang lebih dulu daripada perjumpaan. Ia hadir lewat angka, bintang, grafik, dan barisan komentar anonim yang kita baca sambil menggulir layar. Kita mempercayai apa yang belum kita alami, bahkan sebelum indra diberi kesempatan bekerja.

____

Seorang pemikir Arab abad ke-11, Al-Ghazali, pernah menulis kegelisahan yang terasa mengejutkan relevansinya hari ini. Dalam Al-Munqidz min al-Dhalal, ia bertanya bagaimana manusia bisa yakin pada sesuatu ketika pancaindra dan akal sama-sama bisa menipu. Bagi Al-Ghazali, keraguan bukan musuh iman atau pengetahuan, melainkan pintu awal menuju keyakinan yang lebih jujur. Ia mengingatkan bahwa apa yang tampak meyakinkan belum tentu benar, dan apa yang ramai belum tentu sahih.

Peringatan itu terasa jauh dari hiruk pikuk digital, tetapi justru di sanalah ia menemukan rumah barunya. Dunia hari ini tidak kekurangan informasi, ia kekurangan jeda untuk meragukan. Dalam situasi itulah kisah The Shed at Dulwich milik Oobah Butler menemukan maknanya. Bukan sebagai kisah lucu tentang restoran palsu, melainkan sebagai cermin tentang bagaimana kepercayaan kita bekerja. Orang-orang tidak datang untuk mencicipi rasa, mereka datang untuk mengonfirmasi cerita yang sudah mereka percayai lebih dulu. Lidah hanya mengikuti pikiran.

Fenomena ini bukan anomali tunggal. Riset psikologi sosial telah lama membahas apa yang disebut social proof, kecenderungan manusia menganggap sesuatu benar atau baik karena banyak orang lain tampak mempercayinya. Robert Cialdini menjelaskan bahwa dalam situasi tidak pasti, manusia meminjam penilaian kolektif sebagai jalan pintas. Di dunia daring, jalan pintas ini menjadi jalan utama. Sebuah studi dari Harvard Business School menunjukkan bahwa kenaikan satu bintang rating Yelp dapat meningkatkan pendapatan restoran hingga lima sampai sembilan persen. Angka-angka ini bukan sekadar statistik ekonomi, ia menunjukkan betapa besar kuasa persepsi atas pengalaman nyata.

Di Afrika Barat, ada peribahasa Yoruba yang berbunyi, Igi kan ko da igbo se, satu pohon tidak membentuk hutan. Maknanya sering dibaca sebagai ajakan kolektivitas. Namun dalam konteks hari ini, ia juga bisa dibaca terbalik. Ketika hutan terlalu rapat, kita sulit melihat satu pohon dengan jernih. Keramaian pendapat justru dapat mengaburkan penilaian individual. Kita tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu baik, melainkan apakah cukup banyak orang yang mengatakan itu baik.

Sejarah digital penuh dengan peristiwa serupa yang kurang dibicarakan. Pada 2017, seorang seniman bernama Scott Kelly menciptakan restoran palsu di Instagram dengan nama Tokyo Record Bar versi tiruan di Los Angeles. Ia memotret hidangan rumahannya sendiri, membangun narasi eksklusif, dan dalam hitungan minggu, akun itu dipenuhi permintaan reservasi dan kolaborasi. Tidak ada TripAdvisor, tidak ada lokasi fisik, hanya estetika dan cerita. Orang-orang percaya karena tampilannya sesuai dengan apa yang mereka harapkan dari sebuah tempat keren.

Di bidang lain, eksperimen Sam Hyde dan timnya tentang bot Twitter yang mempopulerkan tagar politik menunjukkan bagaimana opini dapat dimanipulasi dengan volume semu. Akun-akun otomatis menciptakan kesan dukungan masif, padahal di baliknya nyaris tidak ada manusia nyata. Penelitian Oxford Internet Institute mencatat bahwa manipulasi opini publik melalui akun palsu dan ulasan palsu telah terjadi di puluhan negara. Ini bukan soal teknologi canggih semata, melainkan soal kelemahan lama manusia yang dibungkus antarmuka baru.

Filsuf Tunisia kontemporer, Youssef Seddik, pernah menulis bahwa krisis modern bukanlah krisis kebenaran, melainkan krisis otoritas makna. Kita tidak lagi bertanya siapa yang jujur, melainkan siapa yang paling terdengar. Di dunia algoritmik, suara paling sering muncul dianggap paling layak dipercaya. Padahal frekuensi tidak identik dengan kejujuran.

Dalam tradisi Afrika Timur, khususnya dalam kearifan Swahili, ada ungkapan maneno ni moshi, vitendo ni moto. Kata-kata adalah asap, tindakan adalah api. Dunia daring membalik logika ini. Asap justru menjadi penentu apakah kita percaya api itu ada, bahkan ketika api belum pernah kita rasakan panasnya. Ulasan, testimoni, dan rating menjadi pengganti pengalaman langsung. Kita menilai sebelum mengalami, dan sering kali, setelah itu, pengalaman hanya menjadi formalitas untuk membenarkan penilaian awal.

Kisah Oobah Butler menjadi tajam karena ia memperlihatkan betapa mudahnya kita terlibat dalam kesepakatan diam-diam. Para tamu yang memuji makanan microwave itu mungkin tidak berbohong sepenuhnya. Mereka benar-benar merasakan sesuatu, tetapi yang mereka rasakan adalah kepuasan karena ekspektasi mereka terpenuhi, bukan karena kualitas objektif makanan. Neurosains menyebutnya confirmation bias, otak lebih senang menemukan bukti yang menguatkan keyakinan awal daripada menerima informasi baru yang bertentangan.

Lalu siapa yang patut kita percayai di dunia mutakhir ini. Jawabannya mungkin tidak lagi sesederhana mempercayai orang atau institusi tertentu. Yang perlu kita pulihkan adalah proses, bukan figur. Proses meragukan, memverifikasi, dan memberi ruang bagi pengalaman langsung. Ibnu Khaldun, sejarawan besar dari Afrika Utara, menulis dalam Muqaddimah bahwa berita harus diuji dengan akal, konteks sosial, dan kemungkinan nyata, bukan hanya dengan siapa yang menyampaikannya. Ia mengingatkan bahwa banyak kebohongan bertahan bukan karena niat jahat, melainkan karena kebiasaan menerima tanpa menyaring.

Kepercayaan di era ini menuntut kedewasaan baru. Bukan sinisme total, tetapi skeptisisme yang moderat. Kita tetap membaca ulasan, tetapi tidak menyerahkan penilaian sepenuhnya. Kita mendengar suara banyak orang, tetapi masih berani bertanya, masuk akal atau tidak. Kita menikmati kemudahan digital, tanpa membiarkannya mematikan naluri.

Kita hidup di zaman ketika kepercayaan sering dipinjamkan, bukan dibangun. Kita percaya karena orang lain percaya, lalu menyebutnya keyakinan. Mungkin yang perlu kita selamatkan bukan dunia dari kepalsuan, melainkan diri kita dari kebiasaan mempercayai tanpa mengalami.(*)

Lubuklinggau, 27-2-2026

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *