Adakah yang Lebih Dekat dari Itu?
Oleh Benny Arnas
Aku tak menagih romansa atau kata-kata mawar merah,
aku hanya duduk lebih lama di sudut sunyi,
menyusun hari dengan doa yang tak selalu fasih,
menghafal sabar sambil menahan lapar yang tak bernama.
Aku datang membawa niat—
bukan gemuruh tepuk tangan,
hanya sejumput keberkahan
agar langkahku tak miring oleh lelah.
Di lorong-lorong ilmu,
aku belajar menunduk:
pada kitab yang diam,
pada malam yang setia menyimak.
Namun rupanya,
tak semua perjalanan menuntut ditemani,
tak semua jatuh terdengar gemanya,
tak semua luka perlu saksi.
Mereka lewat seperti angin sopan,
menyapa sebentar lalu bergegas,
barangkali takut tertular sepi,
atau terlalu sibuk merawat cahaya sendiri.
Aku tidak menyalahkan.
Barangkali beginilah caranya Tuhan
mengajarkan beda antara ramai
dan benar-benar bersama.
Sebab ada yang lebih dekat dari sayang:
niat yang tak berpaling meski sendiri,
doa yang tetap pulang meski sunyi,
dan ilmu yang tumbuh—
pelan,
tanpa harus dipeluk siapa-siapa.
RS Siloam Lubuklinggau, 7-12-2026