Membaca dengan Suara

 Membaca dengan Suara

Di Kafe Umm Kulthum (2025)

Kadang, membaca berarti memberi ruang bagi suara untuk menembus kita.

Oleh Benny Arnas

Musim dingin 2025, Kairo. Senin terakhir di bulan November. Saya dan Alif duduk di sebuah kafe di kawasan Downtown yang riuh oleh lalu-lalang manusia, kendaraan dengan suara klaksonnya, dan suara para pedagang dan pembeli yang berinteraksi. Suara perempuan tua dari radio tua di pojok ruangan memenuhi udara sore yang lengket: “Enta Omri …” Suara itu dalam, bergetar, seolah datang dari masa lalu ketika rekan residensi saya itu bicara dengan pelayan. Seorang lelaki paruh baya di meja sebelah menegakkan badan, berhenti menenggak faransawinya. “Umm Kulthum,” katanya pendek, tanpa menoleh. Lalu ia tersenyum, “Malam ini Mesir akan berhenti bekerja. Apalagi kalau kau ke Talaat Hab.”

Saya tertawa, mengira ia bercanda dalam bahasa Inggris. Sebelum kemudian saya menyadari bahwa di kawasan yang ia sebutkan tadi, menjelang Magrib, jalanan di memang mulai lengang. Sopir taksi mematikan mesin, pelayan menutup pintu, bahkan pedagang jalanan menghentikan panggilan. Semua menunduk mendengarkan radio. Satu jam pertama berlalu tanpa siapa pun berbicara. Barulah saya paham: di dunia Arab, mendengarkan suara Umm Kulthum bukan sekadar hiburan.

Itu ritual membaca bersama.

Umm Kulthum bukan sekadar penyanyi Mesir. Lahir di Delta Nil pada awal abad ke-20, ia tumbuh dari keluarga penghafal Al-Qur’an. Ayahnya seorang imam masjid yang menuntutnya melantunkan ayat dengan tajwid sempurna. Sebelum ia bernyanyi di panggung, ia sudah terbiasa membaca dengan suara. Itulah awalnya. Tradisi membaca sebagai tindakan lisan, yang dalam Islam disebut qirā’ah, membentuk fondasi seluruh kariernya.

Di dunia Arab, membaca memang tak selalu berarti membuka buku. Jauh sebelum percetakan, pengetahuan disebarkan lewat lisan. Para qari melagukan teks suci; para penyair membacakan syairnya di pasar Ukaz; para pengembara menceritakan kisah sejarah di majelis kopi. Literasi di dunia Arab adalah aktivitas sosial, bukan kegiatan sunyi. Membaca berarti mendengar, dan mendengar berarti percaya.

Ketika radio muncul di Mesir pada 1930-an, tradisi lisan itu menemukan medium baru. Pemerintah Mesir mendirikan Egyptian Radio, dan suara Umm Kulthum menjadi program nasional pertama yang disiarkan ke seluruh negeri. Tahun 1934, ia tampil di udara untuk pertama kalinya. Dari saat itu, setiap Kamis pertama bulan, dunia Arab mendengar “bacaan” baru: lagu-lagu puisi yang dikemas dalam nada dan waktu panjang. Satu lagu bisa berlangsung 45 menit hingga dua jam, dengan bait-bait diulang sesuai respons penonton.

Para sosiolog menyebut fenomena itu sebagai “majlis modern”, ruang sosial baru tempat orang membaca makna lewat suara. Lagu-lagunya bukan sekadar lirik cinta; banyak di antaranya adaptasi dari karya sastra Arab klasik: Ahmad Shawqi, Bayram al-Tunisi, Hafiz Ibrahim. Ketika Umm Kulthum menyanyikan, “Salou Qalbi,” ia sebenarnya sedang membaca puisi Shawqi tentang cinta dan pengabdian kepada Tuhan.

“Dia tidak sekadar bernyanyi,” kata Profesor Hisham al-Khatib, dosen musik klasik Arab di Universitas Kairo, yang saya temui dua hari kemudian. “Ia membaca puisi dengan napas seorang qari. Ia membawa kembali makna iqra’–bacala–sebagai pengalaman mendengarkan.”

Dalam dokumenter Umm Kulthum: Voice of Egypt (BBC, 1996), seorang penonton tua di Alexandria berkata, “Ketika dia bernyanyi, saya tidak mendengar musik. Saya mendengar sejarah, agama, cinta, dan bahasa Arab yang saya cintai.” Di sana, membaca tidak lagi terbatas pada huruf dan halaman. Suara menjadi teks; telinga menjadi mata.

Dua dekade terakhir, para peneliti mulai mengkaji hubungan antara mendengarkan dan literasi di dunia Arab. Sebuah studi oleh Universitas American University of Cairo (2018) menyebut bahwa tradisi oral Arab justru memperkuat daya ingat dan apresiasi terhadap teks, bukan melemahkannya. “Bagi masyarakat yang tumbuh dengan budaya mendengar, setiap bunyi adalah bacaan,” tulis laporan itu. “Dan Umm Kulthum menjadikan musik sebagai ruang baca bersama.”

Mungkin karena itulah, pengaruh Umm Kulthum melampaui generasi. Setelah wafat pada 1975, jenazahnya diiringi lebih dari empat juta orang di Kairo–lebih banyak dari pemakaman Nasser. Tapi warisannya bukan hanya lagu. Ia membentuk cara baru membaca: membaca dengan suara.

Saya menyadari itu ketika menonton beberapa konsernya di Youtube. Di layar besar, cuplikan konsernya tahun 1967 ditayangkan. Di antara penonton, perempuan muda berjilbab dan lelaki tua berpeci duduk berdampingan, menyenandungkan bait yang sama dari lagu “Al Atlal.” Mereka tidak sekadar bernyanyi. Mereka sedang membaca bersama, melafalkan kembali teks yang sama dalam ritme dan perasaan yang serempak.

Saya ingat, seorang rekan penulis di Malaysia yang juga pengagum Umm Kulthum pernah bilang, “Kami belajar dari cara Umm Kulthum membaca: tidak terburu-buru, tidak memotong makna.” Saya tersenyum. Kalimat itu terdengar seperti pelajaran literasi, bukan komentar musik. Tapi memang begitulah fungsi suara di dunia Arab–alat baca yang hidup.

Ketika saya meninggalkan Kairo beberapa hari kemudian, saya mampir ke toko buku kecil di Aleksandria. Di sana saya melihat rak bertuliskan “Kutub al-Masmū‘ah” alias “Buku-buku yang didengar.” Isinya bukan audiobook seperti di Barat, melainkan rekaman pembacaan puisi, ceramah, dan nyanyian Umm Kulthum. Di dunia Arab, bahkan ketika teks sudah dicetak, membaca tetap dilakukan lewat suara.

Fenomena ini membuat saya berpikir ulang tentang cara kita memandang membaca di dunia modern. Di Barat, membaca identik dengan kesunyian dan individualitas. Tapi di dunia Arab, ia adalah tindakan kolektif atawa sebuah bentuk mendengarkan yang aktif. Orang membaca bukan untuk menguasai teks, tapi untuk membiarkannya berbicara.

Tradisi itu kini hidup dalam bentuk baru. Di Dubai, proyek Arab Reading Challenge yang diluncurkan tahun 2016 telah menggerakkan jutaan pelajar membaca buku. Tapi di balik kampanye besar itu, di rumah-rumah dan majelis, praktik membaca tetap bercampur dengan tradisi oral: anak-anak melafalkan syair, guru membacakan kisah, dan keluarga mendengar bersama. Membaca tetap bersuara.

Dari Umm Kulthum saya belajar bahwa membaca tak selalu berarti membuka halaman. Kadang, membaca berarti memberi ruang bagi suara untuk menembus kita. Dalam dunia yang kini dipenuhi kebisingan digital, mungkin justru tradisi inilah yang bisa menyelamatkan makna membaca: membaca dengan mendengarkan.

Sebab siapa pun yang pernah duduk di kafe tua di Kairo, mendengarkan lagu yang diputar dari radio usang, akan tahu, sejatinya, membaca tidak berhenti di mata. Ia bergetar di udara, menembus waktu, dan menjelma dalam suara perempuan yang membuat satu bangsa berhenti untuk mendengar.(*)

Kairo, 24 November 2025

Benny Arnas

https://bennyarnas.com

Penulis & Pegiat Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *