Bagaimana Bisa Saya Puasa di Hadapan Cinta yang Tumpah-tumpah ….
Oleh Benny Arnas
Sejak istri datang bulan tiga hari yang lalu, saya tahu kalau niat melanjutkan puasa syawal kami yang baru dapat sehari akan menemui “hambatan”. Semacam kesepakatan tak tertulis, kami selalu melakukan puasa sunnah bersama. Entah itu puasa Senin-Kamis atau puasa sunnah lainnya.
Entah kenapa, niat saya mau puasa Syawal kuat sekali ketika terbangun pukul 4.20 subuh tadi. Saya langsung ke belakang. Tak ada lauk, sisa sayur, ataupun sambal. Namun, masih ada nasi di rice cooker dan … ini dia: dua butir telur.
Setelah mengiris dua buah cabe dan memasukkan sedikit garam ke dalam isi telur yang sudah duluan nyemplung ke dalam mangkuk, sahur dengan menu telur dadar saya jabanin. Alhamdulillah nikmat dan kenyang.
Setelah mengambil wudu persiapan salat Subuh, saya “melapor” ke istri yang sudah terjaga di kamar. “Ayah tadi sahur, Bund.”
Tak ada respons. Perasaan saya tak enak. Tapi … ya siapa tahu itu hanya perasaan saya.
Pagi itu, Istri tampak lebih sibuk dari pagi biasa. Saya tahu, itu artinya dia akan masak sarapan spesial. Hmm, benar, kan, perasaan saya tadi.
Ketika anak-anak sudah siap dan rapi dengan pakaian sekolahnya, ia berteriak dari dapur. “Mi ayam sudah siap!” Lalu menambahkan, “Siapa yang sudah siapo, ke sini. Biar Bunda buatin langsung. Jadi minya nggak lembek!” Lalu dia berteriak lagi memanggil nama ketiga putri kami. Ya, ia tidak memanggil nama saya.
“Ayah nggak makan?” saya dengar, entah Dinda atau Dkayla, bertanya kepadanya. Mungkin dia heran, kenapa nama saya tidak diabsen.
“Ayah nggak makan mi?” tanya Maura sambil menyelesaikan sendokan terakhirnya.
“Nanti,” kata saya, memilih jawaban aman.
Istri masih sibuk di dapur.
Saya menjenguknya. Bulir keringat di pelipisnya, tangan yang lincah merebus mi, dan potongan tipis daun bawang di mangkuk kecil, bawang goreng di stoples kaca, serta cabe hijau cair dalam wadahnya …. Ah, semua ini, kalau bukan dengan cinta, dengan apa lagi dia menyajikannya …. “Bund,” kata saya.
Dia menoleh. Wajahnya semringah. Ada harap dan gembira.
“Buatin ayah satu!”
Dia mengangguk dan bergegas.
Ah. Sungguh saya lebih memilih mengambil puasa Syawal di hari lain daripada harus mengecewakan seseorang yang mencurahkan cinta hingga tumpah kepada kami, kepada saya.
Lagian, memang saya yang mencoba nakal, “mengkhianati” kesepakatan itu. Ach.
Lubuklinggau, 9-4-2026