Waktu Alangkah Sedikitnya, Bacaan Alangkah Melimpahnya
Saya dan Alif di apartemen di Distrik Dokki, Kairo, selama masa residensi sastra saya (November–Desember 2025)
… mendalami sebuah bacaan yang paling berguna untuk membangun-teguhkan identitas sesungguhnya sudah lebih dari cukup.
Oleh Benny Arnas
______
Pengujung pekan pertama Desember 2025 itu, setelah mengampu kelas menulis kreatif bagi mahasiswa Mesir di Pusat Kebudayaan Indonesia (Puskin) di Kawasan Dokki, Mas Fauzan mengajak kami mencari makan malam. Begitu staf KBRI Kairo itu melajukan sedannya ke Distrik Zamalek, saya seperti dilempar ke kota besar yang gemerlap. Di sini, lampu-lampu kafe berwarna keemasan tumpah di sepanjang tepi jalan. Papan reklame meriah dan gemerlap. Anak-anak muda duduk berdekatan sambil bercakap cepat, sementara musik lembut bocor dari jendela restoran. Pohon-pohon tua berdiri rapat di kiri-kanan jalan, memayungi trotoar seperti lorong hijau yang rapi. Dan aura malam di situ mengingatkan saya pada Jakarta Selatan, kawasan yang tidak pernah benar-benar tidur, gemerlap, hidup, dan menampakkan sisi dunia yang berbeda dari kota lainnya.
Saya menatap ke luar jendela, memikirkan betapa kontrasnya suasana ini dibanding Kairo yang saya kenal. “Kenapa kamu tidak pernah membawa saya ke sini?” tanya saya kepada Alif yang menjadi pendamping residensi saya di Kairo.
Pemuda 21 tahun itu menoleh sebentar, lalu, “Saya sendiri belum pernah ke sini, Bang.”
Saya sempat mengira mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Al Azhar itu salah bicara. “Serius? Kamu tidak tahu area ini?” konfirmasi saya.
“Tidak,” katanya. Saya tak mendengar minder sedikit pun dalam nada bicaranya. Ia seakan-akan dengan tegas berkata, “Saya memang tidak perlu ke sini.”
Jawaban itu, sesederhana apa pun, membuat saya terdiam lama. Ada getaran kecil di dada saya, semacam pencerahan yang tidak saya minta tapi datang tepat pada waktunya. Sebab saya tahu betul kehidupan mahasiswa yang hampir 20 hari “mengawal” saya.
Alif adalah seorang azhari yang hidup di antara kitab, halaqah, hafalan, dan nas-nas yang menjadi pegangan utama para pelajar agama. Hari-harinya padat, tetapi tenang. Jalannya sempit, tetapi jelas. Ia tidak membaca yang tidak perlu. Ia tidak mendatangi tempat yang tidak ada urusannya dengan masa depannya. Ia tidak mengejar pengetahuan demi pengetahuan. Dan ia seolah tidak merasa kehilangan apa pun dengan itu.
Dalam hati saya berpikir, alangkah berbedanya dunia kami. Saya tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar, dengan keharusan sosial untuk tahu “banyak hal”, membaca “sebanyak mungkin”, mengikuti percakapan publik, dan merasa gagal bila tertinggal. Sedangkan Alif hidup seolah dunia hanya terdiri dari hal-hal yang benar-benar penting, dan sisanya cukup dibiarkan lewat tanpa perlu diambil.
Setelah makan malam di restoran Thailand, saya pulang dari Zamalek dengan perasaan ganjil. Bukan karena tempat itu terlalu meriah, tetapi karena saya baru menyadari sesuatu yang mungkin terlalu sederhana untuk saya pahami sejak awal: tidak semua hal perlu diketahui. Tidak semua yang gemerlap harus dilihat. Tidak semua yang terbuka harus dimasuki.
Dan membaca, yang selama ini saya anggap sebagai jalan untuk memperluas diri tanpa batas, ternyata memiliki dimensi yang berbeda ketika dipandang dari cara hidup seorang pembelajar di Tanah Nabi-nabi.
Malam itu saya kembali memikirkan percakapan kami. Alif membaca sangat sedikit dibanding orang lain, tetapi apa yang ia baca membentuk dirinya dengan cara yang jauh lebih dalam. Ia mengulang kitab, bukan menambah daftar bacaan. Ia mendalami hal-hal yang sudah terang, bukan mengejar hal-hal yang kabur. Ia membaca untuk menguatkan diri, bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu yang tak berujung. Makanya ketika ia bertanya, “Apa lagi yang harus aku baca, Bang?” Jawabanku selalu terbatas. Selalu hati-hati. Beberapa kali jawaban saya adalah, “Baca saja esai-esaiku. Itu akan jadi modal bagus kalau kamu ingin jadi penulis.”
Sementara kita hidup di zaman ketika orang merasa harus membaca semua genre, semua wacana, semua tren. Seakan-akan kecerdasan seseorang diukur dari seberapa banyak informasi yang dia konsumsi. Namun waktu kita tidak cukup. Bahkan, seperti ditunjukkan dalam riset-riset tentang deep reading, otak manusia sebenarnya hanya bisa membentuk pemahaman yang berkualitas jika fokus pada sedikit hal dan mengulanginya.
Salah satu riset yang relevan datang dari Nicholas G. Carr melalui bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010). Carr menunjukkan bagaimana paparan bacaan cepat, terputus-putus, dan dangkal–yang saat ini menjadi pola dominan di internet–mengurangi kapasitas kita untuk mempertahankan konsentrasi dan refleksi. Ia mengutip berbagai studi neurokognitif yang mencatat bahwa deep reading menyalakan jaringan saraf yang lebih kompleks, meningkatkan memori, empati, dan kemampuan analitis. Temuan-temuan itu menegaskan bahwa kedalaman jauh lebih membentuk daripada keluasan.
Alif adalah bukti hidupnya.
Mulanya, karena keterbatasan akses, ia tidak membaca novel dengan muatan moral yang rapuh, tidak membaca esai yang berdiri di atas relativisme, tidak membaca wacana yang akan menjerumuskannya ke pusaran kecemasan intelektual. Ia memilih bacaan dari para guru terbaiknya. Keadaan itu mempersempit dunianya. Bukan agar pikirannya picik, tapi, tanpa ia sadari, agar dirinya tetap utuh.
Alif seolah-olah tak menghitung bagaimana “hebatnya” ia misalnya ketika memeriksa bacaan Qur’an saya tiap kali saya mengaji bakda Subuh, atau tanpa mundur sedikit pun berkonfrontasi dengan orang-orang Mesir yang zalim: ketika mereka memasang harga ful lebih tinggi ketika kami sarapan di Downtown, atau ketika seorang pelayan kafe faransawi di Darasah yang seenaknya saja meminta kami pindah untuk memberikan meja itu kepada orang Mesir yang lain.
Apa yang Alif jalani tak pelak mengingatkan saya pada dialog Buya Hamka dengan seseorang yang mengatakan bahwa ia menemukan pelacur di Jeddah. Orang itu merasa heran mengapa Buya tidak menemukan hal yang sama di Amerika. Buya menjawab dengan jernih: jika Anda mencari pelacur di Jeddah, Anda akan menemukannya. Jika Anda tidak mencarinya di Amerika, Anda pun tidak akan menemukannya. Kita menemukan apa yang kita cari. Kita menemukan apa yang kita dekati. Dan kita menjadi seperti apa yang kita masukkan ke dalam pikiran kita.
Bacaan pun persis sama.
Semakin besar keinginan untuk membaca “segala sesuatu”, semakin besar pula risiko kita kehilangan arah. Kita membaca, tetapi tidak membentuk apa-apa. Kepala kita melimpah kata-kata, tapi rasanya hampa. Kita tahu banyak, tetapi tidak mendalam. Kita penuh wawasan tapi tidak punya pegangan.
Dari Alif, saya belajar bahwa seseorang–entah karena lingkungan atau karena ia mampu memilih–tidak tahu banyak hal dan itu justru menjaga dirinya dari kutukan ilmu pengetahuan: banyak tahu tapi tidak rendah hati, banyak baca tapi tidak berubah. Dan pelajaran itu membawa saya pada kesimpulan paling berat: bahwa pada akhirnya, mendalami sebuah bacaan yang paling berguna untuk membangun-teguhkan identitas sesungguhnya sudah lebih dari cukup.
Kita bahkan tidak punya cukup waktu untuk menguasai sepenuhnya apa yang sudah diturunkan Tuhan kepada kita. Sebagai muslim, misalnya, menghayati Al-Qur’an, dengan seluruh keluasan dan kedalamannya, sungguh manusia perlu upaya besar untuk menampung pemahaman dan keberkahannya. Terlalu dalam untuk dihampiri sekali. Terlalu kaya untuk dikejar sambil mengejar hal-hal lain.
Kalau kita jujur, kita sejatinya tidak akan mampu menampung semua kebaikan yang terkandung dalam sebuah disiplin pengetahuan. Kita tidak cukup waktu untuk memikirkannya satu per satu, tidak cukup kekuatan untuk mengamalkannya seluruhnya. Dan jika satu kitab suci saja sudah demikian besar ilmu dan faedahnya, bagaimana mungkin kita memaksa diri membaca segala yang berserakan di muka bumi? Bagaimana mungkin kita mengira bahwa keselamatan, akhlak, dan kejernihan batin memerlukan bacaan yang tak terhitung?
Pada titik ini, saya mencoba memahami keadaan Alif. Betapa ia dilindungi dan dikasihi. Ia memilih jalan yang tidak mudah: jalan orang yang tahu bahwa waktu terlalu sedikit dan bacaan terlalu melimpah. Maka ia memilih satu bacaan yang tidak habis-habis. Satu bacaan yang membentuk manusia. Satu bacaan yang jika ia berhikmat kepadanya, maka ia tidak perlu terlalu bernafsu mengejar bacaan lain.
Di dunia yang serba cepat, pilihan itu tampak sempit. Tapi justru di situlah kelapangannya.
Sore itu, ketika mobil keluar dari Zamalek, saya menyadari sesuatu yang menenangkan. Bahwa mungkin kita tidak perlu membaca semuanya untuk menjadi manusia yang baik. Kita hanya perlu membaca yang utama, dan setia kepadanya. Karena waktu kita sangat sedikit, bacaan yang benar-benar membentuk kita pun sebenarnya terang benderang: tak harus banyak. (*)
Kairo, 9 Desember 2025
_____
Daftar Pustaka
Carr, N. G. (2010) The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. New York: W. W. Norton & Company.
Dehaene, S. (2009) Reading in the Brain: The New Science of How We Read. New York: Penguin.
Hamka (1982) Pribadi. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Wolf, M. (2007) Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain. New York: HarperCollins.
3 Comments
Sejak di sekolah, kita sudah diberikan pemahaman bahwa kita harus tahu sedikit pada hal yang banyak. Kadang berpikir, penting tidak kita tahu ibu kota Rusia, Austria…. ? Tapi tahukah kita siapa nama presidennha, wakilnya, susunan kabinetnya, partainya, penulisnya, perlukah itu?
Saat jadi wartawan juga, kita disuruh tahu banyak tapi tidak mendalam (kemudian muncul deep investigation). Saya korban itu. Saya menulis semua genre tapi tidak mendalam.
Saya mencoba untuk lepas dan memperdalam sesuatu hal…..
Gol A Gong
Ironisnya, kita sesama penulis juga sering merasa harus serba tahu. Sebagai penulis kemudian kita merasa paling tahu dengan menilai karya tulis orang lain.
Padahal tugas utama dia adalah menulis belum ditunaikan. Karya-karya tulisnya justru membicarakan masalah masa lalu (tendensi politik).
Padahal penulis mestinya punya orientasi ke masa depan, menginspirasi orang. Jules Verne, Mary Shelley sebagai contoh…. Menginspirasi para ilmuwan….. Nah, saya kok jadi merasa paling tahu, ya.
Teruslah menulis, Ben…
Masya Allah terima kasih atas sharing-nya, Kangmas 🙏
Sehat-sehat terus.