Membaca di Waktu Luang, Percuma!
People, men and women with antique statue head sitting on chairs and reading newspaper, magazines. Contemporary art collage. Concept of creativity, retro and vintage style, imagination, surrealism
Dan membaca, seperti cahaya pagi, hanya muncul bila kita membuka jendelanya
Oleh Benny Arnas
Setamat kuliah, saya pikir saya masih memiliki kemewahan lama: duduk tenang di pojok perpustakaan kampus, membuka halaman demi halaman buku yang saya pinjam seenaknya, atau membaca di sela-sela jeda antarkelas sambil menunggu dosen datang terlambat.
Saya benar-benar yakin, betapapun hidup berubah, kegiatan membaca tetap bisa saya selipkan dengan mulus seperti dulu. Bukankah membaca itu aktivitas “ringan”? Bukankah ia tinggal disisipkan saja di antara kesibukan?
Nyatanya tidak begitu.
Setelah menyandang gelar sarjana muda, kesibukan saya justru berlipat-lipat. Mencari pekerjaan. Menyusun CV. Mengunjungi teman-teman yang mungkin punya “jalur” ke kantor tertentu. Mengurus Forum Lingkar Pena Lubuklinggau yang entah mengapa sedang ramai-ramainya peminat. Menjawab pertanyaan menyebalkan yang tiba-tiba terasa wajib dilontarkan siapa pun yang bertemu saya: “Kapan kawin?”
Hidup mendadak riuh, dan membaca tiba-tiba berubah menjadi aktivitas mewah yang seperti hanya mungkin dilakukan oleh bangsawan yang tak punya urusan duniawi.
Singkat cerita, saya pun jarang membaca. Dan itu membuat saya gelisah. Ada sesuatu yang terasa tidak beres dalam ritme hidup saya. Saya tahu saya tak bisa terus begini: menunggu “mood”, menunggu “ketenangan”, menunggu “waktu luang” yang seolah dijanjikan tetapi tak pernah benar-benar tiba.
Maka saya pun menyusun jadwal harian. Saya berharap menemukan ruang kosong yang bisa saya berikan untuk membaca. Hasilnya? Tidak ada. Benar-benar tidak ada.
Saya bisa menuliskan jam bangun, pekerjaan rumah, waktu berkendara, urusan kantor, rapat, kegiatan komunitas, istirahat, tapi membaca? Tidak bisa diselipkan. Bukan karena saya tidak mau, melainkan… ya, memang tidak ada ruang itu.
Solusinya? Saya mengambil keputusan klasik yang kelihatannya masuk akal: “Kalau begitu, saya akan membaca di waktu luang.”
Dan, tentu saja, gagal.
Kenapa?
Karena saya keliru mengartikan apa itu “waktu luang”.
Hari ini pun, saya kira banyak orang mengalami kekeliruan yang sama. Tanpa sadar, kita semua terjebak pada asumsi yang sangat menggoda: bahwa waktu luang pasti ada, tinggal menunggu detik yang tepat. Bahwa waktu luang adalah semacam taman hijau yang terbuka sepanjang hari, tinggal kita lewati kalau ingin. Bahwa waktu luang adalah slot tersisa yang akan muncul setelah urusan selesai.
Padahal “waktu luang” versi kita sebenarnya bukan waktu. Melainkan sisa waktu. Dan sisa itu pun, kalau ada, biasanya hanya remah-remah dari hari yang sudah terpakai habis.
Jujur saja: waktu luang sejatinya tidak ada. Tidak pernah ada. Mana ada waktu yang benar-benar luang? Mana ada waktu yang menganggur? Mana ada waktu yang menunggu kita untuk memanjakan diri?
Tidak ada.
Kalaupun tampak ada, itu hanyalah tipuan. Perasaan. Situasi buatan. Sesuatu yang tidak asli, tidak sahih, tidak valid. Tidak bisa dipercaya.
Waktu adalah pedang, kata pepatah Arab. Ia kuasa membunuh. Bisa dalam sekali tebas, bisa dalam sayatan-sayatan kecil. Kita bisa “selesai” seketika, atau perlahan-lahan mengerang tanpa sadar bahwa ternyata luka itu sudah terlalu dalam.
Waktu, jika diperlakukan gegabah, adalah fatamorgana: tampak lapang dari jauh, tapi begitu didekati justru menjelma ular. Lengah sedikit, kita sekarat. Bukan karena racunnya, melainkan karena kita percaya ia aman.
Sebaliknya, ada banyak contoh nyata yang menunjukkan bahwa keberhasilan membaca justru datang dari penjadwalan, bukan dari menunggu waktu luang.
Ambil contoh Warren Buffett, salah satu investor paling berpengaruh di dunia. Ia terkenal membaca hingga ratusan halaman setiap hari.
Buffett memulai hari dengan membaca berbagai surat kabar. Wall Street Journal, New York Times, Financial Times menjadi santapan pagi. Ia mengalokasikan jam khusus hanya untuk membaca dan berpikir. Ia tidak menunggu “ada waktu senggang”; ia menciptakan waktu itu.
Dalam berbagai wawancara, Buffett menekankan bahwa membaca adalah pekerjaan, bukan hiburan tambahan. Pengetahuan, menurutnya, bertumbuh seperti bunga majemuk: makin kita sering membaca, makin kita banyak tahu, makin matang kita mengambil keputusan.
Tidak ada “waktu luang” untuk Buffet. Yang ada adalah waktu yang dijadwalkan.
Contoh lain adalah Oprah Winfrey, salah satu figur media paling berpengaruh di dunia.
Dari awal kariernya, Oprah dikenal sebagai pembaca yang teratur dan serius. Oprah’s Book Club bukan sekadar proyek iseng, melainkan komitmen panjang yang ia jadwalkan dalam rutinitasnya.
Ia menyediakan waktu khusus untuk membaca buku-buku pilihan, menandai bagian penting, mengumpulkan pertanyaan, lalu mendiskusikannya dengan jutaan pemirsa dan anggota klubnya.
Di tengah kehidupannya yang luar biasa sibuk: siaran harian, perusahaan media, dan kegiatan filantropis, Oprah tetap mengalokasikan waktu khusus untuk membaca. Itu bukan aktivitas “kalau sempat”. Itu kewajiban pribadi yang mendapat prioritas.
Dua figur ini menunjukkan hal yang sederhana namun penting: membaca tidak akan pernah terjadi jika tidak diberi tempat yang “legal” dalam jadwal hidup.
Sebaliknya, ada banyak orang yang justru gagal membaca karena menaruhnya di kantong bernama “waktu luang”.
Kita semua pernah melihatnya atau mengalaminya sendiri. Buku dibawa ke mana-mana, tetapi tidak pernah benar-benar dibuka. Kita menunggu momen pas, suasana tenang, kondisi ideal, kursi nyaman, teh hangat, pikiran lapang… namun semua itu tidak kunjung datang.
Dan ketika waktu sisa muncul, hanya lima menit misalnya, ia langsung ditaklukkan oleh dopamin instan: scroll media sosial, video pendek, notifikasi grup, pesan masuk. Pada akhirnya, “waktu luang” itu bukan untuk membaca, melainkan untuk istirahat setengah hati, distraksi kecil, atau rehat singkat yang sebenarnya tidak memulihkan apa pun.
Waktu sisa memang tidak dirancang untuk aktivitas berat seperti membaca. Ketika tubuh sedang letih, pikiran kusut, hari hampir habis, bagaimana mungkin kita bisa benar-benar mencerna metafora, memahami konflik, merasakan twist, atau menyerap ide moral dari teks?
Bacaan membutuhkan energi yang utuh, bukan remah-remah.
Karena itu, jangan pernah menaruh membaca ke laci bernama “waktu luang”. Tidak ada yang bisa kita harapkan dari aktivitas di waktu sisa, kecuali sensasi santai sesaat. Bahkan, membaca di waktu sisa seringkali justru menjauhkan kita dari pengalaman membaca yang mendalam.
Satu-satunya cara agar membaca tetap hidup dalam keseharian adalah: jadwalkan.
Beri ia ruang.
Beri ia jam.
Beri ia status “perlu”.
Seperti olahraga. Seperti ibadah. Seperti bekerja. Seperti makan. Seperti hal-hal lain yang memang harus dilakukan.
Tidak masalah kalau jadwalnya dini hari, tengah malam, jam makan siang, atau lima menit sebelum tidur. Yang penting, ia terjadwal, bukan diharapkan “muncul sendiri”.
Membaca hanya akan terjadi bila kita membuat waktu untuknya, bukan menunggu waktu menunggu longgar, menunggu mood baik, atau menunggu hidup tiba-tiba memberi kelapangan. Ach. Mana ada. Mana bisa.
Waktu luang hampir selalu menguap. Tetapi waktu yang kita pahat dengan sengaja, selalu menetap.
Dan membaca, seperti cahaya pagi, hanya muncul bila kita membuka jendelanya.(*)
Jakarta-Dubai, 19-20 November 2025
______
Daftar Pustaka
Investopedia, How This Warren Buffett Habit Could Transform Your Financial Future, diakses pada 19 November 2025, dari Investopedia.
New Trader U, Warren Buffett: I Read 5-6 Hours A Day, diakses pada 19 November 2025.
Wikipedia, Oprah’s Book Club, diakses pada 19 November 2025.
IDN Times, Memotivasi, Ini 5 Kunci Kesuksesan Oprah Winfrey yang Patut Diteladani, diakses pada 19 November 2025.
Bisnis.com (Kabar24), Oprah Winfrey, Memukau Publik Sejak Kecil, diakses pada 19 November 2025.
Harper’s Bazaar Indonesia, Oprah Winfrey Ungkap Rahasia Kebahagiaannya, diakses pada 19 November 2025.