Dua Sajak tentang Rindu
Dua cangkir teh mint di puncak Sinai (dok. pribadi, 2025)
Oleh Benny Arnas
Sebab Merah (tak) Pernah Jingga
Kau terlalu lama berdiri di kepala sendiri,
mengukur apa yang sudah jelas.
Padahal kita ini sederhana saja—
aku datang, kau tahu,
itu cukup jadi alasan untuk melangkah.
Kau simpan kata-kata seperti rahasia,
seolah diam lebih aman dari jujur.
Padahal yang kau pelihara itu bukan tenang,
melainkan ragu yang makin tumbuh diam-diam.
Di antara kita tak ada yang perlu disembunyikan,
hanya kau yang masih menahan diri.
Sampai kapan kau akan berdiri di atas jemawa
yang, di hadapan cinta yang merah, sungguh tak ada guna
/Lubuklinggau, 1-4-2026
______________________

Sampai Kapan
Sampai kapan kau menahan kata yang sudah tahu jalannya,
seperti teh mint yang kau biarkan dingin di cangkir faransawi
Sampai kapan kau memilih diam demi yang tak pernah kusebut,
padahal azan Magrib sudah lewat dan kota masih bising
Sampai kapan kau berdiri rapi, tapi menjauh pelan-pelan,
seperti jejakmu di trotoar Aleksandria yang tak pernah benar-benar singgah
Sampai kapan kau simpan diri, seolah ini bukan tentang kita,
padahal duduk berhadapan, berbagi roti‘irfah yang sama
Sampai kapan kau tarik dirimu dari sesuatu yang kita tuju,
seperti kapal di Sinai yang urung berlabuh
Sampai kapan kau biarkan yang sederhana jadi rumit begini,
seperti jalan pulang dari Darosah yang kau putar terlalu jauh
Sampai kapan kau berpura tak perlu membalas,
padahal matamu sudah lebih dulu menjawab
Sampai kapan kau biarkan perhatian itu bicara sendiri,
padahal ia sedikit pun tak menggugurkanmu sebagai fisabilillah
Sampai kapan kau jaga wajah, tapi menunda langkah,
seperti bayangan di dinding yang tak pernah benar-benar mendekat
Sampai kapan kau biarkan yang rindu tertahan di bibir,
seperti angin Nil yang lewat tanpa pernah kau sapa
Sampai kapan kau simpan jawab yang sudah jadi,
padahal kita sudah terlalu dekat untuk pura-pura tak tahu
Sampai kapan kau menunggu waktu yang sebenarnya sudah tiba
Sampai kapan
/Lubuklinggau, 1-4-2026