Bagaimana Cemenawcemenew Menjadi Perdana Menteri?

 Bagaimana Cemenawcemenew Menjadi Perdana Menteri?

Sumber: https://koran.tempo.co/read/cerpen/478750/cerpen-bagaimana-cemenawcemenew-menjadi-perdana-menteri

oleh Benny Arnas | koran.tempo.co., 18 Desember 2022

Cemenawcemenew adalah Perdana Menteri Negara Qi yang cerdas dan sangat termasyhur. Tapi, tak banyak yang tahu bagaimana Raja mengangkatnya sebagai orang nomor dua di negara yang wilayahnya meliputi empat puluh lima pulau itu. Kisah ini diukir menjelang Cemenawcemenew menjabat posisi penting itu, sebelum ia meninggalkan jabatannya sebagai savina alias pemimpin tertinggi di Pulau Dong’e.



* * *

Memasuki akhir tahun ketiga pemerintahannya, seorang prajurit diutus Istana ke Dong’e. Tidak seperti savina-savina lain yang menyerahkan urusan surat-menyurat kepada Ajudan Penyimpanan Berkas, Cemenawcemenew menginginkan surat tersebut dibacakan di hadapannya. Cemenawcemenew harus menghadap Raja dua hari lagi, demikian isi surat itu.

Entah siapa yang memulakan, kabar itu berembus ke seantero Dong’e—hingga ke beberapa pulau tetangga. Penduduk Dong’e mengira, Cemenawcemenew akan menerima hadiah atas pengabdiannya. Bahkan keesokan harinya, beberapa savina tetangga mengirimkan utusan demi mengucapkan selamat.

Walaupun merasa senang, Cemenawcemenew tak ingin gegabah. Ia juga meminta istri dan anak-anaknya tak mengeluarkan pernyataan apa pun. Ya, karena Raja tidak menerangkan maksud pemanggilan, ia menganggap hadiah dan hukuman punya peluang yang sama untuk memberinya kejutan.

* * *

Wajah Cemenawcemenew pias. Kedua bola matanya bagai hendak mencuat dari sepasang lembah di bawah alis. Keringat dingin berebutan tumbuh hingga tubuhnya licin bermandikan air laut. Kerongkongannya serta-merta menarik liur yang sepat di lidah. Ia bukan hanya terkesiap oleh ungkapan kekecewaan Raja, tapi juga oleh laporan-laporan ketidakpuasan para petinggi Dong’e atas pemerintahannya. Tubuh Cemenawcemenew menjelma jadi batu dalam posisi membungkuk. Ia tidak sanggup mengangkat kepala hingga Raja mempersilakannya bicara.

“Mohon ampun, Yang Mulia,” ujar Cemenawcemenew beberapa saat setelah mendongakkan kepala. “Hamba telah melaksanakan tugas sebaik-baiknya,” suaranya bergetar.

Raja mengubah posisi duduknya. Ia berdeham dua kali sebelum menatap Cemenawcemenew. Bukan rahasia lagi bahwa Raja memiliki kemampuan menelisik tabiat manusia lewat sorot matanya. Menyadari hal tersebut, Cemenawcemenew bukannya makin tenang. Jantungnya seperti dicerabut paksa dari tempatnya berdegup.

Tapi, Cemenawcemenew percaya bahwa kebijaksanaan Raja bukan kabar-kabari semata.
Raja bingung. Sinar mata Cemenawcemenew tidak seperti mata kebanyakan pejabat yang kelimpungan mengemas aib. Tubuhnya bagai tertancap bumerang yang ia lesatkan lewat kepandaiannya sendiri. Tapi, tentu saja ia pantang tampak kalah. Raja mengambil jalan tengah: tampil bijaksana.

“Aku tidak pernah melarang para savina membuat kebijakan demi kemaslahatan rakyat, tapi … kupikir kau pun tahu kalau Orang Bijak tidak mengajarkan kita untuk menghalalkan segala cara, bukan?”

Cemenawcemenew menundukkan kepala. Ia merasa tersudut. Sungguh, banyak sekali pledoi yang hendak ia bentangkan. Namun, tak lazim seorang abdi menyalakan perdebatan di hadapan Raja. Istana adalah ranjang bagi perintah dan kesetiaan bermadu-kasih.

Cemenawcemenew pasrah. Ia bahkan berpikir, Raja akan memecatnya, atau bahkan mengasingkannya ke pegunungan salju yang meliuk-liuk di dataran tinggi Timur Jauh. Namun …

“Bagaimanapun,” suara Raja terdengar tenang, “aku takkan menutup mata atas semua capaianmu di bidang hukum, kepatuhan pajak, pertanian, pendidikan, dan sastra. Jadi, gunakan satu tahun ini untuk menambal lubang yang telanjur menganga. Bila tak ada perubahan atau lubangnya melebar dan makin dalam, Kitab Kesetiaan telah menerakan hukuman apa pantas untukmu.”

Cemenawcemenew membungkuk berulang kali. Ia haturkan terimakasih yang paling takzim. Karena merasa menebas rumpun kebahagiaan rakyat, Cemenawcemenew tahu kalau semua ini berhubungan dengan orang-orang pilihannya. Ia tidak akan mengganti apalagi memecat para petinggi Dong’e. Tidak. Cemenawcemenew punya rencana sendiri.


* * *

Penganugerahan gelar kehormatan bagi savina berprestasi Negara Qi tahun ini bertepatan dengan berakhirnya tenggat yang Istana berikan kepada Cemenawcemenew. Semua savina diundang. Termasuk savina Dong’e.

Cemenawcemenew membawa orang-orang kepercayaannya. Mereka sangat gembira. Mereka berpikir, tentu savina menginginkan para petinggi menyaksikan secara langsung penganugerahan gelar kehormatan kepadanya. Namun rakyat Dong’e berbeda pendapat. Mereka harap Raja jeli. Di mata mereka, Cemenawcemenew gagal memanfaatkan kesempatan yang Istana berikan. Sebagian rakyat bahkan mengira Cemenawcemenew bukan hanya akan diasingkan, tapi juga akan dipenggal kepalanya di alun-alun Istana.

Begitu matahari terjerembab di barat, alun-alun Istana riuh. Semua savina telah berkumpul. Rakyat, yang tak ingin ketinggalan dalam perayaan lima tahunan itu, berkerumun dengan wajah ceria. Dekorasi dan makanan di mana-mana. Pelita-pelita bergelantungan; lilin-lilin raksasa dinyalakan; bertangkai-tangkai lotus, lili, dan pilanda memenuhi tembikar berukir liukan naga dan menjangan yang berlukiskan seorang laksamana dari Laut Arafuru; rerumpun anggur, ketan ungu kukus, manisan merah, dan aneka buahan dan penganan bagai meminta lapak di setiap meja ….

Setelah sebuah epos raja-raja di masa lalu ditampilkan dengan apik oleh para penyair dari pulau Zi, gong dipukul. Orang-orang khidmat mengelilingi alun-alun. Raja naik panggung menuju podium besar yang dipersiapkan khusus untuk perhelatan. Sebuah pelantang suara yang terbuat dari daun payung raksasa yang digelung menyerupai kerucut tepat berada di hadapan podium. Seorang pengawal menyerahkan sebuah gulungan daun pilanda yang dililit pita emas. Raja mengambilnya. Pandangannya menyapu kerumunan, dan berhenti pada deretan savina yang berdiri dengan jubah kebesaran masing-masing. Tibalah saat paling mendebarkan itu.

“Ini adalah perhelatan istimewa,” ujar Raja sembari membuka gulungan pengumuman. “savina Teladan akan kuangkat menjadi perdana menteri!”

Suasana mendadak gaduh. Para savina saling pandang sembari menebar senyum yang dikulum. Namun, Raja tak ingin membiarkan rakyatnya dibekap penasaran, Raja juga tak suka menyaksikan para savina saling berbasa-basi, maka … diteriakkanlah (ya, diteriakkan!) sebuah nama.

***

Alun-alun riuh oleh tepuk tangan. savina-savina juga ikut bertepuk tangan—walau dengan tepukan yang lebih pelan. Mereka masih berharap, apa yang ditangkap gendang telinga sekadar buah halusinasi. Namun, bagaimanapun, dengung gong yang mengiringi langkah Cemenawcemenew menuju panggung kehormatan telah melempar mereka ke lautan api kenyataan yang panas tak kepalang!

Raja menyalami dan memeluk Cemenawcemenew lalu mempersilakannya menuju podium.

“Dua-tiga tahun lalu, Dong’e mengalami banyak kemajuan,” Cemenawcemenew tak ingin berbasa-basi. “Banyak jalan raya dibuka. Lewat perundingan alot dengan savina pulau Slenvang, jalan yang sangat panjang dan meliuk-liuk telah membelah rimba yang sebelumnya memisahkan Dong’e dengan pulau-pulau tetangga. Hasil pertanian pun meningkat karena air mengalir lancar.”

Hening.

“Hal ini tak lepas karena urusan perbaikan pengairan, penjagaan pintu air, dan pembagian jatah air, yang sebelumnya menjadi wewenang kementerian, diserahkan kepada para petani dengan pembiayaan sepenuhnya oleh Istana. Kami juga menyelenggarakan majelis kebajikan bagi para pejabat dan masyarakat umum (mereka dibiarkan—bahkan diharuskan—berbaur dengan meniadakan pembedaan dan pemisahan tempat duduk).”

Masih hening.

“Dengan imbalan beberapa buah peach, saya meminta guru-guru dari kuil, masjid, dan gereja memberikan pelajaran setiap petang sampai matahari bersembunyi di balik Menara Zulkarnian pertanda malam singgah. Syukurlah, jumlah kasus penilapan uang negara dan pungli dalam birokrasi kesavinaan menurun tajam. Di bidang pendidikan, saya memerintahkan pengurangan jam pelajaran pengayaan dan penambahan jam pelajaran kesopanan dan membuat syair. Bahkan sejumlah sekolah didorong memasukkan pelajaran memintal sutera ke dalam kurikulum pendidikan lokal.”

Makin hening.

“Kebijakan ini menjadikan nama Dong’e harum dalam sayembara kecerdasan dan keterampilan di Timur Jauh dan Barat Laut. Namun apa yang saya dapatkan? Orang-orang kepercayaan saya malah bersekutu membuat laporan palsu. Sejak itu, saya sadar bahwa apa-apa yang saya lakukan telah membuat mereka tidak dapat lagi menilap uang Negara, mereka kehilangan sejumlah proyek, bahkan mereka seolah diteror oleh kekritisan masyarakat terhadap ketimpangan porsi kerja dengan gaji yang diterima.”

Di salah satu sudut alun-alun, tubuh beberapa orang berjanggut yang mengenakan jubah petinggi Dong’e menggigil hebat.

“Ketika Yang Mulia memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang tidak saya perbuat, saya berprasangka baik. Mungkin Yang Mulia tengah meneliti kebenaran berita yang diterima atau juga memastikan apakah kehebatannya menelisik tabiat orang dari tatapan mata masih manjur atau sudah mandul …”

Orang-orang tertawa tertahan. Cemenawcemenew menoleh ke belakang, memastikan Raja juga menganggapnya sebagai lelucon.

“Saya pun mengubah cara memerintah. Saya seolah tidak peduli terhadap praktik korupsi, membiarkan birokrasi berbelit-belit, membiarkan militer menindas rakyat dan polisi menguasai perjudian di pulau-pulau kecil, tidak menegur para petinggi yang menilap dana pemeliharaan pengairan …”

Orang-orang yang berbisik, menghasilkan gremengan.

“Para panglima dan prajurit yang gemar merazia petani yang kelelahan bekerja di ladang; Kementerian Arsip yang gagal melindungi rahasia warganya; harga gandum dan kurma naik diam-diam; Kementerian Pangan gemar membeli hasil kebun negara lain; tidak ada lagi imbauan untuk berhemat, menulis sastra, menenun, atau menyelenggarakan majelis petang; bahkan perlakuan khusus selalu diberikan kepada mereka yang punya banyak kuda dan unta.”

Keriuhan mulai tak terkendali.

“Dan … tahun ini, saya memetik hasilnya …”

Wajah Raja semringah. Para petinggi Kesavinaan Dong’e bersipandang, mengeriapkan kecemasan.

“Sejatinya,” Cemenawcemenew berdeham, “tahun lalu saya sudah beroleh kehormatan ini, dan tahun ini mestinya saya dihukum atas pembiaran yang saya lakukan ….”

Tawa pecah di alun-alun.

Raja tersenyum lebar sebelum mengambil alih podium. Ia mengangkat kedua tangan dan mengayunkannya ke bawah beberapa kali hingga suasana kembali hening.

“Anggap saja kita semua tidak mendengar kalimat terakhir savina Dong’e,” Raja melirik Cemenawcemenew sembari mengulum senyum, “hingga tidak ada alasan bagi Istana untuk menarik kembali hadiahnya.”

Suara tepuk tangan bergemuruh.

Bunyi terompet yang nyaring berpadu dengan dengung gong, tabuhan tamborin, senandung serunai, dan lengking simbal. Cemenawcemenew menerima ucapan selamat dari berbagai kalangan. Sementara para petinggi Dong’e digiring para prajurit ke penjara Istana sebelum menjalani persidangan Negara.

* * *

Redakanlah kegembiraan perihal terjawabnya sebuah teka-teki tentang bagaimana Cemenawcemenew menjadi perdana menteri sebab serta-merta tumbuh setangkai prasangka: Mungkin Seorang Raja di Negeri Hatnahatnareb belum pernah mendengar cerita ini.

Lubuklinggau, 2012–2022

Benny Arnas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *